Penulis             : Rhein Fathia
Penerbit         : Qanita
Cetakan          : Pertama, Februari 2013
Jumlah hal.     : 294 halaman
Saya membeli buku ini karena suka
dengan cerita Macaroon Love yang telah saya baca sebelumnya. Akhirnya saya
tertarik untuk membeli buku-buku yang memenangi Lomba Penulisan Romance Qanita.
Saya pun mendatangi salah satu toko buku di Bandung dan cukup kesulitan
menemukan rak buku yang memajang novel terbitan Qanita. Tapi syukurlah sambil
menikmati jajaran buku-buku di rak-raknya saya berhasil menemukan buku ini.
Membaca Seven Days, maka bagian Prelude
nya sungguh membuat kita bisa menebak alur ceritanya. Ya,  ide buku ini benar-benar umum dan sudah
banyak dituliskan dalam novel-novel lain. Cerita tentang persahabatan yang
berbeda jenis kelamin dan telah terjalin sejak kanak-kanak sudah tentu bukan
hal yang baru bagi para penikmat fiksi. Ditambah lagi kehadiran seorang kekasih
dari kedua sahabat tersebut. Ide yang sangat umum, pikirku. Pertanyaanya
adalah, “Kenapa karya ini berhasil menjadi juara pertama di lomba tersebut?”

Maka saya pun melanjutkan membacanya.
Harus saya akui antusiasme tokoh Nilam ketika menginjakkan kaki pertama kali di
Bali benar-benar terasa dari deskripsi yang dituangkan oleh penulis. Kita
seolah bisa ikut merasakan dan melihat melalui mata dan hati seorang Nilam.
Dengan ditemani Shen, sahabat Nilam sejak kecil, ia pun berpetualang di Pulau
Dewata itu. Kehadiran Shen-lah yang membuat petualangan itu semakin
menyenangkan.
Shen adalah sahabat Nilam sejak kecil.
Shen yang sangat efisien dan cenderung cepat dalam bertindak sebenarnya membuat
Nilam terkadang agak kepayahan. Shen-lah yang mengusulkan acara liburan ke
Bali. Shen-lah yang mengurus segala keperluan terkait liburan itu mulai dari
beli tiket, booking hotel, izin ke
mama bahkan izin ke Reza. Ya, Reza adalah kekasih Nilam selama 3 tahun
terakhir. Bahkan Reza baru saja melamar Nilam. Namun sampai keberangkatannya
untuk berlibur pun, Nilam masih belum memberi Reza jawaban. Ada yang terasa
mengganjal di batin Nilam.
Maka ketika petualangannya selama 7
hari bersama Shen, Nilam menemukan banyak hal baru. Selain karena ia baru
pertama kali datang ke Bali, tapi ia juga merasa ini seperti sebuah pengalaman
yang kelak akan sulit dia lakukan bersama Shen lagi jika ia sudah menikah
dengan Reza. Maka dengan semangat menggebu Nilam mengeksplorasi Bali. Menikmati
pemandangan alam, menemui lingkungan yang berbeda dari kota Jakarta karena
penduduk yang ramah dan lalu lintas yang teratur, hingga belajar menyembuhkan
ketakutannya pada anjing.
Namun selama 7 hari itu pula Nilam
bolak-balik mempertanyakan perasaannya pada Shen. Cintakah? Sayang bak saudara
kah? Apakah Shen mencintainya? Nilam kebingungan dengan sikap Shen yang
berubah-ubah. Kadang Shen terasa lebih perhatian, kadang biasa saja, dan bahkan
terkadang cuek. Ini mengganggu Nilam. Di lain pihak ia pun mempertanyakan
dirinya sendiri. Apakah dia sudah bertindak tidak setia pada Reza?
Di novel ini kita akan sibuk
menebak-nebak. Apa yang terjadi selanjutnya? Cintakah Nilam pada Shen? Cintakah
Shen pada Nilam? Siapa yang akan Nilam pilih? Ya, konflik seputar itu. Tapi di
samping itu, kita akan disuguhi deskripsi tempat-tempat wisata di Bali yang mungkin
bisa jadi referensi bagi yang belum pernah ke Bali atau ke tempat-tempat yang
ia sebutkan.
Dari segu sampul sih sudah menarik.
Ukurannya juga lebih ramah untuk dibawa ke mana-mana. Layout tulisannya pun
bagus dan tidak menyulitkan pembaca. Jadi, jika harus memberi nilai pada buku
ini dalam skala 1-10, maka saya
memberinya nilai 8
(^_^)
Oiya, kalau mau intip salah satu scene di dalam novel ini bisa di baca di sini.