“Bukankah
cinta memang harus diperjuangkan selagi dirimu bisa melakukannya?” (Hal. 85)


Penulis: Thiarany Putri
Penyunting: Hayatun
Nufus
Penata Letak: Melz
Pendesain sampul: Fahmi
Fauzi
Ilustrasi: freepik.com
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: viii + 278
halaman
ISBN: 978-602-74863-1-7
Natasha
tanpa Gabriel. Seperti ikan yang kehilangan air. Seperti bumi yang kehilangan
sinar matahari. Seperti manusia yang kehilangan oksigen. Seluruhnya rapuh dan
tak bermakna. Gabriel tanpa Natasha. Seperti musik tanpa nada. Seperti lagu
tanpa suara. Seperti alunan tanpa getar. Sepenuhnya sepi dan rumpang.
*
Sejak
kehadiran Gabriel Leander, tutor piano yang juga merupakan anak sahabat dari
mamanya, hidup Natasha Adelina berubah. Gabriel Leander membuatnya kembali
menemukan keceriaan yang telah lama hilang.
Ketika
cinta mulai tumbuh, kenyataan pahit muncul. Masa lalu Gabriel hadir kembali di
tengah mereka dan kenyataan lain yang lebih pahit lagi datang bagai tembok
penghalang cinta Natasha dan Gabriel.
***

“….
Belajar piano itu harus dari hati, begitu pun saat lo bermain dengan piano
tersebut, karena yang ngedengerin bukan cuma lo, tapi semua orang yang ada di
sekitar piano tersebut dimainin. Jadi, klo lo mainin nggak dari hati, percuma,
karena nada yang keluar nggak akan bisa dinikmati sama mereka yang
ngedengerin.” (Hal. 22-23)

Gabriel
adalah siswa SMU yang tengah menikmati masa putih abu-abu. Kepatuhan pada
ibunya  membuatnya bersedia menjadi tutor
Natasha. Ia mengajari gadis itu bermain piano. Natasha adalah putri dari
sahabat orangtua Gabriel. Ini semakin menyulitkannya untuk menolak mengajari
Natasha.
Pertemuan
pertama mereka berlangsung kurang baik. Impresi pertama Gabriel pada Natasha
adalah Natasha gadis yang cerewet. Natasha juga cenderung memaksakan
kehendaknya. Sedangkan bagi Natasha, sejak pertemuan pertama ia sudah menyukai
Gabriel. Ini karena secara fisik Gabriel memang menarik. Sayangnya Gabriel
selalu bersikap dingin pada Natasha.
Kebersamaan
mereka membuat hubungan keduanya berubah. Gabriel mulai menyukai Natasha.
Sedangkan Natasha yang sejak awal menyukai Gabriel sering dibuat bingung oleh
sikap cowok itu. Gabriel kadang bersikap hangat namun di waktu tertentu juga
kadang bersikap dingin. Kehadiran Rei, cowok yang menolong Natasha saat pingsan
memperumit keadaan. Kemudian kehadiran sosok yang mirip Hanna, cinta pertama
Gabriel, ikut memperkeruh keadaan. Bukankah Hanna sudah meninggal? Siapa gadis
itu?
Dan
satu hal penting. Natasha menyembunyikan sesuatu dari Gabriel. Hal yang jadi
penghalang utama kebersamaan mereka. Bisakah cinta mereka bersatu? Adakah masa
depan bagi hubungan Gabriel dan Natasha?

***

“…
tim yang hebat selalu didasari oleh kerja sama tim yang kompak.” (Hal. 200)

Novel
ini adalah naskah yang sebelumnya telah dipublikasi di Wattpad dan di sampul novel ada label “Telah dibaca lebih dari 1 juta
kali di wattpad”
. Tagline novelnya pun menarik. “Percayalah, kelak kau akan
menemukanku di salah satu tangga nada itu”.
Saat
mulai membaca novel ini, saya pun tahu bahwa kisah ini diperuntukkan bagi
remaja. Tokoh Gabriel yang duduk di kelas dua belas dan Natasha yang duduk di
kelas sepuluh dan kisah percintaan yang melingkupi keduanya menjadikan novel
ini sah sebagai novel remaja.
Premis
novel ini menarik. Hubungan percintaan yang tidak mudah antara Gabriel dan
Natasha. Kisah tentang Hanna, cinta pertama Gabriel yang ternyata adalah tutor
piano Natasha sebelumnya membuat cerita ini jadi menarik.
Namun
ada beberapa hal yang terasa masih kurang. Pertama, novel ini terlalu banyak telling. Terlalu sering menggunakan kata
tampan, menarik, dan sebagainya. Kurang deskripsi. Bukankah saat ingin
menggambar ketampanan, bisa mengeksplorasi fisik tokohnya. Bukan dengan lugas
mengatakannya “tampan”. Ini membuat imajinasi pembaca tidak terbangun baik.
Bukankah ketampanan itu relatif dan luas kriterianya?
Kedua,
ada beberapa logika cerita yang kurang matang. Contoh, jika memang orang tua
Gabriel dan Natasha sudah lama saling kenal, bahkan di halaman 12 tertulis, “Gabriel memang sudah mengenal Tante Reta
sejak ia kecil,…”
rasanya tidak masuk akal jika ia tidak tahu bahwa Tante
Reta memiliki anak bernama Natasha. Masa mereka tidak pernah bertemu meski
hanya sekali. Apalagi orang tua mereka bersahabat. Biasanya orang yang
bersahabat cenderung berharap anak-anak mereka juga bisa berteman baik.
Selain
itu, persoalan terakhir yang diselesaikan oleh Rei dan Gabriel tergolong serius
namun kesannya diselesaikan buru-buru. Terlalu mudah. Kehadiran Cindy dan
kawan-kawan yang sempat mem-bully
Natasha juga membuat masalah ini terkesan terlalu mudah diselesaikan. Semudah
itukah Cindy percaya? Semudah itu kah kejahatan yang melibatkan Hanna dan
Natasha terselesaikan? Kondisi ini menganggu. Lagi pula bagaimana mungkin Hanna
dan Natasha satu sekolah jika kejadian itu terjadi satu tahun sebelumnya yang
berarti Natasha kelas sembilan dan Hanna kelas sebelas?
Tapi
di luar kekurang itu, novel ini cukup enak dibaca. Tulisannya mengalir. Bahasa
dan bahasannya ringan. Bisa jadi bacaan pengisi waktu luang bagi remaja.