“Cinta
mungkin mudah diucapkan ketika berumur belasan. Makin dewasa, cinta makin butuh
alasan dan pembenaran.” (Hal. 128)


Penulis: Tia Widiana
Desain sampul: Marcel
A.W
Penerbit: Gramedia
Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 248
halaman
ISBN: 978-602-03-2050-2
Sebagai
penulis novel thriller, orang kerap menyangka isi kepala Inge hanya seputar urusan
pembunuhan. Terlebih lagi sikapnya yang pendiam dan lebih banyak mengurung diri
di kamar.
Namun
di mata Alan, Inge semanis penulis romance. Inge teman yang menyenangkan dalam
segala hal. Alan dengan mudah dapat membayangkan Inge menjadi perempuan yang
ingin ia nikahi, bukan Rubby … perempuan yang selama ini berstatus kekasih
Alan.
Alan
mewakili segala yang Inge inginkan dalam hidup. Kecuali satu hal… Inge tidak
ingin mengulangi hal yang membuat hatinya terluka bertahun – tahun. Inge tidak
mau Alan meninggalkan Ruby demi bersama dirinya.
Sebagai
penulis, Inge selalu tahu bagaimana cerita yang ditulisnya akan berakhir. Tapi
untuk kali ini, Inge tidak tahu bagaimana akhir kisahnya dengan Alan….
***

“….
Orang yang meninggalkan kita begitu saja tanpa meninggalkan alasan, tanpa mau
mendengar penjelasan apa pun, tak pantas ditunggu. …” (Hal. 160)

Inge
adalah seorang penulis novel horor dan misteri. Ia tinggal sendirian di sebuah
rumah yang terletak di daerah Sentul, Kabupaten Bogor. Rumah itu adalah rumah
yang seharusnya ia tinggali bersama ayahnya. Sayangnya ayahnya sudah lebih dulu
berpulang sebelum sempat menempati rumah tersebut.
Inge
yang tertutup dan lebih suka menyendiri merasa hidupnya baik – baik saja. Sampai
sang ibu muncul di depan pintu rumahnya. Mengetuk hati Inge demi sebuah maaf.
Hal yang tidak mampu diberi Inge.

Kemudian
di saat yang sama muncullah Alan yang memberinya rasa aman. Alan yang membuat
hidup Inge lebih meriah. Ia yang sudah lama tidak merasakan hubungan percintaan
merasa bahwa apa yang ia miliki bersama Alan itu indah.
Sampai
suatu hari ia mengetahui bahwa kehadirannya telah meminggirkan kehadiran Ruby,
perempuan yang sudah menjadi kekasih Alan selama delapan tahun. Hal yang tidak
pernah Ruby bayangkan. 
Seketika
semua masalah itu membuat hidup Inge penuh duka. Nurani, perasaan, dan pikiran
Inge berperang tentang hubungannya dengan sang ibu dan hubungannya dengan Alan.
Apa
keputusan Inge? Akankah ia memilih melarikan diri dan melupakan semuanya? Atau ia
melangkah maju dengan berani demi perasaannya pada Alan? Tanpa peduli tentang
hati lain yang terluka?

“Hanya
karena berjauhan, tidak berarti dia melupakanmu. Distance makes the heart grows
fonder” (Hal. 161)

***

“Karena
itulah gunanya komitmen, Nia. Agar orang bertahan, dan tidak serta-merta lari
tunggang – langgang mengejar sesuatu yang mereka kira kebahagiaan.” (Hal. 166)

Pure romance.
Itu adalah sesuatu yang bisa mendifiniskan cerita yang ditulis Tia Widiana ini.
Dengan berfokus pada kehidupan Inge, penulis menghadirkan kisah percintaan yang
dibalut oleh kekecewaan masa lalu.
Hubungan
Inge dengan ibunya menjadi salah satu trigger
konflik Inge dan Alan. Masa lalu, penerimaan, pemaafan akan menjadi salah satu
warna dalam cerita ini. 
Cerita
tidak begitu terkesan berputar – putar pada masalah yang sama karena bab – bab
akhir memunculkan sosok baru, Metha. Tokoh ini masuk di waktu yang tepat dan
memberi warna baru dan mengundang rasa penasaran yang baru.
Penggunaan
sudut pandang orang ketiga dalam menuliskan novel ini membuat cerita bisa
dituturkan dengan rapi dan menarik. Kisah dari sisi Alan dan Inge saling
mengisi.
Selain
itu, informasi yang disampaikan di dalam cerita tentang kehidupan seorang
penulis melalui cerita tentang kehidupan sehari – hari Inge sebagai fulltime writer dan juga hubungan Inge
dengan Hera, editornya, pun menjadi suguhan yang menarik.
Nice
book. Benar – benar kisah yang manis.

“Hidup
terlalu pendek kalau hanya dihabiskan untuk menderita dan menyesal. Apa
salahnya mengejar kebahagiaan?” (Hal. 166)

***
Puisi
yang terinspirasi novel Sincerely Yours
Aku pernah terluka di masa
lalu
Oleh ia yang kucinta sepenuh hati
Ia membuatku meragukan setia

Dan kini kau datang
Menawarkan kisah yang kupikir hanya tentangku saja
Dan ternyata aku salah

Lantas bisakah aku terima,
Jika kau menggugah luka lama yang belum mampu kuberi maaf
Memaksaku menghadapi kemarahan yang kusimpan sangat lama

Menghadapimu membuatku harus mengahadapi mimpi buruk itu


***

“Hanya
orang yang kamu cintai yang bisa menyakitimu…” (Hal. 208)

“Kata
– kata hanya akan mengecilkan kejadian yang sebenarnya” (Hal. 214)