Penulis: Kei Larasati
& Vanny PN
Penerbit: PlotPoint
Publishing
Cetakan: Pertama,
Juni 2013
Jumlah hal.: viii +
221 halaman
ISBN:
978-602-9481-37-2
Saat waktu akhir
mendekat, hidup terlihat seperti jalinan garis-garis yag kutorehkan di buku
sketsa milikku. Serapuh helai kerta yang bisa kuremukkan saat garis-garis yang
gagal tak bisa dihapus lagi. Aku sadar, keinginan hati tak bisa dibohongi. –Tio
Ketika ada cinta yang
tulus memilihku, aku tetap tidak kuasa untuk tidak mengejar cinta yang kupilih.
–Rena
Aku pikir hidupku akan
sempurna bersama Tia. Kenapa Tuhan menciptakan akhir? Menciptakan sakit yang
tak bisa diobati. –Dru
Aku menunggumu.
Selalu. – Martin
Ini adalah kisah
tentang ketulusan. Dalam persahabatan dan dalam cinta. Saat waktu tak berpihak
padamu, sejauh mana ketulusan akan membawamu.
***
Sebuah cerita tentang
persahabata, cinta, dan pilihan. Siapa yang menduga bahwas sebuah penyakit akan
membawa hubungan di antara keempat tokoh ini menjadi rumit. Memaksa mereka
membuat pilihan dan menghadapi kenyataan.
Tio Anata seorang design 
director
di Ruang Desain,
usaha yang dia bangun bersama sahabatnya, Martin. Hidup Tio seketika berubah
saat vonis dari dokter ia terima. Ia menderita Leukimia Mielositik Akut. Dokter
berkata bahwa waktunya hanya tinggal 2-5 tahun lagi. Sejujurnya, ia sudah
menduga hal itu. Mengingat ibunya pun meninggal karena kanker. Awalnya Tio
menghadapinya dengan menutup diri. Ia memutuskan pertunangannya dengan Dru.

Dru, perempuan yang dengan setia
mencintai Tio. Bertahun-tahun Dru bersabar di sisi Tio dan berusaha selalu ada
untuk laki-laki itu. Laki-laki yang ia cintai sepenuh hati. Laki-laki yang
membuatnya tidak bisa memandang pria lain yang lebih tampan sekalipun.  Namun, saat Tio memberitahunya mengenai
penyakit Leukimia yang ia terima, Dru kembali bertanya-tanya. Sikap Tio yang
memintanya memilih untuk mengakhiri pertunangan apakah didasari oleh
keengganannya menjadi beban dalam hidup Dru, ataukah karena Tio belum mampu
melupakan perempuan itu? Perempuan bernama Rena yang memberi Tio sebuah buku
sketsa yang hingga kini masih dipakai oleh Tio. Tidak peduli meskipun Dru telah
memberi Tio buku sketsa yang baru, tetap saja pria itu memilih menggunakan buku
pemberian Rena yang sudah usang.
Di lain pihak, Martin terus menyimpan
perasaan khusus kepada Dru. Ia terus menyembunyikan keinginannya untuk bisa
menjadi pria beruntung yang dicintai Dru. Hingga ia mengetahui penyakit Tio dan
mulai menyadari apa yang selama ini dirasakan Dru saat bersama Tio. Ia jadi
tahu bahwa hubungan antara Dru dan Tio dihantui bayangan Rena. Namun tegakah
Martin berharap Tio segera pergi dari dunia ini agar ia bisa memiliki Dru?
Akankah Martin mengambil kesempatan untuk memiliki Dru di saat pertunangan Dru
dan Tio kandas?
Rena yang datang dari London
setelah meninggal Indonesia cukup lama akhirnya pulang. Pulang untuk mengadakan
pameran tunggal. Namun kepulangannya ke Indonesia bukanlah hal yang ia
inginkan. Masih ada mimpi yang terus ia kejar di London. Dan masih ada cinta
yang harus dia kejar dan pertahankan di sana. Ia pun menyadari bahwa
kedatangannya ke Indonesia seolah menjadi masalah yang semakin memisahkan Dru
dan Tio.
Bagaimana hubungan Dru dan Tio?
Akankah Tio menyadari betapa cinta yang diberi Dru cukup untuk mereka berdua?
Bisakah Tio melihat semua pengorbanan Dru? Apakah Tio akhirnya mampu mencintai
Dru? Atau ia berhasil meraih hati Rena?
Bagaiaman dengan sisa waktu yang
dimiliki Tio? Berhasilkah ia melawan penyakitnya? Mampukah Martin menjadi
sandaran bagi Dru? Siapkah Dru melepaskan Tio yang sudah bertahun-tahun ia
cintai? Semua pertanyaan ini akan terjawab dengan membaca bukunya.
Konflik yang disajikan dalam
novel ini cukup standar sih. Sudah banyak yang menggunakan cerita cinta segi
empat ini. Dan sejujurnya ending cerita bisa ditebak. Yang berbeda adalah
kompleksitas yang disajikan dengan membuat tokoh utama pria menderita sakit
kanker. Dan satu hal lagi yang menjadi kekuatan buku ini yakni prolognya.
Karena prolog novelnyalah saya terus berusaha mengejar akhir buku ini.
Bertanya-tanya siapakah sang nenek?? Dan siapa pria yang ia kenang dengan
memandang langit.
Hm..jika harus memberi nilai
untuk novel ini dalam skala 1 – 10, maka saya memberinya nilai 8 karena
didukung oleh sampul dan blurb yang
menarik.