“Baginya
setiap orang mempunyai harapan, yang berubah menjadi tujuan hidup, dan
membuatnya bertahan hidup” (hal. 229)

Penulis: Jason Abdul
Penyunting: J Fisca
Penata Letak: Tri Indah Marty
Penyelaras akhir: Dyah Utami
Desainer Sampul: Dwi Anisa Anindhika
Penerbit: Moka Media
Cetakan: pertama, 2014
Jumlah hal.: vi+258 halaman
ISBN: 979-795-815-9
“Akan kuberitahu siapa yang
kusukai.”

William, harus melawan kesedihan setelah kepergian sahabatnya ke Swiss.
Laura, berpikir kecantikannya bisa memberi segala yang tak bisa diberikan
keluarganya yang hidup sederhana.
Evan, berjuang melupakan masa lalu yang kelam saat hidup di jalanan.
Nana, belajar mengambil keputusan sulit untuk menyatukan kembali keluarganya
yang berantakan.

Empat remaja yang berusaha memahami diri sendiri serta arti mencintai keluarga.

Keempat-empatnya punya topeng yang ingin mereka lepaskan.
Keempat-empatnya punya rahasia yang ingin mereka bagi.

Sebab semua orang punya masa lalu. Dan mimpi

***
“Setiap
orang pasti punya kesalahan, kita hanya perlu memberi mereka kesempatan
memperbaiki.” (hal. 226)
Novel Song of
Will bercerita tentang William yang bersama sahabatnya, Ben, membesarkan grup
paduan suara mereka, Lumos. Namun saat Ben dan keluarganya pindah ke Swiss,
William keluar dari Lumos. Ini karena ia tidak ingin menjadi sumber perpecahan
dalam tubuh Lumos. Setelah itu, hidup Will menjadi datar saja. Tidak ada lagi
sahabat yang menemaninya. Tidak ada lagi jadwal latihan dan manggung untuk
bernyanyi dan tampil bersama Lumos.
Will sangat suka
menyanyi. Namun itu tidak membuatnya bertahan di Lumos karena rasanya Lumos
sudah berbeda. Kedatangan Evil, sahabat lamanya saat SMP kembali mengisi
hari-hari Will. Ada pula Laura, sahabat Will sejak kecil yang sangat playgirl
namun disayangi Will. Kemudian kemunculan Nana, perempuan kikuk yang pemalu dan
tertutup yang menjadi sekretarisnya dalam kepanitian pensi sekolah.
Hubungan di
antara Will, Laura, Nana, dan Evil berkembang menjadi hubungan cinta yang
rumit. Belum lagi setiap tokoh ini punya masalahnya masing-masing. Dan Will
menyimpan satu rahasia. Nana yang juga punya rahasianya sendiri. Evil yang
ingin lari dari masa lalunya. Dan Laura yang selalu terobsesi ingin menjadi
orang kaya.

Penulis berhasil
meramu cerita di dalam buku ini menjadi menarik untuk diikuti. Konfliknya khas
dunia anak muda. Tentang krisis identitas, impian, masalah keluarga, percintaan
dan persahabatan.  Semua masalah ini
porsinya sangat pas dan membuat pembaca bisa mengikutinya dengan mudah.
Secara keseluruhan
cara bercerita, konflik, dan penokohona di dalam novel ini sudah bagus. Hanya
saja bahasanya menurut saya terlalu formal dan serius untuk ukuran cerita
remaja. (^_^)v
Saya suka desain
sampulnya, meskipun saran saya aksen sampul depan yang bisa memanjang dibuat
saja menjadi dua sampul agar saat disampul tetap manis. Oiya, bentuk pembatas
bukunya sih biasa saja tapi desainnya saya suka, ini seperti merobek lapisan
pertama pembungkus sebuah benda (>_<)
pembatas buku Song of Will
Oiya, untuk
setiap awal paragraf pertamanya dibuat berbeda. Hal ini rasanya tidak perlu,
karena ini bagian langsung dari cerita. Kecuali ia adalah kutipan kalimat
tertentu yang dianggap kunci kisah di bab tersebut, baru dibuat seperti itu.
Hm..saya
menganugerahi 3 bintang untuk cerita ini. Bukunya berhasil saya tamatkan dalam
semalam dan rasanya bacaan ini enak untuk dinikmati (^_^)
“Memang
jujur lebih pahit, tetapi manisnya gula bisa membunuh semut” (hal. 120)
***
Quote
“Selalu saja ada alasan, selalu ada
kekurangan dari cowok. Kamu nggak akan menemui seseorang yang sempurna, Ra.”
(hal.16)
“Nggak ada orang yang sial, Na.”…”Yang ada
hanya orang yang menderita karena perbuatannya sendiri” (hal. 72)
“Perempuan berbeda dengan  lelaki. … .Mereka bisa lemah sekaligus
kuat. Mereka bisa cengeng sekaligus tabah. Mereka bisa terlalu pelan sekaligus
bisa mengerjakan berbagai hal dalam satu waktu. Mereka istimewa” (hal. 120)
 “Kamu
nggak perlu menyenangkan hati semua orang. Senangkan hati orang yang kamu
sayangi –temasuk dirimu sendiri” (hal. 164)
“Sukamu adalah dukamu yang dilepas
topengnya.” Quote by Kahlil Gibran (hal. 205)