“Monster.
Kutukan. Itulah yang menanti orang-orang yang penasaran, yang mengharapkan
emas, yang mengharapkan jawaban, yang begitu egois sampai tidak mendengarkan
kata-kata orang yang memperingati mereka. Ya, monster.” (Hal. 195)
Penulis: Alkadri
Penyunting: Dyah Utami
Penyelaras Akhir: J. Fisca
Perancang Sampul: Fahmi Fauzi
Ilustrasi Sampul: Fahmi Fauzi
Ilustrasi Naskah: Diani Apsari
Penata Letak: Tri Indah Marty
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah  hal.: vi + 238 halaman
ISBN: 979-795-910-4
Pada
zaman dahulu, hiduplah seorang kurcaci.
Ia tinggal di sebuah gua di dalam gunung.
Gunung yang menjulang tinggi melampaui langit.
Tubuhnya kecil, rupanya buruk, dan perangai pun kasar.
Namun, sang kurcaci memiliki sesuatu.
Sesuatu yang  diinginkan oleh segenap
manusia di kaki gunung.
Di suatu pagi, Alif menemukan sesosok mayat
yang tergeletak di lapangan sekolahnya. Kepalanya pecah berkeping-keping. Sejak
saat itulah, mimpi buruk alif dimulai. Satu persatu orang di sekitar Alif jatuh
menjadi korban, mati dalam kondisi mengenaskan tanpa diketahui penyebabnya.
Polisi mulai melakukan penyelidikan dan mencurigai keterlibatan Alif. Bersamaan
dengan itu, masa lalu Alif yang kelam datang untuk menghantuinya kembali.
Monster itu telah bangkit,
Dan ia takkan berhenti membunuh hingga manusia terakhir mati.
***
Rasanya hidup takkan mudah jika
dalam sebuah fase kehidupan, kita menjadi orang pertama yang menemukan jenazah
yang kondisinya sangat mengenaskan. Apatah lagi jika harus dialami
berturut-turut dalam kurun waktu yang berdekatan. Inilah yang dialami oleh
Alif.
Kejadian pertama
yang setelah itu menggunjang kehidupan Alif cukup keras adalah saat ia
menemukan satpam sekolahnya, Pak Jarwo, sudah tidak bernyawa dengan kondisi
mengerikan. Tanpa kepala. Awalnya Alif diyakini akan tergunjang menghadapi hal
ini. Namun ternyata ada sesuatu yang terjadi di masa lalu yang membuat Alif
mampu menghadapinya dengan tenang.
Namun kejadian
kedua yakni ditemukannya 2 sosok meninggal dengan kondisi nyaris serupa dengan
kondisi jenazah Pak Jarwo membuat suasana makin mencekam. Korbannya random. Sayangnya, lagi-lagi Alif
menjadi orang pertama yang menemukan jenazah tersebut. Namun saat itu, ada
sosok lain yang mulai dicurigai sebagai tersangka. Namun orang tersebut
menghilang secara mendadak. Ini semakin menguatkan dugaan.
Namun sebuah
insiden terjadi. Orang yang dicurigai tersebut meninggal. Dan kekacauan lebih
jauh terjadi karena Alif menjadi orang terakhir yang melihat orang tersebut
sebelum ia meninggal. Dan yang dilihat oleh Alif saat itu adalah monster
(>_<).
***
Ide yang digagas
oleh Alkadri tentang sebuah novel horor yang menjadikan dongeng Kurcaci yang
punya nuansa “dark” cukup menarik.
Menjadikan potongan dongeng-dongeng tersebut sebagai opening setiap bab memberi
nuansa yang berbeda. Ini karena (bagi saya pribadi) dongeng tentang kurcaci
tersebut tergolong baru. Apa ini dongeng asli atau karangan Alkadri juga??
*nunggu jawaban penulisnya sambil berharap review saya dibaca (^_^)v* Potongan
dongeng ini juga membuat pembaca penasaran tentang hubungan dongeng itu dengan
kisah kali ini. Dan belakangan bakalan ngomong “Oalah, itu toh hubungannya? Jadi
dongengnya beneran nih? Atau karangan Alkadri doang? (>_<)”

 Selain itu,
dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis mampu menyimpan
informasi dengan baik sehingga membuat pembaca penasaran. Penulis menuturkan
dengan detail hal-hal yang dialami oleh Alif namun juga mempertahankan cerita
masa lalu hingga akhirnya diketahui belakang saat Alif terlibat percakapan
dengan Rina, sahabatnya.

Selain itu,
hingga saat Alif melihat sosok “monster” itu saya tidak punya bayangan tentang
penyebab kematian seluruh korban tersebut. Ini membuat saya terus melanjutkan
membaca. Dan saat mengetahuinya, rasanya hm..jauh dari yang mampu saya duga. *tampaknya
imajinasi saya kurang (-_-“) *
Namun ada yang
terasa agak kurang di closing cerita.
Ada orang terdekat Alif yang meninggal. Namun sayangnya eksplorasi emosi di
moment ini terasa kurang. Apalagi secara emosi, pada part ini seolah terfokus
pada suasana tegang dan minim rasa bersalah dari pihak Alif. Padahal kalau iya,
kan berarti melemah. 😀 *nah..nah..kenapa kali ini imajinasi kamu ngelantur
kemana-mana, Tria*
Hm..harus saya
akui bahwa saya jarang membaca buku horor. Dan sedari awal saya malah salah
memprediksi. Tapi tetap aja ngebayangin darah-darah dan kondisi jenazah
korban-korban itu juga bikiiiiiin eeerrrr.. keukeuh nggak mau jadiin horor
sebagai genre favorit (-_-“)
Tapi tulisan
Alkadri ini cukup menarik dan intinya mampu menyimpan kunci penting cerita
hingga akhir. Terutama saat menyadari bahwa hubungan prolog dengan seluruh cerita baru benar-benar
terjawab di bab-bab terakhir buku ini. Good job (^_^)9
*Hm..mau
bilang ditunggu karya selanjutnya..tapi..ya diriku bukan pembaca buku horor
(-_-“)* 


puisi yang terinspirasi oleh novel Spora