Penulis : Cynthia Febrina
Penerbit : PlotPoint Publishing
Cetakan : Pertama, Mei 2013
Jumlah hal.: 171 + viii
ISBN : 978-602-9481-36-5
Buku ini sudah
membuat saya tertarik beberapa kali di toko buku dan akhirnya saya pun membeli
buku ini pada bulan Agustus berbekal THR yang saya dapat dari keluarga. Saya
tertarik dengan covernya yang menarik. Selain itu saya merasa bahwa cerita ini
terasa lebih akrab oleh saya karena saya pribadi pun pernah mengalami
perjalanan menggunakan kereta ekonomi dan Commuter Line.
Buku ini
mengambil sudut pandang orang pertama namun dalam kacamata dua orang tokoh
utama yakni Adinda dan Ryan. Keduanya punya latar belakang yang berbeda. Adinda
adalah pendatang baru dalam “Survival di dunia perkeretaan” sedangkan Ryan
adalah “anak kereta” sejati.

Adinda orang
yang kesulitan menikmati perjuangan yang harus dia lakukan setiap hari untuk ke
kantor menggunakan kereta. Ia lebih suka menggunakan Commuter Line daripada
kereta ekonomi. Ia tidak tahan jika harus menghadapi suasana di kereta ekonomi
yang penuh sesak dan dengan berbagai semerbak bau-bauan yang menyeruak di
dalamnya. Apalagi kegiatan naik kereta ini baru sebulan dia jalani karena tidak
ada lagi Rangga yang mengantar jemputnya setiap hari. Rangga adalah mantan
pacar sekaligus mantan tunangannya. Kondisi ini jelas semakin memberatkan
Adinda untuk menikmati setiap fragmen yang terjadi di depan matanya saat berada
di stasiun ataupun kereta.
Berbeda dengan
Adinda, Ryan sudah bertahun-tahun menggunakan kereta. Ia bahkan sudah akrab
dengan stasiun kereta Bogor sejak ia kecil. Kita akan tahu bahwa cerita hidup
Ryan tidak bisa dari dilepaskan dari stasiun dan kereta api. Salah satu kisah
pilu hidupnya pun berlatarkan stasiun Bogor. Ryan pun sudah kenal akrab dengan
sejumlah orang yang mencari penghidupan di sekitar stasiun tersebut. Hingga suatu
hari salah satu orang yang ia kenal dan sudah akrab bak sahabat berpulang. Dan
sebelum meninggal orang tersebut memintanya mengejar kebahagiaannya. Ini
mungkin ada hubungannya dengan status jomblo yang sudah lama ia sandang.
Padahal di usianya sudah banyak teman-teman yang sudah menikah dan punya
momongan, sedangkan ia punya pacara saja tidak.
Kehidupan kedua
orang ini bertemu di stasiun Bogor. Bertemu dengan tidak sengaja atau bahkan
pertemuan keduanya sudah di atur oleh Tuhan di waktu yang tepat. Lantas akankah
Ryan akan menjadi pengobat kekecewaan Adinda atas cintanya yang kandas?
Jujur buku ini
menurut saya sangat menarik. Ada banyak fragmen kehidupan yang disajikan dengan
sangat real dan bahkan mungkin saja pernah kita alami. Latar tempat dan
suasananya yang sangat “membumi” pun membuat novel ini semakin enak dibaca. Jempol
buat penulisnya.
Kalau harus
memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-10, maka saya akan memberinya nilai
8. Karena ceritanya yang saya sukai, cover dan pembatas bukunya pun unik (^_^)v