“Membuat
prioritas itu menyakitkan, menyadarkannya bahwa waktunya tinggal sedikit, dan
bahwa ada hal – hal yang takkan sempat ia lakukan.”(Hal. 148)

Penulis: Lisa Genova
Penerjemah: Anindita
Prabuningrum
Editor: Yuki Anggia
Putri
Desainer Sampul: Yudi
Nur Riyadi
Penerbit: Erlangga
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: vii + 300
halaman
ISBN: 978-602-7596-92-4
Berkat
kerjakerasnya, Alice Howland memiliki kehidupan yang membanggakan. Pada usianya
yang kelima puluh, ia memiliki karier yang cemerlang sebagai profesor psikologi
kognitif di Harvard sekaligus ahli linguistik terkemuka. Ia juga memiliki suami
yang sukse dan tiga anak yang sudah dewasa. Namun, berawal dari satu hari di
mana ia tiba – tiba menjadi pelupa dan mengalami disorientasi, hubungannya
dengan keluarganya dan dunia berangsung berubah. Akhirnya penyakit Alzheimer
mengubah hidup Alice selamanya.
Novel
ini telah diangkat ke layar lebar dengan bintang Julianne Moore, Alec Baldwin,
dan Kristen Stewart.
***

“Kata
“ingin” bagaikan hantaman telak bagi Alice. “Ingin”menunjukkan kelemahan dan
suka bergantung pada orang lain, sebuah penyakit.” (Hal. 25)

Alice
Howland tengah berada di puncak masa kejayaannya sebagai seorang profesor
psikologi kognitif di Harvard. Dengan jam terbang yang tinggi ia pun berpindah
dari satu kota ke kota lain mengisi seminar dan menjadi pembicara terkait
keahliannya. Rumah tangganya pun berjalan baik dengan seorang suami yang juga
bekerja di Harvard. Anak anak yang telah dewasa dan mulai mengembangkan
“sayap”nya masing-masing.
Namun
semua kehidupan yang awalnya baik baik saja dan bahkan terasa mengangumkan
berputar menempuh arah yang tidak diduga Alice. Saat ia merasa bahwa menurunnya
kemampuan mengingat yang dialaminya karena menopause
yang dideritanya. Namun karena kepikunannya terasa mengganggu maka Alice pun
mendatangi dokter dan memeriksakan diri.

Saat
hasil observasi menunjukkan bahwa Alice mengalami serangan dini Alzheimer, maka
seluruhnya berubah. Alice tidak bisa mencegah penyakit tersebut melahap semua
ingatannya satu persatu. Alice terpaksa melepaskan seluruh kelas yang ia ajar
karena penurunan kemampuannya dalam mengingat. Hingga akhirnya kehidupannya pun
ikut berubah.
Ia
harus menghadapi sikap anak – anaknya yang masih bingung memahami tentang
penyakit ini. Menanggung rasa bersalah karena menyadari bahwa ia mewariskan gen
yang membuat anak dan cucunya pun mempunyai potensi yang cukup besar untuk
mengalami serangan dini Alzheimer.
Lantas
bagaimana kehidupan Alice? Bagaimana orang – orang di sekitarnya menyikapi hal
ini?

“Ada
rentang jauh antara usia, pengetahuan, dan kekuasaan antara mahasiswa dan
dosen.”(Hal. 47)

***

“Siapa
ia sehingga dapat memohon bantuan Tuhan yang tak sepenuhnya diyakininya, di
sebuah gereja yang tak dikenalnya?” (Hal. 97)

Novel
Still Alice ini adalah sebuah karya yang mencoba mengetengahkan kehidupan
seorang penderita serangan dini Alzheimer. Selama ini Alzheimer menyerang
meraka yang sudah berusia lanjut. Menyerang mereka yang puncak produktivitasnya
sudah berlalu.
Lantas
bagaimana jika hal ini terjadi di saat seseorang berada di puncak masa
produktifnya? Di puncak kebanggaannya. Saat apa yang ia miliki membuatnya
merasa menjadi “someone”? Dan secara mendadak Alzheimer datang merampas hal itu
dengan mendadak.
Novel
ini dituturkan dengan menarik. Banyak pembahasan cerdas namun ditulis dengan
bahasa yang ringan.
Di
halaman 50 ada sebuah paragraf dengan topik yang menarik. “Sosialisme yang diperkuat oleh kapitalisme.”
Penjelasan singkatnya menampilkan hal menarik. Sebuah kontradiksi yang memang
muncul di masa sekarang.
Novel
ini pun benar – benar informatif. Pengenalan pada penyakit Alzheimer dibahas
dalam satu kalimat ringkas di halaman 73. Pemahaman umum yang dikemukakan oleh
Alice di dalam kepalanya menyajikan pemahaman umum yang diketahui oleh
masyarakat. Pengetahuan ini lambat laun akan dikembangkan dalam seluruh cerita.
Penjelasan tentang Alzheimer ini kemudian akan menjadi bagian penting dalam
novel ini.
Salah
satu penjelasan tentang Alzheimer yang membuat saya menemukan pemahaman baru
adalah paragraf yang ada di halaman 116 ini:

“Andaikan
ia mengidap kanker. Tanpa ragu ia rela menukar Alzheimer dengan kanker. Ia malu
berharap seperti itu, dan jelas tidak berguna, tetap ia tetap mengkhayalkannya.
Jika ia mengidap kanker, ia bisa berjuang dengan nyata. Menghadapi operasi,
radiasi dan kemoterapi. Ada peluang untuk menang. Keluarga dan koleganya di
Harvard akan berbaris di belakangnya dan mengganggapnya ksatria. Jika kalah
pun, ia bisa menatap mereka dan mengucapkan perpisahan sebelum kepergiannya.
Penyakit
Alzheimer adalah monster yang sungguh berbeda. Tidak ada senjata yang bisa
menumpasnya. …”

Di
sisi lain, novel ini juga menyentil tentang kelompok dukungan bagi pengidap
Alzheimer. Bagaimana kelompok dukungan pengidap Alzheimer malah tidak tersedia.
Kelompok dukungan bagi orang yang merawat pengidap Alzheimer memang perlu,
namun kenapa tidaka ada yang menganggap pengidap Alzheimer tidak membutuhkan kelompok
seperti ini? Apa karena pada akhirnya mereka akan melupakannya? (Hal. 211)
Wajar
jika akhirnya novel ini difilmkan. Hal yang berusaha disampaikan oleh Lisa
Genova ini layak disebarluaskan.
Oiya,
bahasanya yang ringan namun sangat informatif membuat saya bertanya – tanya.
Apakah memang gaya menulis penulis memang seperti ini (dalam bahasa aslinya) ataukah
ini karena penerjemahannya yang matang? Hm.. saya pikir, dua – duanya kali, ya?
Saya
suka buku ini. Dan covernya pun meski cover film tapi tetap menarik. Dan
sejujurnya saat membaca adegan saat Alice menyampaikan presentasinya dalam
Konferensi Peduli Dimensia yang dilaksanakan setelah ia terkena serangan dini
Alzheimer, saya diserang haru. Dan menangis. Membayangkan berada di posisi
Alice pasti tidak mudah.
www.erlangga.co.id