“Nyatanya, kadang kita
harus melakukan sesuatu yang kita benci untuk orang yang kita cintai.” (Hal.
89-90)


Penulis:
Ayuwidya
Penyunting: Hutami
Suryaningtyas & Dila Maretihaqsari
Perancang sampul:
Nocturvis
Ilustrasi isi: labusiam
Pemeriksa Aksara: Kiki
Riskita
Penata Aksara: Anik
Nurcahyati & Martin Buczer
Penerbit: Bentang
Pustaka
Cetakan: Pertama, Maret
2016
Jumlah hal.: vi + 304
halaman
ISBN: 978-602-291-138-8
Selama
menjadi artis terkenal, tantangan kali ini benar-benar mengusik Alana. Demi
menarik simpati pujaan hatinya, Alana menerima tantangan itu. Reality show
membuat kue! Di sinilah petaka dimulai. Alana bisa melakukan apa pun, kecuali
memasak! Kalau bukan karena Aidan, mana mungkin ia bersusah-susah melakukan
ini.
Ia
terpaksa berbohong di depan kamera, pura-pura mahir. Adonan menjijikkan, kue
bantat, dekorasi mengerikan adalah hasil karya Alana selama proses syuting.
Untungnya, ia bertemu Regan di kafe tempat mereka syuting. Alana takjub dengan
kemampuan Regan membuat kue. Karenanya, Alana membujuk Regan habis-habisan
untuk mengajarinya.
Meski
Regan galak dan menyebalkan, Alana terpaksa belajar darinya. Ia benci terlihat
bodoh di depan Regan. Dan, yang paling tidak disukai Alana adalah ia benci
harus menyangkal tunas-tunas perasaan yang tumbuh di hatinya, untuk Regan.
***

“Bagiku,
memasak adalah membahagiakan orang lain. Makanan yang enak bisa bikin bahagia.
Lebih dari itu, memasak adalah sebuah kejujuran.” (Hal. 89)

Pertemuan
pertama Regan dan Alana tidak bisa disebut sebagai pertemuan pertama yang
mengesankan dalam artian baik. Bagaimana tidak jika dipertemuan tersebut Alana
malah merusak acara ulang tahun Regan. Setelah itu, takdir terus mempertemukan
mereka.
Alana
yang tidak bisa memasak melakukan kebohongan besar dengan berpura-pura menjadi
sosok yang piawai memasak demi laki-laki yang disukainya, Aidan. Ini karena
Aidan mengakui bahwa ia menyukai perempuan yang senang membuat kue. Kebohongan
ini kemudian berbuntut malapetaka saat Alana “dijebak” untuk mengikuti reality show yang menantang para artis
untuk unjuk kepiawaian memasak.
Acara
reality show ini yang membuat Alana
akhirnya kembali bertemu dengan Regan. Saat mengetahui kepandaian Regan
memasak, tanpa peduli tentang latar belakang Regan yang penuh rahasia, Alana
memaksa Regan untuk menjadi “guru”nya. Demi Aidan ia akan rela melakukan apapun
termasuk menghadapi kegalakan Regan saat mengajarinya.
Kebersamaan
ini malah membuat Alana dan Regan jadi dekat. Mereka merasa nyaman untuk
menjadi diri sendiri saat bersama. Hal yang jarang mereka alami akibat tuntutan
dari lingkungan masing-masing.
Lantas
bagaimana hubungan Alana dan Regan? Bagaimana perasaan Alana ke Aidan? Dan
terakhir, siapakah Regan sebenarnya?

“Makanlah
yang enak maka hidupmu akan baik-baik saja.” (Hal. 22)

***

“Yang
bilang perempuan terlihat paling cantik saat bangun tidur sesungguhnya gombal.”
(Hal. 65)

Saat
membaca bagian awal buku ini, saya bertanya-tanya. “Ini novel tentang dunia
makanan atau tentang fashion?” Ini
karena di bagian awal cerita deksripsi tokoh Alana sangat kental dengan aroma fashion. Ternyata ini karena profesi
Alana.
Selain
itu, adegan pertama dalam novel ini terasa sangat absurd. Seorang model sekelas
Alana rela berebut kue? Kenapa tidak mencoba membeli dari tempat lain saja?
Namun ini menjadi perkenalan pertama yang menarik. Sebab pembaca akan berkenalan
dengan sosok Regan dengan kesan yang menarik.
Keseluruhan
cerita dituturkan menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian
antara Regan dan Alana. Ini membuat banyak hal terkait hal pribadi mereka
terekspos kepada pembaca. Membantu pembaca membangun gambaran tentang tokoh
ini. Ini juga menampilkan sosok Alana dengan gaya yang sangat menarik.
Sekaligus membuat pembaca berspekulasi, apakah dunia entertainment memang seperti itu? Mana nyata dan mana rekayasa?
Sayangnya,
dari sudut pandang Regan terasa kurang maskulin. Di beberapa kesempatan, Regan
terlalu banyak mengedepankan perasaan. Hal yang berbeda dengan logika
laki-laki. Selain itu, pikiran-pikiran mendalam Regan dan cara ia berdialog
dengan dirinya sendiri terasa masih terlalu netral, kurang sentuhan
maskulinitas.
Untuk
konflik cerita, karena dituturkan dengan runut maka bisa dinikmati dengan mudah
oleh pembaca. Belum lagi sejumlah deskripsi yang menggelitik dalam adegan yang
dilakoni oleh tokohnya. Seperti saat Alana mengejar Regan di stasiun kereta.
Pikiran-pikiran yang berkelebat di kepala Alana yang dihubungkan dengan
pengalamannya sebagai aktris membuat hal itu terasa lucu. Ini membuat novel ini
tidak terasa membosankan saat dibaca.
Untuk
deskripsi, novel ini mampu menampilkan deksripsi yang pas untuk tempat dan
suasana. Penggambaran “Strawberry Garden Deli” terasa mudah untuk
diimajinasikan. Menyenangkan. Selain itu deskripsi tempat menyatu dengan baik
dalam cerita.
Kesan
yummyLit-nya pun amat terasa dengan
suguhan kepiawaian memasak Regan. Ditambah lagi dengan adanya selipan resep di
akhir novel. Resep dari berbagai kue yang jadi tantangan Alana saat mengikuti reality show tersebut menjadi nilai
tambah bagi novel ini.
***
Quote Favoritku

“Betapapun
berbakatnya kamu, orang-orang yang belajar akan mengalahkan kamu, dan orang
yang belajar paling banyak akan menjadi pemenangnya.” (Hal. 196)

Ini
adalah pesan yang disampaikan ayahnya Regan kepada Regan. Ia ingin mengingatkan
bahwa boleh saja seseorang mengejar passion-nya,
namun akan lebih baik jika dibarengi dengan pendidikan formal. Karena di masa
kini banyak tantangan yang harus dihadapi. Sehingga bagaimanapun, pendidikan
formal tetap tidak bisa diabaikan begitu saja.
***
Kumpulan Quote
“Ketika
kamu bebas melakukan hal yag kamu suka untuk dirimu sendiri, itulah kejujuran.”
(Hal. 89)
“Perempuan
yang menangis itu membuat laki-laki yang berada di sekitarnya lebih depresi
seribu kali.” (Hal. 108)
“Regan,
segala sesuatu yang terjadi pada kita karena sebuah alasan … dan sesuatu itu
pasti akan terjadi pada waktunya. Kita tidak bisa memperlambat atau
mempercepatnya.” (Hal. 141)
“Kita
punya cara sendiri-sendiri untuk bertahan hidup tanpa orang yang kita cinti.
Sebagian orang bertahan dengan memori, sebagian lain justru terluka karena
memori. Jadi …, kurasa kita tidak bisa memvonis seseorang itu kuat atau lemah
berdasarkan caranya melupakan orang yang dicintai.” (Hal. 142)
“Menurutku
… sebagai perempuan yang setia … kalau memang dia setia … kalau memang
dia setia, seharusnya mendukung saat kamu jatuh begini, bukannya malah berniat
ninggalin kamu.” (Hal.145)
“Jadi,
misi hidupmu pergi dari satu kekacauan, mencari tempat yang damai, lalu ketika
kedamaian berubah jadi kekacauan, kamu pergi lagi?” (Hal. 147)
“Kami
saling menyayangi, hanya saja, kami tidak tahu cara untuk mengungkapkannya.”
(Hal. 194)
“Hidup
mudah sekali mengubah peran seseorang, padahal berganti peran tidak mudah.”
(Hal. 229-230)