Semangat pagi!!!

Numpang nge-share kebingungan..

Kemarin2 saya sibuk nonton berita tentang berbagai aksi ceremonia
Sumpah Pemuda. Mulai dari anak-anak di sekolah yang berada di dekat
lokasi prostitusi “diarahkan” untuk membuat Sumpah “Bertanah air satu,
tanah air bebas prostitusi” usianya aja masih 13 tahun, memangnya dia
paham? Sampai aksi di jalanan.

Jujur saya bingung, bagian mananya semangat Sumpah Pemuda yang ingin ditanamkan kembali? Dan kenapa harus muluk-muluk sih.

Saya membayangkan semua pemuda-pemudi Indonesia (termasuk yg sudah tdk
masuk kelompok itu namun tetap berjiwa muda) mau berjanji pada diri
sendiri untuk selalu menepati janji, maka akan banyak perubahan baik di
Indonesia ini.

“Ok, kita ketemu jam 8 di kampus”, itu janji
simple. Maknanya bukan pada kita sekedar ketemu, tapi juga datang sesuai
waktu yang dijanjikan. Yup, “tepat waktu” belum jadi budaya di
Indonesia. Semua org seolah tidak mengharagai waktu (bahkan waktu org
lain yang dia buat menunggu). Tapi ketika dia mulai merasa kehabisan
waktu, maka ia melanggar hak-hak org disekitarnya dengan:
(1) ngebut di jalan sampai ngotot mengejar lampu hijau hingga membahayakan pejalan kaki karena takut terlambat
(2)memotong antrian orang lain karena merasa ada urusan penting yang lebih mendesak
(3) pengendara motor menggunakan hak pejalan kaki, trotoar, demi menembus kemacetan

Bayangkan jika pemuda-pemudi ini mau ontime. Maka mereka akan belajar
untuk disiplin dan memanage waktu sehingga tidak ada lagi yang namanya
“terburu-buru” dalam bertindak.

Janji sesimple itu jika
dikerjakan dengan tekun dan dengan teguh hati serta penuh dedikasi bisa
membawa perubahan baik untuk negeri ini.

Ada yang mencoba
melakukan hal ini namun menyerah karena org2 di sekitarnya masih menolak
untuk tepat waktu dan tepat janji, maka saya mungkin bisa menjawab
bahwa “itulah tantangan dari janji kita. Tantangan para pemuda dulu
adalah bertaruh nyawa demi mewujudkan Sumpah mereka. Tapi kita?? Kita
hanya “diuji” dalam hal keteguh hati. Bukan darah apalagi nyawa”

Lagipula memang kebaikan yang berat itu bukanlah kebaikan yang besar,
melainkan kebaikan “kecil” namun konsisten. Yang beragama Islama mungkin
pernah dengar bahwa sebaik2 sunnah adalah yang ringan namun konsisten.
Itu karena Allah dan RasulNya tahu bahwa jadi orang yang konsisten amat
sulit.

Hm..itu sedikit ribut2 saya. Semoga bisa jadi renungan
dan kemudian jadi tindakan untuk saya dan pemuda serta orang-orang yang
masih berjiwa muda (^_^)

Itu saja kegalauan saya pagi ini. Permisi.
Selamat beraktivitas. Selamat memulai untuk menepati janji (^_^)
 
 
 P.S:

Maafkan kegalauan ini.
Saya
hanya ingin belajar dari sosok Kartini yang galau pada kondisi
lingkungannya, pada adat yang dianggapnya perlu diubah, pada hidup
rakyat di tanah yang ia cintai.

Ia mungkin berumur pendek tapi tulisa “galau”nya membuat dia “berumur panjang”.
Semoga
pemuda Indonesia pun bisa mencontoh ini dari beliau. Kita tidak pernah
tahu dampak sebuah tulisan, seperti Kartini yang tidak akan pernah tau
perubahan apa yang telah dibawa oleh tulisannya.

Bangkit
Indonesiaku. Bangkit pemuda Indonesia. Kritis dalam berfikir dan
bertindak. Termasuk keritis pada keputusan kita sendiri (^_^)

*maaf
saya memang bakat jadi provokator..jadi mohon maaf jika tulisan2 saya
dianggap terlalu berapi-api..silahkan membayangkan saya bicara
..aslinya……lebih berapi2..sampai2 hampir semua dosen saya disini
suka menyambar penutup saya dengan teriaka “Merdeka!”..ha..ha..*