“Walaupun
tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku
mencintaimu. Sepenuh hatiku.” (Hal. 429)


Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama,
Januari 2012
Jumlah hal.: 432
halaman
ISBN: 978-979-22-7813-2
Ini
kisah yang terjadi di bawah langit New York…
Tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan…
Tentang impian yang bertahan di antara keraguaan…
Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup.
Awalnya,
Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis itu–malaikat kegelapan yang
membuatnya cacat. Kemudian Mia Clark tertawa, dan Alex bertanya-tanya bagaimana
ia bisa berpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat
kegelapan.
Awalnya,
mata hitam yang menetapnya dengan tajam dan dingan itu membuat Mia gemetar
ketakutan dan berharap bumi menelannya detik itu juga. Kemudian Alex Hirano
tersenyum, dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras
sampai-sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.
***

“Bagaimanapun,
sesuatu yang sudah tidak asing pasti membuatmu merasa nyaman. Bukahkah begitu?”
(Hal. 114)

Novel
ini berkisah tentang Mia Clark dan Alex Hirano, dua orang yang memiliki
karakter yang berbeda dan menghadapi dunia dengan cara berbeda. Namun takdir
mempertemukan mereka dalam sebuah insiden yang berujung pada cederanya tangan
Alex dan Mia sebagai sosok yang bertanggung jawab atas insiden itu.
Cedera
ini berdampak besar bagi Alex. Sebab sebagai seorang pianis ia membutuhkan
tangannya, dan jika itu cedera maka itu berarti semua jadwal konsernya harus
dibatalkan dan mendadak hidupnya sunyi karena tidak bisa melakukan hal yang
sangat dicintainya, bermain piano. Inilah yang membuat ia sangat membenci Mia.
Ia menganggap perempuan itu telah merusak hidupnya, meski tidak disengaja.
Mia
yang dirundung rasa bersalah akhirnya datang untuk membantu Alex mengerjakan
pekerjaan yang tidak bisa dilakukan dengan satu tangan. Meski ditolak dan
diperlakukan dengan buruk oleh Alex, Mia tetap berusaha menebus kesalahan
tersebut.
Akhirnya,
mereka pun sering bersama karena Mia harus terus membantu Alex sampai tangan
laki-laki emosional itu sembuh sepenuhnya. Dan perlahan ada yang berubah di
tengah hubungan mereka. Namun di saat yang sama kenyataan pahit juga membayangi
hubungan keduanya. Kenyataan yang disembunyikan Mia.

“Dia
adalah bukti nyata bahwa kau tidak bisa menilai seseorang dari penampilannya
saja.” (190)

***

“Menurutnya,
yang namanya kesempatan itu tidak bisa dicari, tetapi harus diciptakan.” (Hal.
192)

Nama
besar seorang Ilana Tan membuat saya tertarik membaca novel ini. Dan harus saya
akui bahwa bagi pecinta cerita romance
apalagi pure romance akan menyukai
novel ini. Karena gaya berceritanya yang sangat mengalir. Momen-momen manis
yang diselipkan dalam cerita serta premis dan twist yang membuat kisah ini jadi semakin romantis.
Penulisannya
yang mengalir dan mengambil setting kota New York yang tidak satupun tokohnya
berasal dari Indonesia, membuat buku ini terasa seperti terjemahan. Menunjukkan
kekuatan Ilana Tan dalam menarik perhatian pembacanya. Membuat pembaca lupa
bahwa yang ia baca adalah karya penulis dalam negeri Indonesia.
Sayangnya,
ada beberapa hal yang masih kurang dieksplorasi. Pertama, kisah ini kurang detailing. Kenapa tidak menyebutkan nama
obat yang ditemukan Karl? Hanya menyebutnya sebagai obat yang diminum juga oleh
keluarganya yang memiliki penyakit tertentu. Kemudian tentang istilah-istilah
dalam dunia tari kontemporer. Gerakan tertentu yang disebut dengan apa. Detailing seperti ini akan menghidupkan
tokoh-tokohnya. Bahwa tokoh Mia Clark haruslah seorang penari, tidak bisa
profesi yang lain. Bahwa Alex Hirano haruslah pianis profesional. Tidak bisa
penulis atau profesi lainnya.
Tapi
di luar itu semua novel ini memang manis. Meskipun belum ada signaturemark yang membuat pembaca yang
bukan penggemar Ilana Tan seperti saya akan mengingat kisah di novel ini karena
mengasosiasikannya dengan ke-khasan tertentu.
Intinya,
novel ini adalah sebuah novel pure
romance
yang manis yang memanjakan imajinasi pembaca tentang romantisme.

“Seandainya.
… . Kata sederhana itu kini terasa memngerikan baginya. Karena kata itu
bertentangan dengan kenyataan. Karena kata itu merujuk pada mimpi yang tidak
akan tercapai.” (Hal. 319)

***

“Aku
sangat ahli menghindari perasaanku sendiri, kau tahu? Bagiku suatu perasaan
tidaklah nyata kalau aku menolak merasakannya. Perasaan itu tidaklah nyata
kalau aku menolak mengakuinya.” (Hal. 426)