“Kesedihan membuat seseorang tak lagi
menjadi dirinya sendiri, memikirkan terlalu banyak hal, dan akhirnya menjadi
sakit.” (hal. 105)
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Editor: Donna Widjajanto
Ilustrasi Cover: Eka Apriliawan
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Juni 2013
Jumlah hal.: 240 halaman
ISBN: 978-979-22-9640-2
Ada
surat panjang yang terlambat sampai.
Tanpa nama pengirim, dan hampir basah oleh tempias hujan.
*
Sejak kecil kita berdua merasa diri kita adalah alien-alien yang tersesat ke
Bumi.
Pria itu sudah melupakan seorang teman masa kecilnya saat sebundel amplop itu
sampai di beranda rumah.
Kalau kau perlu tahu, aku hanya punya satu macam mimpi. Aku ingin tinggal di
rumah sederhana dengan satu orang yang benar-benar tepat. Bila memang aku harus
mencurahkan seluruh perhatianku, kepada satu orang itulah hal itu akan
kulakukan.
Ia bahkan sudah melupakan mimpi-mimpi masa kecil mereka.
Berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan sejak kali pertama bertemu, aku telah
memilihmu dalam setiap doaku. Sesuatu yang tak pernah kauketahui bahkan hingga
hari ini. Dan bila kau suruh aku pergi begitu saja, di usiaku yang lebih dari
empat puluh ini, aku mungkin telah terlambat untuk mencari penggantimu.
Dan ia tak tahu teman masa kecilnya itu masih mencintainya.
*
Surat-surat itu menarik pria itu ke masa lalu.
Hingga ia tahu, semuanya sudah terlambat.
***

“Di punggung tiap pejalan pada masa lalu, kupikir mereka selalu
menggendong kehidupan –sama seperti kita. Mereka membawa segala hal yang
mungkin dapat membuat mereka ingat untuk kembali pulang.” (hal. 177)

Surat ini karena tanpa nama
pengirim membuat saya yang menerima surat tidak bisa mengembalikannya. Kemudian
karena gilaan saya pada bacaan, maka saya menjadi sangat penasaran dengan surat
yang sangat tebal ini. Membaca pengantar yang tertulis di kantor pos, bukannya
merasa malu karena sudah membaca apa yang mungkin bukan untuk saya. Namun rasa
penasaran berhasil mengalahkan sopan santun saya.
Akhirnya saya pun melanjutkan
membaca surat tersebut.

Membaca lembar transkrip yang
dibuat dari kepingan CD yang disertakan dalam surat tersebut, saya merasa bingung.
Tidak begitu paham apa yang disampaikan melalui semua deskripsi yang menurut
saya berantakan. Saya kemudian membaca cepat transkrip itu dan mulai membaca
surat pertama yang bertanggal 23 Juli 2008. Dari surat itu saya semakin yakin
bahwa surat itu salah alamat. Itu bukan untuk saya. Surat ini dialamatkan
kepada seorang pria yang sangat dicintai oleh penulis surat. Surat ini diawali
dengan penuturan sejumlah kenangan dan diikuti kemarahan terpendam penulis
surat atas undangan pernikahan yang dikirimkan oleh pria yang seharunya
menerima surat ini.
Ia marah karena akhirnya menyadari
bahwa penantiannya atas pria tersebut berakhir tidak seperti yang ia harapkan.
Pria itu jatuh cinta pada perempuan lain dan akan mempersunting perempuan lain
yang lebih hebat darinya. Calon istri pria itu adalah seorang penulis. Penulis
surat ini akhirnya mendatangi toko buku langganannya untuk mencari-cari karya
calon istri pria yang untuknya ia menulis surat ini. Pencariannya malah
berujung perkenalannya dengan sang pemilik toko.
Saat terus melanjutkan membaca
surat-surat ini, jauh di dalam hati saya berharap bahwa penulis ini bisa jatuh
cinta pada pemilik toko tersebut. Berhenti mengharapkan pria yang ingin ia
surati ini, yang sekarang entah ada di mana. Saya melonjak kegirangan saat
mengetahui penulis surat ini kemudian memiliki kekasih, meski saya juga
terheran-heran karena ia masih terus saja menulis surat.

“Tidakkah pertemuan dan perpisahan kita di dunia ini telah sebelumnya
direncanakan?” (hal. 190)

Dari surat-surat ini saya menyadari
ia menulisnya tidak terartur. Namun membaca surat ini saya jadi tahu banyak
kehidupan penulis surat. Meski sekali lagi, saya malu karena membaca surat yang
sesungguhnya tidak dialamatkan pada saya. Tapi sudahlah, saya sudah membaca
sejauh itu, untuk apa berhenti? Lanjutkan saja. “Tanggung!” pikir saya.
Namun di akhir saya jadi semakin
merasa bersalah. Saya telah benar-benar mengintip diary seorang perempuan yang
entah  bagaimana terus setia pada pria
yang bahkan tidak tahu tentang perasaannya. Pria yang untuknya ia menulis surat
ini. Dan akhir cerita membuat saya menahan haru. Kenapa harus setragis itu? Kenapa
seolah hidup tidak adil? Haruskah satu kehidupan menanggung kepedihan seperti
itu sepanjang hidupnya?
Selain itu, cerita yang dibagi oleh
penulis surat ini tentang ia dan ayahnya pun membuat rindu saya pada Papa
membuncah. Kedekatan saya dengan papa membuat saya bisa mengerti kesedihan yang
ia rasakan karena kepergian sang ayah. Papa saya masih hidup dan saya masih
bisa menyampaikan kepada beliau betapa saya mencintainya *dan memang saya
lakukan*.
Hm..membaca surat ini pun saya
menjadi berpikir banyak tentang kehidupan, tentang memaknai kehidupan. Tentang
menjalani hari dan tentang menjalani hidup sendirian.
Sejujurnya monolog dalam surat ini
biasanya berhasil membuat saya bosan dan mengantuk saat membacanya. Saya tidak
pernah begitu cocok membaca narasi panjang. Namun entah mengapa membaca surat
panjang ini saya malah berhasil mengikuti dan menikmatinya. Mungkin karena adrenalin
saya ikut berperan? Karena perasaan bersalah bahwa saya telah membaca surat
yang sebenarnya bukan untuk saya?
Entah kepada siapa saya harus
meneruskan surat ini. Lebih baik saya kirimkan saja kembali ke alamat yang
tertera di kartu pos. Sambil menulis surat permintaan maaf karena sudah lancang
membaca seluruh surat ini.
Sssstt..ini dosa yang melenakan.
Saya sudah berbuat tidak sopan karena melanggar privasi, tapi saya bersyukur
karena membaca surat panjang nan bermakna ini.
P.S: surat ini mungkin akan saya sertakan dalam pengakuan dosa saya
saat mengirim kembali surat ini ke alamat di kartu pos tersebut.
***
Kali ini saya kembali menikmati sebuah cerita yang dituturkan dalam
bentuk narasi. Ini adalah sebuah monolog. Percakapan satu arah yang datang dari
penulis. Lebih tepatnya penulis surat kepada cinta pertama sekaligus cinta yang
sepanjang hayat terus ia tunggu. Membaca surat ini membuat pembaca merasa
sebagai pihak yang dicintai oleh sang penulis surat. Itulah kenapa review ini
saya buat seperti menulis sebuah surat (^_^)

“Bukankah selalu ada bagian di dalam diri
setiap orang yang menginginkan kematian, tetapi pada waktu yang sama juga tak
menghendakinya?” (hal. 179)

***