“Kami
ditakdirkan untuk tidak bersama. Walau kami mungkin bisa saling cinta.”
(hal.38)

Penulis: Bernard Batubara
Editor: Siska Yuanita
Desain Cover: Marcel AW
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: April 2014
Jumlah hal.: 168 halaman
ISBN: 978-602-03-0413-7
 Ubud, 6 Oktober 2012

Ruth,

Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama,
bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama?

Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan.
Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan?

Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth?

JIka
memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk
menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya
sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman
pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang
untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin
kukatakan kepadamu.

Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.

– Areno

***
Novel ini adalah
sebuah novel yang isinya didominasi oleh narasi. Tokoh aku bermonolog tentang
semua hal terutama tentang kisah ia dan Ruth. Tokoh Aku bernama Areno Adamar
atau akrab disapa Are. Are dalam buku ini diceritana sedang menulis surat untuk
Ruth. Itu adalah cara ia belajar menerima keadaan bahwa ia tidak dapat bersama
dengan Ruth, perempuan yang dianggapnya memiliki kecantikan misterius.
Kecantikan yang membuatnya jatuh cinta.
Dalam novel ini
monolog tokoh Are akan membawa kita mengenal lebih jauh Are dan kisah cintanya
bersama Ruth. Pengalaman sebagai pihak yang dikhianati tidak membuatnya berhenti
percaya bahwa masih ada cinta di luar sana. Kemudian ia bertemu Ruth, perempuan
yang unik dan misterius. Ia jatuh cinta lagi.
Ruth sosok
sangat tetutup. Kemisteriusannya tidak membuat Are mundur. Meski Ruth tak
pernah berkata bahwa ia mencintai Are, namun ia yakin bahwa perasaanya
berbalas. Hingga suatu hari Ruth memutuskan mengakhiri hubungan mereka setelah
sebelumnya berkata bahwa ia menyayangi Are.
Dan surat itu
membuat kita menyelami hari-hari yang dilalui Are setelah Ruth pergi. Bagaimana
surat (yang kita intip isinya ini) menjadi media bagi Are untuk belajar
merelakan. Bagaimana akhir kisah Are dan Ruth?

“…,
apa pertanggungjawaban Tuhan yang telah menciptakan takdir? Apa yang ia lakukan
untuk menyembuhkan sepasang hati yang, karena takdir, tidak bisa bersama?
Apakah hikmah, jikapun ada, yang bisa Dia sampaikan kepada dua orang yang telah
jatuh terlalu dalam namun harus menerima takdir bahwa pada akhirnya mereka
harus berpisah?” (hal. 39)

***

“Cinta,
menurutku, adalah hasrat untuk memiliki. Sementara “sayang” adalah keinginan
untuk menjaga. Pada kondisi yang tak bisa kujelaskan, sayang berada pada
pengertian yang lebih serius daripada cinta. Cinta sesaat, sayang selamanya. Cinta
liar dan berapi-api, sayang tenang bagai air. Cinta menggebu-gebu, sayang
cenderung meredam” (hal. 26)

Saya bukanlah
penikmat novel narasi. Saya lebih suka dengan novel yang banyak dialognya.
Lebih suka mengenal karakter dalam buku melalui interaksinya pada sekitar. Tipe
bercerita di buku ini benar benar not my
cup of tea
. Jadi penilaian saya belum tentu fair.
Membaca buku ini
saya merasa bosan berkali-kali. Namun karena bertekad untuk menamatkannya maka
saya pun terus melanjutkan membaca dengan tempo yang berbeda-beda. Ada kalanya
saya menikmati kecepatan (tidak saya skip..tapi benar-benar membaca tanpa
memaknai). Hm..dibeberapa bagian cerita ini menarik diikuti, terutama ketika
bercerita tentang percakapan antara Are dan Ruth serta kenapa hubungan mereka
harus berakhir.
Oiya, syukurlah
endingnya cukup membekas bagi saya. Ini adalah akhir yang tidak terduga bagi
saya, namun entah mengapa saya jadi bingung, akhir cerita memang tak terduga
namun terasa tidak konsisten. Bagaimana mungkia ia bisa terus menulis dalam kondisi
seperti itu?
Ok, baiklah
tanpa berpanjang-panjang lagi, saya memberi buku ini dua bintang untuk ending
yang tak terduga dan cover yang manis. (^_^)v

“Pada
satu titik, cinta akan habis tergerus, dan yang tersisa adalah sayang” (Hal.
26)