“Kau
masih sangat muda, Emily. Mencintai satu lelaki dalam hidup adalah perbuatan
paling sia-sia, dan tidak akan kubiarkan kau melakukannya” (hal. 48)
Penulis: Adeliany Azfar
Penyunting: Yuli Yono
Design Cover: Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Proofreader: Dini Novita Sari
Penerbit: Haru
Cetakan: Pertama, Oktober 2014
Jumlah hal.: 360 halaman
ISBN: 978-6027742413
Bagi Emily Cox, naik ke grade 11 sama dengan
gejolak emosi yang tiada habisnya.
Matthew Coper, pacar sekaligus temannya
sejak kecil, memutuskan hubungan mereka.
Sementara Marion-Mary-Scott, sahabat dan tetangga sebelah rumahnya, terpaksa
pindah dari Sweet Home ke kota lain setelah ibunya menikah lagi.
Saat Emily menyangka kehidupan tidak bisa
lebih buruk lagi, puluhan pesawat kertas berisi curahan hati rahasia yang ia
terbangkan ke teras rumah sebelah, yang mestinya ditujukan kepada Mary, hilang
tiba-tiba!
Lalu muncullah Tyler Adams, tetangga baru
yang dengan seenaknya selalu merecokinya dan membuat hari-harinya semakin
menyebalkan.
Apa sih sebenarnya tujuan cowok itu?
***
Membaca cerita
ini akan membuat kenangan masa SMA kembali dipanggil di kepala. Memutarnya bak
sebuah layar tancap. Menghadirkan kisah kebimbangan dan juga cerita patah hati.
Ya, Emily mengalami patah hati pertamanya dengan kekasih pertamanya yang juga
sahabatnya sejak kecilnya, Matthew.
Pengalaman patah
hatinya ini menjadi semakin berat sebab sahabat baiknya Mary harus ikut bersama
orang tuanya pindah ke Calabasas. Rasa kehilangannya atas Mary sangat terasa
sebab selama ini Mary yang tinggal di sebelah rumahnya selalu bisa ia jadikan
tempat curahan hati kapan saja. Dan kini saat hatinya dirundung duka karena
Matt, Emily tidak bisa mengunjungi sahabatnya itu.
Masalah kian
runyam saat kamar yang selama ini di tempati Mary dihuni oleh Tyler yang akrab
disapa Ty. Ty yang selalu mencampuri urusan Emily membuat gadis itu sering kali
tersengat kesal. Terutama saat Ty menunjukkan minat yang terlalu besar pada
urusan patah hati Emily. Juga saat Ty yang malah memperkeruh suasana antara
Matt dan Emily. *Kalo jadi Emily, pasti Ty udah saya timpuk pakai
buku…hm..tapi sayang sih bukunya*
Tapi lama
kelamaan saya malah dibuat jatuh cinta pada sosok Tyler. Ty ini memang urakan,
tapi juga perhatian. Dia senang berbuat onar, namun ternyata itu bukan tanpa
alasan. Selain itu, rasanya hidup akan jadi berwarna jika punya teman seperti
Ty. Yang hidup mengkuti kata hati dan selalu menjadi teman berdebat yang
menyebalkan. Ha..ha.. lebih mudah jatuh cinta pada laki-laki yang  punya sikap dan pendapat pribadi daripada
pria yang selalu menuruti keinginan kita. *hm…ini pendapat pribadi aja sih 😀
silahkan diabaikan*

Trus rasanya yah
ingin menjitak kepala Emily yang masih galau dan masih mengharapkan Matt.
Lagian yah, kalau begitu dirinya sadar nggak punya teman, kenapa harus takut
membuat simpul pertemanan baru sih?! *ok, saya memang tipe perempuan perkasa*
Hm..intinya sih
kisah hidup Emily dalam novel itu sangat remaja. Tapi yang perlu saya acungi
jempol adalah karakter Emily yang tidak dibuat terlalu cengeng. Emily yang
orang tuanya sudah berpisah tidak membiarkan dirinya mendramatisir kondisi
dengan sibuk menyesali kondisi. Padahal bisa saja kan, saat galau dan menyesali
putusnya hubungan dia dengan Matt serta pindahnya Mary bisa ikut membawa
perasaan-perasaan mellow bahwa rasanya semakin berat karena tidak ada ibu yang
bisa ia tempati bercerita. Ia yang hanya tinggal dengan neneknya dan tinggal
terpisah dari ibu-ayah yang bercerai bisa saja mempersalahkan keadaan. Merasa
sendirian karena tidak ada teman bercerita. Tapi syukurlah di sini ini Emily
digambarkan sebagai remaja yang tegar. Ia berusaha menghadapi masalahnya
sendirian.
***
Novel Sweet Home
benar-benar sangat remaja. Konflik yang diangkat sangat remaja banget, tentang
ketertarikan pada lawan jenis, tentang keluarga, tentang persahabatan, dan
tentang menghadapi masalah.
Tokoh di dalam
novel ini juga dinamis. Mereka berkembang bersama masalah-masalahnya. Terutama
pada sosok Emily. Melaui Emily kita akan melihat satu contoh remaja yang tengah
belajar dewasa. Belajar menerima kondisi. Belajar mengambil keputusan
menghadapi konsekuensinya. Serta belajar menghadapi masalah sendirian. 
Buku ini bisa
jadi bacaan yang bagus untuk remaja (^_^)