“Kalau
kamu merasa bodoh, berarti kamu sedang melakukan hal yang benar.” (Hal. 157)


Penulis: Miranda
Malonka
Editor: Wienny Siska
Ilustrator: Orkha
Creative
Penerbit: Gramedia
Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 200
halaman
ISBN: 978-602-03-1525-6
Ada
surat-surat yang takkan pernah dikirim.
Ada
surat-surat yang telah dikirim dan
mungkin
tak pernah dibaca penerimanya.
Hidup
mengajari Sylvia tentang obsesi. Persahabatan mengajarinya tentang masalah. Dan
Sylvia yakin semua orang bisa diselamatkan dari masalah hidup mereka.
Hingga
ia bertemu dengan Anggara, yang mengajarinya tentang cinta yang melepaskan
ikatan. Dan untuk pertama kalinya Sylvia menyadari bahwa ia tidak bisa menjadi
penyelamat semua orang.
Terkadang
peraturan keselamatan tidak lagi berlaku ketika berkaitan dengan obsesi dan
cinta.
***

“Mungkin
orang paling masokistik di dunia adalah orang yang masih berani mencintai
walaupun hatinya tergores-gores dalam.” (Hal. 37)

Novel
ini bercerita tentang seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA. Ia tengah
jatuh cinta pada seseorang yang bahkan belum pernah ia sapa. Sylvia menuliskan
surat kepada sosok bernama Gara, cowok yang ia cintai. Surat ini ditulis bukan
untuk dikirimkan, melainkan untuk menampung perasaan dan berbagai pikiran yang
ingin Syliva bagi.
Daripada
menyebutnya surat, novel ini lebih cocok disebut sebagai jurnal seorang Sylvia.
Melalui surat ini kita akan melihat kehidupan Sylvia. Berkenalan dengan
sahabat-sahabat Sylvia: Scarlet, Andy dan Layla. Melalui surat ini kita juga
akan tahu masalah-masalah mereka.
Namun
selain surat-surat yang ditulis oleh Sylvia, akan ada juga surat lain yang
berhubungan dengan Sylvia. Bahkan ada surat dari Gara untuk Sylvia. Sayangnya,
di antara surat-surat ini ada sebuah masalah besar yang tersurat namun tidak
membesar. Hadir namun seolah diabaikan oleh Sylvia. Masalah apakah itu?
Mampukah Sylvia menyelesaikannya?

“Ya,
terinspirasi olehmu, memang. Tapi karya seni yang kubuat adalah karya yang
berdiri sendiri, dan bukan cuma berpedoman pada pengalamanmu, tapi juga semua
pengalaman yang kurasakan seumur hidup. Satu lukisan yang kubuat dalam satu
malam adalah hasil eksplorasi jiwaku sejak aku dilahirkan ke dunia ini. Dan
sifatnya selalu netral.” (Hal. 59)

***

“Kita
hidup di masa ketika batasan benar dan salah dikaburkan oleh perasaan dan
hormon. Perubahan emosional dari kanak-kanak ke remaja sangat membingungkan dan
menyakitkan.” (Hal. 74)

Jika
ada yang bertanya ini adalah novel dengan genre apa, maka jawabannya adalah sickLit. Ya,  karena sebenarnya tokoh Sylvia ini sedang
sakit. Namun karena ceritanya tidak berfokus pada apa yang terjadi di dirinya,
akhirnya “penyakit” ini tidak muncul ke permukaan namun mengambil peran
penting.
Sylvia
sakit, ia selalu merasa dirinya gemuk. Belum lagi cowok yang ditaksirnya adalah
cowok populer dengan penampilan sempuran. Ini semakin membuatnya tidak percaya
diri hingga akhirnya selalu berpikir bahwa dirinya gendut.
Tapi
di dalam novel ini, penyakit Sylvia ini ditutupi oleh banyak konflik lain.
Mulai dari Andy yang patah hati hingga bersikap jahat pada orang lain, hingga
Scarlet yang mencoba bunuh diri karena depresi menghadapi masalah yang terjadi
di keluarganya. Semua masalah sahabat-sahabatnya itu ia tuliskan dalam surat
yang dia tujukan untuk Gara.
Ya,
inilah yang menarik dari novel ini. Karena ia bukanlah cerita narasi dengan
adegan per adegan. Melainkan ditampilkan sebagai sebuah kumpulan surat yang
ditulis oleh Sylvia. Beberapa tokoh lainpun, suratnya ikut dimasukkan ke dalam
cerita. Termasuk diagnosis dokter. Ke seluruhan novel ini adalah kumpulan
surat-surat yang bercerita.
Selain
penyajiannya yang unik, konflik di dalam novel ini pun sangat dekat dengan
realitas remaja masa kini. Masalah yang tersembunyi di lipatan kenyataan namun
ia nyata. Ada. Seorang anak perempuan yang tidak percaya diri. Anak perempuan
yang hamil karena coba-coba melakukan hubungan seksual, anak perempuan yang
mencoba bunuh diri karena tidak tahan menghadapi kenyataan hidup.
Oiya,
sedikit mengingatkan jika buku ini akan dicetak ulang lagi. Di halaman 150,
akhir kalimatnya menggantung dan tidak ada kelanjutannya lagi.
Buku
ini termasuk buku remaja yang menarik dibaca. Dan cukup saya rekomendasikan
kepada pembaca remaja dan dewasa muda.
“Aku
percaya kita semua gila, namun kebanyakan orang begitu lihai menutupinya dengan
kehidupan sok serius atau puasa tertawa.” (Hal. 86)
***
Kumpulan Quote dalam Sylvia’s Letters
“Karena
hidup ini bukan ujian nasional. Kamu tidak perlu melakukan hal-hal tertentu
karena semua orang menganggapnya ‘benar’. Kamu kira kamu harus menuruti
standar-standar yang ada supaya bisa lulus jadi manusia normal. Padahal siapa
yang membuat standar ujian nasional itu? Pemerintah. Sama seperti hidupmu.
Siapa yang memberimu standar, hidup yang benar itu begini, yang salah itu
begini? Masyarakat. Kata siapa pendapat publik selalu benar?” (Hal. 88)
“Jadi
manusia bebas itu adalah menjadi diri sendiri dan tidak terbebani standar orang
lain, sekaligus menghormati makhluk lain dalam upaya mereka untuk jadi diri
mereka sendiri. Tidak mengusik, tidak diusik. Tak ada yang dirugikan.” (Hal.
89)
“Kadang,
lebih susah mencari tahu apa yang sebenarnya diri kita inginkan, daripada
mencari tahu apa yang orang lain inginkan dari kita.” (Hal. 91)
“Aku
memang berpendapat alangkah baiknya kita bersegera menemukan cinta sejati kita.
Dalam hal ini, cinta sejati bukan berarti cinta, tapi sesuatu, apa pun, yang
membuat kita rela menghabiskan seumur hidup untuknya.” (Hal. 92)
“…,
semua manusia akan bertemu jodohnya, yang akan hidup bersama mereka sumur
hidup. Tapi memiliki cinta sejati berupa hobi itu berbeda. Hal-hal seperti itu
membuatmu merasa hidup sepenuh-sepenuhnya. Kamu jadi punya harapan dan pegangan
yang tak bisa mematahkan hatimu atau berselingkuh darimu.” (Hal. 93)
“…,
sebetulnya semua orang di dunia ini gila, dalam level yang berbeda-beda. Tidak
ada yang sehat mental seratus persen, tidak dengan kehidupan di Bumi yang
carut-marut begini.” (Hal. 157)
“Kalau
sesuatu sifatnya merusak, maka tidak seharusnya kamu menganggapnya penting.”
(Hal. 162)