“Cukup
mengejutkan sebenarnya – kehidupan nyataku sendiri justru lebih bagus daripada
acara TV. Dan, apa sebenarnya yang telah kulakukan sehingga pantas
mendapatkannya? Hanya berdiam dan menikmati peran sebagai seorang ibu!” (Hal.
387)


Penulis: Stephanie
Stiles
Penerjemah: Ade
Kumalasari
Penyunting: Utti
Setiawati
Perancang sampul:
Wirastuti
Ilustrasi cover &
isi: iStock
Pemeriksa aksara:
Fitriana & Pritameani
Penata aksara: tsbb
Penerbit: Bentang
Pustaka
Cetakan: Pertama, April
2016
Jumlah hal: vi + 390
halaman
ISBN: 978-602-291-140-1
Wanita
karier, make-up sempurna, selalu tampil modis, tanpa bulu kaki, perfect!
Lupakan, lupakan, lupakan! Annie harus menyingkirkan sosok masa lalunya sebelum
Robby hadir di dunia ini. Mencukur bulu kaki? Boro-boro, bisa mandi dengan
tenang saja sudah sebuah anugerah di tengah kerepotan mengurus balita
superaktif kecintaannya. Ia butuh jeda.
Di
tengah-tengah masa merindukan “me time” itu, dua berita mengejutkan datang
bersamaan. Ia hamil lagi, dan suaminya di-PHK. Mengurus satu saja rasanya luar
biasa. Lalu, apa kabar biaya persalinan dan kebutuhan bayi serta balita? Badai
mana lagi yang lebih buruk dari ini?
Belum
lagi tahun ini Robby akan masuk preschool. Percayalah memilih sekolah untuk
anak, menghadapi politik sekolah, serta persaingan dengan anak dan ibu lainnya
di saat hamil itu, sungguh melelahkan!
***

“Mari
kita bersikap realistis: kehamilan adalah pernyataan publik bahwa kau telah
berhubungan seks – setidaknya sekali dan mungkin bahkan berkali-kali.” (Hal. 3)

Menjadi
perempuan hamil jelas bukan hal yang mudah. Pengaruh hormonal (menurut berbagai
hasil penelitian) membuat suasana hati ibu yang sedang hamil menjadi tidak
terkendali. Ada kecenderungan perempuan menjadi mudah terharu dan sedih.
Nah,
bagaimana jika kondisi kehamilan ini terjadi dalam situasi berikut: punya
balita berusia 3 tahun; dan suami yang baru saja “dicadangkan” akibat
kondisi perusahaan tempatnya bekerja mengalami krisis. Inilah yang dialami
Annie. Dan sekeras apapun ia berusaha untuk tenang dan tidak terpengaruh oleh
lingkungan yang mendadak terasa sangat menyebalkan dan muram, tetap saja ia
tidak bisa berhenti memikirkan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Akankah Alex, suaminya, bisa kembali bekerja di perusahaan tersebut? Atau ia sendiri yang harus kembali berkarir di luar rumah?
Di
tengah semua kemelut ini, Annie sebagai ibu rumah tangga biasa mengalami
masalah biasa. Ada tetangga yang senang mengkuliahi Annie tentang pengasuhan
anak. Ada ibu kandung yang modis dan selalu membuat semua hal terasa salah karena rangkaian protes dan celaan yang disampaikannya. Senstif tingkat dewa. 
Kemudian memiliki teman bercerita dan berbagi pengalaman terkait hal-hal
tertentu. Bergosip!!!
Sejak
awal kehamilan Annie selalu merasa bahwa kali ini akan menjadi masa kehamilan
yang berat. Ia kehilangan kepercayaan diri karena pertambahan berat badannya
yang meningkat pesat. Selera fashionnya yang tidak sebagus sahabatnya Jenn. Ibu
yang tanpa henti merecoki dan berkomentar tentang banyak hal terkait dirinya, rumah tangganya, dan teman-temannya.
Namun
tanpa ia sadari Annie dengan segala perlengkapannya sebagai seorang ibu dari
balita yang berusia 3 tahun malah membuatnya menolong banyak orang. Hal-hal
yang tidak terduga.
Apakah
kehidupan sebagai full time mother
dengan kondisi suami yang di-PHK, perut yang kian membuncit dan putra yang
mulai belajar meniru kosa kata akan semenarik kehidupan saat masih menjadi
perempuan kantoran dengan penampilan yang terawat dan tanpa seorang anak kecil
pun yang perlu diurusi?

“(Omong-omong,
empat puluh minggu itu sebenarnya 
sepuluh bulan, kan? Siapa pun yang berkata kehamilan berlangsung selama
sembilan bulan adalah pembohong kotor, nista, ehm, tukang tipu. Itulah
sebutannya.)” (Hal. 6)

***

“Dan,
kami ibu-ibu, yah, kami semua takut kalau tidak melakukan kontak sosial secara
teratur, kami akan jadi pendekam rumah yang mengerikan, memesan baju dari
katalog Fingerhut dan menimbun makanan kaleng di ruang bawah tanah.” (Hal. 8-9)

Menggunakan
sudut pandang orang pertama, penulis mengetengahkan cerita tentang suka duka
menjadi seorang ibu muda yang punya balita dan tengah menanti kehadiran anak
kedua. Seluruh cerita dituturkan sejak Annie menyadari dirinya hamil hingga
melahirkan.
Dalam
rentang sembilan bulan ini, Annie memulai hidupnya dengan membosankan. Menjadi
seorang yang sarkas dan sinis. Kecintaannya pada film Bewitched ikut mewarnai
hidupnya. Kemudian satu persatu hal menarik terjadi. Duncan, petugas TV kabel
yang karena Annie akhirnya menjadi tukang bunga. Kemudian ada Lucas, kekasih
Michael, yang terjebak oleh kasus hukum. Oiya, jangan lupakan pesta natal di
kantor lama Alex yang sering kali menjadi neraka.
Semua
dinamika dalam cerita ini lama kelamaan menjadi menarik. Alur ceritanya cukup
lambat. Dan semua pengetahuan tentang film yang dikemukakan oleh Annie menjadi
informasi yang menarik. Oiya, part favorit saya adalah saat Annie kembali ke
dunia hukum. Memakai baju yang elegan dan membela klien, meski hanya sekali dan dengan perut yang membuncit karena saat itu kehamilannya sudah menginjak trisemester ketiga.
Buku
ini berhasil mengetengahkan kehidupan ibu rumah tangga yang biasa saja yang
ternyata ketika dilihat melalui sudut pandang berbeda malah jadi terlihat luar
biasa.
Hanya
saja, karena alurnya yang lambat pembaca harus berhasil menaklukkan rasa bosan
saat membaca 1/3 awal cerita sebelum benar-benar menikmati cerita ini. Mungkin
karena budaya dan leluconnya sangat khas Amerika. Sehingga pembaca Indonesia seperti saya butuh berpikir dan kemudian menyadari itu sebagai percakapan kasual yang biasa muncul dalam kehidupan orang Amerika.

“Bagaimanapun,
pakaian adalah konsep sosial yang benar-benar acak. Jadi, kalau dia memilih
untuk pakai jubah, biar saja.” (Hal. 69)

***
“Hari-hari
berlalu dengan cepat; bergantung padaku bagaimana aku akan menghargai dan
memaksimalkan apa yang kumiliki.”  (Hal.
88)
“Konon,
tertawa bisa menular, dan menguap juga, pastinya. Tapi, aku tidak pernah tahu
bahwa menangis juga bisa menular.” (Hal. 102)
“Aku
tidak pernah paham konsep itu. Kok bisa pengecualian membuktikan aturan? Kalau
ada pengecualian, bukankah artinya itu melanggar aturan, atau peraturannya yang
salah sejak awal?” (Hal. 218)
“Mungkin
hanya pendapatku, tapi kehamilan terbaik agak mirip buku terburuk. Semua bisa
ditebak, tanpa ironi apa pun, dan benar-benar antiklimaks….” (Hal. 335)
“Yah,
kadang-kadang kita memang membutuhkan ibu untuk mendampingi.” (Hal. 338)