“Gue
selalu percaya, ada senyum yang mengembang setelah turunnya air mata. Sebab,
akan selalu ada pelangi seusai hujan turun.” (hal. 221)

Penulis: Sintia Astarina
Editor: Anin Patrajuangga
Desainer Sampul & Ilustrasi: Dyndha Hanjani P
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Cetakan:  2014
Jumlah hal.: vi + 266 halaman
ISBN:978-602-251-521-0
Sejauh
apapun jarak yang ditempuh, kita akan tetap begini. Selama apapun kita tak
bertemu, kita akan terus bersama. Sebab, akan selalu ada rindu yang menyengat
dari detik ke detik, menit ke menit, hingga waktu tak lagi dapat diukur.

Pertemuan manis yang tak disengaja, membuat kita berdua jatuh dalam pelukan dua
sahabat. Perkara demi perkara yang dilalui, menyiratkan hal-hal yang selalu
membuat aku ingin pulang.

Aku pun belajar bagaimana caranya menyimpan kenangan, menjaga luka, dan
mencegah kehilangan. Dan kunyatakan padamu, tak ada hari tanpa sesuatu yang
berharga. Di Taman Pasir, selalu ada cerita manis untuk diukir. Di Taman Pasir,
selalu ada cerita manis untuk pulang ke rumah.

***

“Yang
namanya sahabat… mereka nggak kenal fisik ataupun mental. Yang namanya
sahabat… mereka nggak akan berpisah hanya karena lost contact atau menghilang
secara tiba-tiba. Yang namanya sahabat… mereka akan tetap bersatu selamanya
walaupun ada banyak rintangan yang menghadang. ….” (hal. 209)

Taman Pasir adalah karya pertama
Sintia Astarina yang saya baca. Dalam profilnya dituliskan bahwa novel Taman
Pasir adalah karya keduanya. Karya pertamanya adalah Nanyian Hujan yang
diterbitkan pula oleh Grasindo. 
Karya ini memang ditujukan untuk
remaja. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis mengetengahkan
kisah persahabatan antara Pamela Agea dan Kelvin Amadeo. Persahabatan yang
dimulai sejak pertemuan mereka di Taman Pasir saat usia mereka masih belia, 10
tahun.  Sejak saat itu mereka berdua
terus bersama hingga SMA. Taman Pasir pun menjadi rumah kedua bagi mereka.
Hingga selepas SMA ternyata Gea
harus pindah ke Filipina meninggalkan Kelvin dan Indonesia. Saat itu
persahabatan mereka diuji. Ditambah lagi satu demi satu musibah menimpa Kelvin
dan keluarganya. Kecelakaan yang menimpa ayah Kelvin hingga kecelakaan yang
menimpa Kelvin sendiri.  Menjadi atlet
sepeda adalah impian Kelvin. Ayahnya sendiri adalah atlet sepeda. Kelvin sangat
ingin menjadi seperti ayahnya. Namun musibah yang datang, lambat laun merenggut
mimpi Kelvin ini. Sedangkan hidup Gea? jauh lebih nyaman daripada Kelvin.

***

“Nggak
ada gunanya ngomongin masa depan sedemikian rupa kalo nggak ada aksinya.” (hal.
48)

Sejujurnya membaca novel ini terasa
cukup membosankan. Kehidupan sehari-hari Kelvin dan Gea dituangkan teralu
detail. Ini membuat alur cerita jadi sangat lamban. Saya bahkan terkadang
membaca cepat saja bagian tertentu. Ini membuat saya membaca buku ini terasa
cukup berat. Perlu waktu 3 hari bagi saya untuk menamatkan buku ini karena
akhirnya disela oleh buku-buku lain. >_<
Plot cerita sebenarnya sudah
menarik. Musibah yang diceritakan datang bertubi-tubi dalam kehidupan Kelvin
pun idenya sudah bagus. Namun kurang mengeksplorasi ke emosi Kelvinnya. Ada
bagian yang seharusnya bisa menguras emosi pembaca, tapi malah terasa
garing-garing saja. Entah karena menggunakan sudut pandang orang ketiga,
makanya kesannya berjarak sehingga emosi ini tidak begitu terasah.
Menurut saya pribadi buku ini
sebenarnya bbacaan yang bagus untuk remaja. Ini karena di dalamnya ada
nilai-nilia persahabatan dan tentang impian. Ada scene yang mengetengahkan
kebingungan Gea dan Kelvin tentang pilihan hidup mereka selepas SMA. Ini jelas
sangat dekat dengan kehidupan remaja. Moment dimana pilihan-pilihan tentang
masa depan dan pencarian jati diri masih terasa membingungkan. Sayangnya karena
terlalu padat oleh adegan-adegan sehari-hari yang secara esensial tidak begitu
mempengaruhi inti cerita, akhirnya buku ini terlalu tebal, padat, dan
membosankan.
Good luck untuk Sintia Astarina.
Semoga karya berikutnya bisa lebih baik ya (^_^)v

“…,
‘kalau segala sesuatunya bisa dikerjakan detik ini juga, kenapa harus menunggu
hari esok?’” (Hal. 95)

***