Penulis: Iwan Santosa
Penerbit: PT Primamedia Pustaka
Cetakan: Maret 2005
Jumlah hal.: 190 halaman
ISBN: 979-696-301-9
Dipinjam dari: Bang Ridwan

Saat membaca
judulnya saya langsung tergugah. Ya, sudah menjadi bagian dari psikologi
pembaca untuk  tertarik dengan hal-hal
yang familiar dengan hidup mereka. Melihat kata Tarakan dalam judul buku ini
membuat saya tertarik membacanya. Alasannya cukup sentimentil. Saya pernah tinggal
di kota ini dan sampai sekarang masih menganggap kota itu sebagai salah satu
“rumah” tempat saya pulang.
Salah satu hal
yang membuat saya tertarik dengan buku ini adalah adanya keterangan dari sampul
yang menuliskan

”Sebuah
tank Matilda milik Angkatan Darat Australia mendarat di Pantai Lingkas
melintasi jembatan ponton besi yang disiapkan kesatuan Zeni Angkatan Laut AS
“Sea Bee”. Dewasa ini kawasan tersebut dinamakan “Jembatan Besi” untuk
mengenang operasi amfibi Sekutu di Tarakan”
Keterangan itu
jelas menggugah saya yang mengenal daerah tersebut dan bahkan dulu sering
melewatinya. Akhirnya saya pun tertarik meminjam buku ini.

Membaca bagian awal
buku ini diangkat tentang kekuatan militer Jepang. Mereka melakukan penyerangan
bersamaan di beberapa titik di wilayah kekuasaan AS-Sekutu. Penulis meyakini
bahwa serangan itu dilakukan untuk melemahkan sekutu sehingga Jepang bisa
menguasai Nusantara dan wilayah Asia Tenggara untuk mendapatkan minyak bumi.
Ini karena Jepang menyadari bahwa kebutuhan akan minyak dan gas sangat penting
bagi negara industri. Dan wilayah Nusantara yang paling dekat dengan Jepang
adalah Pulau Tarakan. Pulau Tarakan pada saat itu mampu menghasilkan 80.000 ton
minyak per bulan. Akhirnya sampailah tentara Jepang pada dini hari 11 Januari
1942.

“Satuan khusus
Angkatan Laut Jepang yang ditugaskan untuk mengambil alih Tarakan, merupakan
bagian dari rencana Gurita Tengah (Central Octopus). Panglima Angkatan Laut
Jepang termahsyur Takeo Kurita memerintah unit tempur ini bergerak dari dua
arah di utara melalui Kepulauan Filipina dan satuan dari Kepulauan Palau di
utara Papua di bawah komando Mayor Jenderal Shizou Sakaguchi.” (Hal. 14)


Perebutan
pertama antara Jepang dengan Sekutu atas Pulau Tarakan di mulai pada akhir
Desember 1940. Pada 28 Desember 1940 sebuah pertempuran udara pecah antara
pesawat tempur Zero milik Jepang dengan Pesawat Brewster Buffalo Belanda.
Setelah itu pihak Belanda menyusun pertahanan. Lucunya, yang tergabung menjadi
personil dari pasukan pertahanan Belanda ini adalah pegawai Bataafsche Petroleum Maatscapij (BPM-Pertamina
Belanda). Mereka menyusun rencana pertahanan yang salah satunya adalah membumi
hanguskan sejumlah sumur-sumur minyak yang berharga agar tidak jatuh ke tangan
musuh. Malam hari pada 10 Januari 1941, Tarakan menjadi lautan api. Api
berkobar dari ladang-ladang minyak yang tersebar di pulau Tarakan. (ugh..mendadak
saya teringat pada peristiwa Bandung Lautan Api
)

Pasukan pertama
Jepang tiba di darata Tarakan sekitar pukul 00.00, 30 menit kemudian menyusul
pendaratan khusus Angkatan Laut Kure. Pasukan-pasukan ini mendarat 4 km di
sebelah utara Sungai Amal dan berlabuh di muara sungai. (Saya
ingat pernah menyusuri daerah ini. Berjalan-jalan cukup jauh hingga menyebrangi
sungai Amal. Tapi sayang saat itu saya bahkan tidak tahu mengenai sejarah
peperangan ini sebanyak yang diceritakan oleh buku ini
)

Subuh tanggal 12
Januari 1941, tentara Jepang berhasil menguasai lapangan udara Juata. Pada saat
itu tentara Belanda telah menyerah. Namun kurangnya koordinasi membuat satuan
pengebom tetap melakukan serangan. Setelah itu Jepang memperluas pendudukannya
hingga ke desa Juata. Saat itu belum semua pasukan Belanda menyerah karena
rusaknya jalur komunikasi. Hal ini juga menyebabkan susahnya komunikasi antara
pasukan Jepang hingga kontak senjata masih saja terjadi di dermaga Tarakan.

Sebenarnya pada
tanggal 12 Januari itu, pasukan Belanda di Tarakan sudah menyerah, namun baru
tanggal 13 Januari Jepang benar-benar menguasai Tarakan tanpa perlawanan lebih
lanjut. Sebab pada tanggal 12 Januari masih ada serangan bomber dari pesawat perang Belanda yang berasal dari Pangkalan
Samarinda II. Para bomber ini
berangkat tanpa pengawalan dari pasukan pemburu Brewster Bufallo. Dalam salah
satu pesawat bomber Glenn Martin ini
ada seorang warga negara Indonesia yang ikut. Beliau adalah Luitenant Waarner
R.S Soeriadarma. Soeriadarma ini kelak menjadi Kepala Staf Angkatan Laut
pertama Indonesia. Pesawat yang beliau gunakan bersama Lukkien dan Vermey
sempat tertembak namun syukurlah mereka berhasil mendarat di Manggar di
Balikpapan.

Setelah berhasil
mengusai Tarakan, Jepang langsung menyerang dengan cepat. Sepuluh hari setelah menguasai
Tarakan, Jepang berhasil menguasai Balikpapan. Pada bulan Maret Jepang berhasil
menguasai Denpasar, Bali.

Setelah mengusai
Tarakan, penjajahan Jepang di Tarakan di mulai. Sekitar 5000 penduduk sipil (tidak dijelaskan secara terperinci
persentase jumlah pribumi, Belanda, dan Indo-Belanda)
hidup dengan
menderita. Karena berada di pulau mereka akhirnya terisolir dan tidak memiliki
jalan keluar. Warga sipil akhirnya hidup dengan berbagai penyakit mulai dari
kurang gizi, luka infeksi sampai penyakit kulit. Selain itu mereka pun dipaksa
melakukan kerja keras untuk kepentingan Jepang tanpa diberi asupan gizi yang
cukup.
Jepang berhasil
memperbaiki fasilitas-fasilitas perminyakan yang telah dibakar oleh Belanda
dalam waktu 2 bulan. Eksploitasi minyak di Tarakan pun dimulai. Eksploitasi ini
digunakan untuk kepentingan militer Jepang.

Namun pada akhir
tahun 1943, Sekutu mengambil inisiatif untuk menghancurkan jalur pelayaran
kapal Jepang di perairan Nusantara. Hal ini karena terdapat tanda-tanda
melemahnya kekuatan Jepang dengan kalahnya Jepang di beberapa front
pertempuran. Penyerangan terhadap Tarakan sendiri dilakukan pada tahun 1944.
Pada tanggal 10 Desember 1944, Sekutu mengebom ladang minyak di Lingkas,
Tarakan.
Ternyata
melemahnya pertahanan Jepang di Nusantara juga disebabkan oleh faktor internal
dimana ada persaingan antara Angkatan Darat dengan Angkatan Laut mereka. Yang seharusnya
keduanya bisa saling mendukung akhirnya malah jadi saling melemahkan karena
tidak mau saling bantu dan malah sibuk melakukan pembuktian diri masing-masing.

Tapi dilain
pihak tentara Jepang cukup cerdik. Mereka berhasil melakukan kamuflase untuk
beberapa titik-titik penting tempat mereka menyimpan cadangan senjata. Ini
membuat mereka tetap memiliki kekuatan untuk melawan pasukan sekutu yang
berhasil mendarat di Tarakan.

Aksi bombardir
Sekutu atas pulau Tarakan tidak seluruhnya berhasil menghancurkan
benteng-benteng perlindungan yang dibuat tentara Jepang yang dikamuflase dengan
menutupinya dengan tanaman-tanaman. Di lain pihak aksi bombardir selama 4 hari
itu malah memberikan kerugian yang besar bagi pihak sipil. Bahkan akibat aksi
bombardir tersebut Bandar Udara Croydon (kini lapangan Udara Juata) tidak dapat
digunakan selama 59 hari. Ini ternyata menghambat kesiapan kekuatan Angkatan
Udara Sekutu.

Selanjutnya perebutan
kota Tarakan berlanjut hingga ke wilayah perbukitan setelah pihak Australia
yang mewakili Sekutu berhasil menduduki kota Tarakan. Jepang melakukan
perlawanan sengit dan melakukan perang di pedalaman.

Akhirnya perang
benar-benar berakhir pada bulan Agustus 1945. Saat itu Jepang telah mengakui
kekalahannya dalam Perang Dunia Kedua. Dilakukanlah rekonstruksi Tarakan. Kota
Tarakan dibenahi bersama oleh pihak Sekutu dibantu oleh bekas tahanan perang
yang berkebangsaan Eropa, tentara KNIL Indonesia hingga warga sipil Tarakan.

Patut
disayangkan semua kenang-kenangan atas kejadian bersejarah ini sudah sangat
sulit ditemukan. Bahkan seingat saya, saat menjalani masa SD dan SMP di
Tarakan, saya bahkan tidak tahu banyak tentang kota tersebut. Dokumentasi atas
perang ini sangatlah sedikit. Padahal peran Tarakan saat itu cukup strategis.
Keterangan-keterangan tentang perang di Tarakan banyak diambil dari hasil
wawancara dengan sejumlah orang Tarakan.
Peninggalan
Perang Dunia Kedua di Tarakan tersebar di sejumlah lokasi, seperti: tiga pucuk
kanon 75milimeter di kawasan Peningki Lama, beberapa Bunker, dan pillbox di
Juata Laut, di ujung landasan Bandara Juata, dan di dekat kota Tarakan

Hm..seperti biasa,
membaca buku yang berbau kesejarahan sering membuat saya mengantuk. Butuh waktu
sepekan lebih bagi saya untuk bisa menyelesaikan buku ini. Sejujurnya banyak
bagian-bagian saya lewati karena bingung dengn keteranga tentang persenjataan. Saya
lebih banyak tertarik dengan penjelasan tentang waktu dan tempat kejadian
kontak senjata.
beberapa gambar dalam buku ini

Dari segi judul,
buku sudah baik. Menggugah pembaca untuk bertanya-tanya “Kenapa Tarakan di sebut
sebagai Pearl Harbour? Di mana posisinya? Apa pentingnya?”. Hal ini akan
membuat orang tertarik untuk mencari tahu. Sejujurnya harus saya akui bahwa
banyak tempat yang aku kenal di Tarakan tanpa tahu sejarahnya. Membaca buku ini
membuat saya menjadi lebih tahu.