Penulis: Hengki
Kumayandi
Penyunting: Mashur
El-Mubarok
Penata Letak: Tri
Indah Marty
Desainer Sampul: Kiki
Maryana
Penerbit: WahyuQolbu
Cetakan: Pertama,
Januari 2014
Jumlah hal.: ix + 259
halaman
ISBN: 979-795-812-4
Ketika cinta telah menjatuhkan pilihannya, maka ia akan begitu tulus
mencintai, tanpa syarat, tidak peduli berbeda suku, agama, ataupun status
sosial. Namun, kenyataan sering berbicara lain. Ketulusan cinta hanya akan
menjadi kenyataan getir, manakala takdir Ilahi berkehendak lain.

David
“Aku sangat bahagia ketika kau bersedia menjadi kekasihku, walau tak boleh
sedikitpun aku menyentuhmu. Sayang, keyakinan yang kau miliki tak sama dengan
keyakinanku, Maryam. Orangtuaku juga orangtuamu tak setuju jika kita bersatu.”

Maryam
“Aku belum pernah merasakan cinta sehebat dan sedahsyat ini. Kaulah cinta
pertamaku, dan aku bahagia bisa mencintaimu. Tapi sayang, kebahagiaan ini
begitu singkat. Kebahagiaan ini tidak lebih seperti kupu-kupu yang sangat
singkat hidupnya menikmati keindahan bunga-bunga di taman.”
____

“Kau tahu, apa yang membuat Nabi Muhammad selalu tenang dalam menghadapi
masalah dalam hidupnya? Rahasianya cuma satu, Maryam. Karena beliau selalu
menjaga cintanya pada Allah. Beliau tidak pernah melebihkan cintanya pada
siapapun selain-Nya. Berhentilah menangis. Jangan sampai cintamu itu membuat
Allah berpaling darimu, Maryam.”
____

Aku pecinta cerita HC Anderson. Dan buku ini seperti cerita HC Anderson versi
Islami, Subhanallah… Indah sekali. Kisah cinta berliku David – Maryam bakal
jadi tuntunan bagi pembaca yang -mungkin- sedang mengalami problem serupa.. Dan
kekuatan cinta selalu bisa mengalahkan segalanya. Meski mengusung tema
perbedaan keyakinan tapi novel ini jauh dari kesan SARA. Salut buat penulisnya.
[Adnan Buchori, penulis buku Genk Kompor Series]

***
Tidak menyadari bahwa dua buku
terakhir yang saya baca adalah buku-buku Islami. Setelah sebelumnya membaca Diorama Rasa (baca resensinya di sini).
Saya langsung membaca buku Tell Your
Father, I am Moslem
. Buku ini membuat saya tertarik karena pembicaraan di Group
Beruq-Beruq di Facebook sempat menyebut-nyebut karya ini.
Saat membaca pengantarnya pun
saya mengenali sejumlah nama yang pernah berkomunikasi sebelumnya *most of them
are a writer*. Saya pun memulai membacanya dengan penasaran. Dan satu yang
tidak saya duga, ternyata novel ini tidak seberat yang saya sangka.
Dengan mengangkat cerita hubungan
REMAJA *yup..remaja..saya juga gak menyangka*yang memiliki budaya dan agama
yang berbeda. David, anak laki-laki Amerika yang berusia 17 tahun jatuh cinta
pada Maryam, perempuan muslim dari Dubai. Maryam datang ke sekolah David
sebagai siswi baru karena ayahnya ditugaskan menjadi Duta Besar Uni Emirat
Arab. Awalnya muncul kehebohan di sekolah David karena penampilan Maryam yan
berjubah dan berjilbab besar. Ia bahkan langsung dicap sebagai teroris.

David jatuh cinta pada Maryam
sejak pada pandangan pertama. Maryam pun jatuh hati pada David karena kebaikan
David padanya dan karena David laki-laki pertama yang ia kenal secara dekat.
Orang tua Maryam sangat protektif dan terlalu mengatur hidup Maryam. Mereka
tidak menyetujui kedekatan Maryam dengan David.
David dan Maryam saling mencintai
dan sudah menyampaikan kepada satu sama lain. Namun Maryam mensyaratkan pada
David untuk tidak menyentuhnya sama sekali. Syarat ini disanggupi David selama
ia tahu Maryam mencintainya. Menariknya ada satu moment di dalam novel ini
dimana Maryam melemah dan meminta David untuk memeluknya namun ditolak oleh
David. David berkata,
“Aku tidak mau. Aku tidak mau
melakukannya karena butuh empat puluh tahun bagi Tuhanmu untuk mengampunimu.
Bukankah kau sendiri yang bilang seperti itu padaku, Maryam?” (hal. 112)
Hm..membaca buku ini, meski
mengankat tentang hubungan kasih remaja yang berbeda keyakinan, saya tidak
menemukan isu dimana penulis meletakkan Islam sebagai agama yang lebih baik
daripada agama Kristen yang dianut David. Bahkan saya langsung suka pada novel
ini karena di awal, ayah angkat David yang seorang pastor memberikan pembelaan
pada kerudung. Saat itu David yang sedang sakit dijenguk oleh temannya dan
mendapat cerita tentang siswi baru yang menggunakan jubah dan kerudung yang
mereka tuduh sebagai teroris. Pastor tersebut langsung membela Maryam yang
menyatakan bahwa perintah berkerudung pun ada di dalam Bibel. Hal ini pun
menjadi pengetahuan baru bagi saya (>_<). *ah, ini selalu menjadi hal
yang paling menyenangkan dari membaca. Mendapatkan informasi dan pengetahuan
baru melalui sebuah cerita*
Kisah dalam novel ini berpusat
dari perasaan cinta yang berkembang di antara Maryam dan David serta sikap
orang disekitar mereka terhadap hal itu. Yang paling banyak diceritakan adalah
sikap dari keluarga Maryam. Bahkan saat mengetahui kedekatan Maryam dengan
David, ayah Maryam sangat marah, hingga kemudian menjodohkan Maryam dengan
Khaled, anak dari sahabatnya.
Setelah itu perjuangan keduanya
dalam menghadapi perasaan cinta yang dalam di usia mereka yang masih muda
menarik diikuti. Bagaimana akhirnya mereka menghadapi keluarga masing-masing
dan tetap saling menghormati keyakinan masing-masing.
Buku ini ringan namun nilai di
dalamnya cukup berat bagi saya. Tidak mudah menghadirkan kisah cinta beda agama
dengan bijak tanpa meninggikan salah satu agama. Buku ini juga mengajarkan
tentang toleransi sesama manusia. Tentang agama yang seharusnya bukan menjadi
alasan untuk berperang. Dari buku ini juga sebuah cerita tentang kondisi sebuah
keluarga diangkat. Tentang keluarga Maryam yang dibangun di atas aturan Islam
namun tetap saja orang tua sebagai manusia pun bisa salah. Bahwa kadang demi
menegakkan ajaran agama orang tua malah bersikap egois dan malah mengekang.
Ini ada satu kalimat gugatan
menarik yang teriakkan David di halaman 82. Ini menjadi bahan perenungan yang
menarik saat saya mencoba memaknainya. (^_^)
“Tuhan, di mana keadilan-Mu?
Kenapa si Amerika ini harus jatuh cinta pada gadis berkerudung itu? Sebegitu
berbedanyakah kami? Lalu kenapa Kau menciptakan Amerika dan Arab, Islam dan
Katolik? Apakah agar kami bermusuhan? Tidak bisakah ini dibuat sederhana? Tidak
bisakah Kau menyatukan kami dengan cinta? Tidak bisakah?”
***
Dalam buku ini ada dua kekurangan
yang ingin saya kritisi. Satu penggunaan kata “pastur” yang ketika saya baca di
applikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia seharusnya pakai kata “pastor”. Selain
itu saya sempat dibuat bingung. Di awal, kota yang disebutkan adalah Washington
DC. Tapi belakangan malah pakai setting kota New York. Nah ini termasuk
inkonsistensi. Entah saya yang kurang paham atau ini memang luput dari editor
bukunya.
Tapi secara keseluruhan saya suka
dengan novel ini. Mengangkat cerita tentang perbedaan dengan lebih bijak tapi nggak menggurui.
Ditunggu karya berikutnya ya kang Hengki Kumayadi.