Penulis:
Cecelia Ahern
Penerjemah:
Nurkinanti Laraskusuma
Penerbit:
Gramedia Pustaka Utama
Cetakan:
Februari 2012
Jumlah
hal.: 496 halaman
ISBN:
978-979-22-8044-9
Bagaimana
kau bisa mengenal seseorang yang bahkan tak pernah kautemui?
Joyce Conway mengingat hal-hal yang seharusnya
tidak dapat dia ingat. Dia tahu jalanan kecil berbatu pipih di Paris, padahal
dia tidak ke sana. Setiap malam dia bermimpi tentang seseorang gadis kecil
berambut pirang.
Justin
Hitchock adalah duda cerai yang kesepian dan gelisah. Dia datang ke Dublin
untuk memberikan kuliah seni, dan bertemu dengan dokter cantik yang membujuknya
mendonorkan darah. Sudah lama tak ada apa pun yang keluar langsung dari
jantungnya.
Ketika
Joyce meninggalkan rumah sakit setelah mengalami kecelakaan yang menghancurkan
hati, dengan hidup dan perkawinannya luluh lantak, dia pindah ke rumah ayahnya
yang sudah tua. Sementara itu, ada rasa d
éjà vu
yang terus membayanginya, namun dia tidak tahu sebabnya…
***
Bagaimana
rasanya jika kamu mendadak mendapati banyak keanehan yang pada dirimu setelah
moment terburuk terjadi di hidupmu? Joyce yang baru saja kehilangan bayi yang
dikandungnya dan disusul dengan berakhirnya perkawinan yang telah ia bina
selama 10 tahun mendadak merasa dirinya gila. Ini karena sejak pulang dari
rumah sakit, ia mendapati dirinya menjadi orang yang berbeda.

Ia
mendapati dirinya memiliki pengetahuan tentang Arsitektur, tentang sejarah yang
bahkan tidak pernah ia pelajari. Ia yang seorang vegetarian pun memutuskan
makan steak setengah matang di restoran. Semua perubahan itu membuat banyak
orang di sekitarnya menjadi khawatir padanya. Ayahnya dan dua sahabatnya, Kate
dan Frankie, mengira itu adalah efek dari rasa kehilangan yang mendalam akibat
keguguran dan perceraiannya. Namun Joyce yakin bahwa ada hal lain yang
menyebabkan semua itu. Bagaimana mungkin ia bisa saja mendadak berbahasa Latin,
Perancis, dan Italia padahal mempelajari ketiga bahasa itu pun ia belum pernah?
Adakah yang bisa memberikan penjelasan tentang hal ini?
Justin
Hitchcock adalah laki-laki yang cukup egois. Ia bercerai dari istrinya dan
memiliki satu anak perempuan dari pernikahan tersebut. Istrinya kini telah
memiliki kekasih baru, sedangkan ia masih berkutat di masa lalu. Ia datang ke
Irlandia untuk menjadi pengajar yang mengisi beberapa kelas di Trinity College.
Di sana ia bertemu dengan Sarah, seorang dokter, yang berhasil membujuknya
untuk melakukan donor darah. Ia belum pernah donor darah sebelumnya karena
takut pada jarum suntik. Namun entah karena keputusasaan atau hal lain, ia
bersedia mendonorkan darah demi janji kencan dengan sang dokter.
Suatu hari
tanpa sengaja Justin dan Joyce bertemu di sebuah salon. Bagi keduanya mereka
tidak mengenal satu sama lain, namun rasanya mereka sudah saling mengenal lama.
Mereka bahkan tidak sempat berkenalan. Namun beberapa kali berpapasan membangun
rasa penasaran di hati mereka masing-masiang.
Hm..saya
rasa pembaca sebenarnya bisa menarik benang merah antara Joyce dan Justin
melalui kata “donor darah” dan “kecelakaan”. Pada akhirnya kecurigaan pasti
akan mengaitkan ke arah sana. Namun pertanyaan yang menarik adalah bagaimana
Cecelia Ahern akan membaut cerita ini tetap menarik meskipun benang merah bisa
segera ditebak?
Bagi saya
Cecelia Ahern berhasil menggali lebih banyak dimensi di dalam cerita ini. Ia
berhasil membuat cerita menjadi berputar-putar. Pertemuan keduanya diperumit
oleh perasaan yang muncul di antara mereka sendiri. Hubungan Joyce dan ayahnya
juga ikut menambahkan warna dalam cerita.
Tapi tetap
saja karya Cecelia Ahern kali ini belum mengalahkan cerita P.S I Love You yang
ia tulis. Jadi, jika harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-10, maka
saya memberinya nilai 7,5 (^_^). (Unsur
sampul yang didominasi warna gelap ikut mengurangi nilai buku
ini..he..he..Sorry, buku yang bagus memang harus didampingi oleh cover yang
bagus. Jika tidak, maka tidak akan banyak yang tahu tentang seberapa bagus buku
tersebut..he..he..)
Quote:
“Perfer et obdura; dolor hic tibi proderit
olim?”
artinya “Bersabar dan tabah;
suatu hari rasa sakit ini akan berguna bagimu”
“Seperti kebunku, Sayang. Semuanya tumbuh
termasuk cinta. Dan karena kebun itu bertumbuh tiap hari, bagaimana kau bisa
berharap kerinduan pada dirinya bisa surut? Semuanya bertambah, termasuk
kemampuan kita untuk menghadapinya. Itulah cara kita terus maju.”
“Yah, bahkan kebun-kebun bisa menghasilkan
pembunuh, Sayang.Kebun-kebun itu menumbuhkan secara alami. Merayap naik dan mencekik
tanaman-tanaman yang tumbuh dari tanah yang sama dengan tempat mereka tumbuh. Kita
semua punya ketakutan sendiri, tombol penghancuran diri. Bahkan di kebun.
Betapa pun indahnya. Kalau kau tidak menyibukkan diri, kau tidak akan
menyadarinya”
“Di zamanku, semua begitu adanya. Tidak perlu
beratus-ratus kali. Tidak ada kuliah dengan orang yang lulus bergelar Mengapa,
Bagaimana, dan Karena. Kadang-kadang, Sayang, kau hanya perlu melupakan
kata-kata itu dan ikut kuliah kecil berjudul “Terima Kasih”.