“Suatu
hari, mendadak kisahku berubah. Latar belakangnya bergeser. Tokoh – tokohnya
terguncang. Seandainya kisahku digambarkan dengan diagram jalan cerita, tukikan
tajamnya pasti melebihi batas kertas. Satu–satunya yang stabil hanyalah sudut
pandangnya: orang pertama, diriku, memandang ke luar dan ke dalam, dan melihat
kehampaan.” (Hal. 3)


Penulis: Mary Alice
Monroe
Alih Bahasa: Deasy
Ekawati
Editor: Fanti Gemala
Penata Isi: Novita
Putri
Penerbit: VioletBooks
(Imprint Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia)
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: vii + 454
halaman
ISBN: 978-602-251-716-0
Mary
Alice Monroe mengundang Anda untuk bertemu dengan lima karakter yang luar biasa
selagi dia menjelajahi kekuatan persahabatan dalam kelembutan, kejujuran, dan
pengertian.
Dari
luar kelompok itu hanyalah sebuah klub membaca biasa. Tapi bagi lima orang
wanita, klub itu adalah sesuatu yang jauh lebih bermakna. Bagi Eve Porter, yang
segala keamanan hidup yang telah direncanakannya direnggut karena suaminya
mendadak meninggal, klub itu adalah tempat perlindungan.
Bagi
Annie Blake, seorang pengacara hebat yang berniat memiliki keluarga meski sudah
terlambat, klub itu adalah kesempatan untuk menurunkan pertahanan dirinya dan
memimpikan banyak kemungkinan lain.
Bagi
Doris Bridges, klub itu adalah pendukungnya saat dia mengakui bahwa
pernikahannya sekarat dan memperoleh kebebasan yang sesungguhnya dalam
pengkhianatan suaminya.
Bagi
Gabriella Rivera, sang istri, ibu, dan sahabat ‘sempurna’ yang menawarkan
dukungan bagi semua orang tapi enggan meminta dukungan bagi dirinya sendiri,
klub itu memberinya suasana kekerabatan.
Dan
bagi Midge Kirsch, seorang seniman yang selalu menjalani hidup melawan arus,
klub itu bagai surga yang menerimanya.
Merekalah
lima wanita dengan jalan kehidupannya yang berbeda, yang menerima tantangan
dalam perubahan hidup mereka. Dan saat mereka berbagi harapan, ketakutan, dan
kemenangan, mereka akan berpegang erat pada keajaiban sejati sebuah klub membaca
– yaitu persahabatan.
***
Kali
ini saya merasa tidak perlu menuliskan sinopsis dari sudut pandang saya
pribadi. Blurb di atas berhasil menggambarkan semua cerita secara ringkas.
Di
dalam buku ini memang akan ada lima karakter perempuan yang berbeda dengan
prinsip yang berbeda pula. Cara mereka memandang pernikahan pun tidak benar –
benar sama. Cara mereka menghadapi masalah pun berbeda. Namun kelima perempuan
ini saling mendukung.
Klub
Membaca yang mereka bentuk tidak semata – mata untuk membahas cerita dalam
sebuah buku melainkan cerita hidup mereka sendiri. Klub Membaca menjadi sebuah
jeda agar mereka bisa menghirup sebentar kenyamanan yang mulai sulit mereka
dapatkan.

Awalnya
semua konflik seolah berpusat di kehidupan Eve Porter dengan kematian Tom,
suaminya, sebagai konflik awal. Namun perlahan fokus ini mulai bergeser.
Bergeser ke pergulatan Doris dalam kehidupan perkawinannya. Kemudia bergeser ke
dalam kemelut hidup Annie yang menginginkan seorang bayi di usianya yang telah
menginjak kepala empat. Kemudian bergeser ke kehidupan Midge dengan ketakutan
dan kekakuaannya dalam menghadapi Edith, ibunya. Kemudian ke kehidupan
Gabriella yang perlahan tapi pasti merasa lelah dengan semua tanggung jawab
sebagai istri yang sekaligus tulang punggung keluarga akibat suami yang di–PHK.
Tapi
semua kisah – kisah ini diceritakan dalam penuturan yang mengalir lembut dan
mendalam. Pergulatan batin semua tokohnya tergambar melalui kontemplasi yang
digambarkan dan dalam tindakan yang mereka lakukan. Selain itu cara Alice
Monroe menggambarkan setiap tokohnya benar – benar hidup. Manusiawi dengan
kelemahan dan kekuatannya.
Selain
itu semua pencerahan yang mereka temukan dari masalah yang datang dalam hidup
mereka pun tergambarkan halus tanpa kesan menggurui. Informatif sekaligus
inspiratif.
***
Membaca
buku ini, maka banyak dilema perempuan usia 40 tahun terpaparkan dengan
gamblang. Ketakutan mereka akan masa menopause, kehidupan rumah tangga yang
mulai terasa kosong, cinta yang mulai meredup, hingga perkara tanggung jawab
sebagai ibu rumah tangga dengan segala bebannya.
Ah,
buku ini cocok dibaca oleh para perempuan usia dewasa. Semacam mengenal ‘masa
depan’ lebih awal. Dan untuk perempuan usia 40 tahun ke atas, bacaan ini bisa
menjadi sebuah kawan dalam perenungan – perenungan yang mulai mengganggu
pikiran.
Dan
untuk laki – laki, bacalah. Kau akan memahami bahwa pilihan menjadi ibu rumah
tangga tidak berarti tidak bekerja apapun. Dan pilihan menjadi istri yang
bekerja bukan berarti seorang perempuan menjadi terlalu perkasa.
***
Buku
ini mengetengahkan banyak hal menarik tentang kehidupan rumah tangga dan
kehidupan perempaun. Mungkin tidak semua mengalaminya, tapi ia umum terjadi.
Kekalutan
perempuan tentang menopause dan juga sikap ‘tutup mata’ yang kadang dipilih
oleh para istri demi ketenangan rumah tangganya. Ini kadang adalah hal yang
diajarkan oleh seorang ibu pada anak perempuannya. Kadang keamanan finansial
datang bersama konsekuensi semacam itu. Di halaman 331, digambarkan dengan
jelas hal tersebut melalui sikap ibu Doris saat berkata bahwa,

”Para
pria yang sukses memang punya … kebutuhan khusus. Itu ada kaitannya dengan
ego mereka, tekanan pekerjaan. Oh siapa yang tahu … Dan siapa yang peduli?
Kau punya kehidupan yang menyenangkan. Rumah yang indah, mobil, anak – anakmu,
dan uang belanja yang lumayan. …Terkadang seorang istir lebih baik pura –
pura tidak tahu.”

Bagaimana
menurutmu, Readers?
Selain
hal di atas buku ini juga menampilkan cerita 
Eve Porter yang memulai kembali kehidupannya. Setelah dua puluh tahun menjadi
ibu rumah tangga, mendadak kematian suaminya membuat dia harus menjadi tulang
punggung keluarga. Keluar dari kenyamanan yang lama dinikmatinya.
Ah,
buku ini membuat saya jatuh cinta dengan telak. Saya menikmati setiap kisah dan
tokoh yang diciptakan oleh penulisnya. Mereka terasa hidup sebab konfliknya
sangat dekat dengan keseharian. Dan jauh di dalam diri saya muncul perasaan,
“Mungkin kelak dilema ini akan saya alami juga.”
Ah,
maaf jika saya tidak bisa menyampaikan satu pun kekurangan buku ini. Saya sudah
jatuh hati. Saya menyukai cerita yang disampaikan oleh Alice Monroe ini. Dan
dengan ini saya sampaikan bahwa buku ini menjadi salah satu buku yang akan saya
rekomendasikan ke semua orang yang bertanya, “Apa buku favoritmu?”
***

“All
life is a story, and daily each of us collect stories” Rache Jacobsohn, The
Raeading Group Handbook (Hal. 4)