Penulis                 : Cecelia
Ahern
Penerbit              : Gramedia
Pustaka Utama
Cetakan               : pertama,
Juli 2013
Jumlah hal.         : 477 halaman
Penerjemah       : Nurkinanti
Laraskusuma
Sudah menjadi
penyakit saya untuk membeli novel yang bercerita tentang buku atau perpustakaan.
Penyakit ini masih tergolong baru. Baru beberapa bulan terakhir saya seperti
tergila-gila pada hal yang berbau buku dan perpustakaan.  Buku-buku yang menyebabkannya adalah
Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken” dan buku “Libri di Luca”. Maka ketika membaca
sinopsis buku ini saya pun tertarik untuk membelinya. Ini adalah buku pertama
yang saya beli di bulan Agustus ini dengan bermodalkan  THR yang tidak seberapa.
The Book of
Tomorrow menceritakan tentang kehidupan Tamara Goodwin, seorang remaja berusia
16 tahun, yang hidupnya seketika berubah karena kematian sang Ayah. Ayahnya
memilih mengakhiri hidup di ruang kerjanya dengan sebotol pil dan wiski akibat
terlilit utang. Dengan itu sang Ayah pun mengakhiri kemewahan hidup yang
selama  ia nikmati. Rumah dan sejumlah
hunian di luar negeri ikut disita oleh Bank hingga akhirnya dia harus menumpang
untuk tinggal di sebuah wilayah bernama Kinley yang bahkan tidak ditemukan
dalam GPS.
Hidup Tamara
yang benar-benar berlimpah selama 16 tahun membuat dia lebih sering bertindak
sesukanya. Ia mengucapkan apa pun yang ingin diucapkannya. Melakukan apa pun
yang dia inginkan sebab itulah yang diizinkan oleh orang tuanya. Mereka memberi
Tamara kebebasan dan melimpahinya dengan liburan dan barang-barang mahal. Sikap
ini pun benar-benar tidak membantu Tamara melewati hari yang sangat
membosankan. Teman-teman lamanya yakni Zoey dan Laura tidak membantu sama
sekali. Ia bahkan merasa bahwa mereka tidak (atau dirinya) tidak lagi cocok
dalam pergaulan yang ia tinggalkan di Dublin.

Hingga suatu
hari datanglah perpustakaan keliling ke desa tempat tinggalnya. Ia berkenalan
dengan pria yang mengemudikan van perpustakaan keliling tersebut, Marcus. Dan
dari sana ia tanpa senagja menemukan sebuah buku yang tergembok. Namun ketika
ia berhasil membuka gembok tersebut, dengan bantuan Suster Igantius, ia bingung
mendapati bahwa buku tersebut ternyata kosong. Ia cukup kesal saat
mengetahuinya. Namun beberapa hari kemudian ia menemukan bahwa buku tersebut
menulis sendiri. Ya, muncul tulisan yang ia kenali sebagian tulisannya yang
rapi. Namun ia tidak merasa telah menulis di dalam buku tersebut. Dan hebatnya
buku itu menuliskannya dengan menggunakan tanggal esok hari. Dan benar-benar
menuliskan hal-hal yang akan terjadi keesokan harinya.

Akhirnya buku
ini menjadi awal bagi Tamara untuk menelusuri sebuah hal misterius yang terjadi
di keluarganya. Banyak keanehan yang ia temui. Mulai dari pamannya Arthur yang
jarang berbicara serta bibinya Roseleen yang bertingkah aneh. Roseleen selalu
berusaha mengurusi semua orang. Namun khususnya untuk Tamara ia seolah selalu
mengawasinya. Bahkan Tamara merasa bahwa Roseleen tidak pernah membiarkannya
berduaan dengan pamannya. Entah apa yang disembunyikan di rumah itu. Ia
dilarang untuk turun ke gudang dan tidak dibiarkan menengok ibu Roseleen yang
tinggal di seberang jalan rumah mereka.
Selain itu ia
pun berkenalan dengan Weseley yang membantunya menghadapi beberapa hal yang
ditakutinya. Ayah Weseley adalah seorang dokter dan Weseley adalah pekerja
upahan Arthur.  Weseley menemani Tamara
melihat gudang dan rumah di seberang jalan. Dan Weseley mungkin satu-satunya
orang yang mempercayai cerita Tamara tentang buku diary yang aneh tersebut.
Namun, keanehan
diary itu tidak seburuk misteri yang tersimpan di dalam keluarganya. Semua itu  semakin membuat Tamara frustasi. Hingga satu
persatu bukti itu muncul. Namun pada akhirnya kita akan bertanya-tanya apakah
sebenarnya semua yang dialami dan dilakukan Tamara adalah bentuk dari kegilaan
akibat duka yang ia rasakan? Ataukah memang benar adanya?
Sejujurnya tokoh
utama yang berusia 16 tahun ini tidak berarti bahwa buku ini diperuntukkan
untuk remaja sebab konflik yang diceritakan oleh penulis terlalu kompleks untuk
dicerna oleh remaja. Itulah sebabnya buku terbitan Gramedia ini tidak dilabeli
sebagai novel teenlit. Selain itu jika saya membandingkan buku ini dengan P.S I
love you, karya Cecelia Ahern yang lain, maka cerita di dalamnya masih agak
membosankan. Hal ini jelas subyektif. Saya adalah pembaca yang tidak begitu suka
dengan detail deskripsi pemandangan yang terlalu panjang. Sedangkan dalam buku
ini detail seperti ini sangat sering ditulis.
Tapi dari segi
olahan konflik dan ketegangan maka penulis berhak di beri acungan jempol. Saat
satu persatu fakta terhubung dengan cerita dalam buku harian itu hingga
menuntut Tamara untuk berani mengambil keputusan, maka rasa ingin tahu pembaca
pun ikut meningkat. Ketegangan sesekali memuncak sebab pembaca jadi
bertanya-tanya bagaimana jika Tamara melakukannya berbeda dengan yang tertulis
di buku harian? Atau apakah seharusnya dia bertindak seperti yang tertulis agar
ceritanya tidak lagi membingungkan? Semua ini berhasil dioleh dengan baik oleh
penulis.
Jadi, jika harus
memberi nilai pada buku ini maka saya memberinya nilai 8 (dengan
memperhitungkan sampulnya yang simple tapi manis) (^_^)v
Quote:
“Kau lebih suka diberi kehidupan yang sudah
dijalani juga, Tamara? Dengan begitu kau bisa duduk berpangku tangan dan
menontonnya. Atau kau lebih suka menjalaninya sendiri?”
“Kupikir kebanyakan orang masuk ke toko
buku tanpa gagasan sama sekali apa yang ingin mereka beli. Entah bagaimana,
buku-buku itu duduk di sana, hampir secara ajaib menggerakkan orang untuk
meraihnya. Orang yang tepat untuk buku yang tepat. Seakan-akan mereka tahu
mereka perlu menjadi bagian dari hidup siapa, bagaimana mereka bisa membuat
perbedaan, bagaimana mereka dapat mengajari, menyunggingkan senyuman di sebuah
wajah pada saat yang tepat. Aku sekali berbeda sekarang.”memandang buku dengan
sudut pandang yang sama