“Semoga
kau mencintai kehidupanmu dan memegangnya dengan kedua tanganmu.” (Hal. 7)


Penulis: Laura Florand
Diterjemahkan dari The
Chocolate Kiss terbitan Kensington Publishing
Penerjemah: Veronica
Sri Utami
Penyunting: Pratiwi
Utami
Perancang sampul: Ads
Studio
Pemeriksa Aksara:
Pritameani & Fitriana
Penata Aksara: Endah
Aditya
Penerbit: Bentang
Cetakan: Kedua,
Februari 2014
Jumlah hal.: vi + 458
halaman
ISBN: 978-602-7888-48-7
Selamat
datang di La Maison des Sorcières, Kedai teh yang sangat terkenal di Pulau île
Saint-Louis, Paris. Bersama kedua bibi tercinta, di sinilah aku –Magalie
Chaudron– tinggal untuk membesarkan kedai yang sangat mengesankan ini.
Akan
tetapi, semua kacau ketika Philippe Lyonnais –pastry chef terkenal di Paris–
membuka toko cabangnya di dekat kedaiku. Dengan (sok) polosnya, ia tidak tahu
bahwa ia telah melanggar teritori dan merebut pelanggan-pelangganku? Dan
ditambah lagi lagaknya yang sombong, meremehkan semua resep menu spesial
buatanku. Aarrgh ….
Mungkin
ini saatnya bendera perang kukibarkan.
***

“…,
mungkin lebih baik bagi seorang pangeran untuk belajar sejak masa mudanya bahwa
mencari informasi sebelum melangkah adalah salah satu dasar untuk
mempertahankan hidupnya.” (Hal. 18)

Magalie
Chaudron adalah seorang perempuan muda yang terus berupaya menemukan tempatnya.
Saat ini dia merasa bahwa La Maison des
Sorcières
, kedai teh milik bibi-bibinya adalah tempat di mana seharusnya ia
berada. Ia merasa dibutuhkan dan merasa bahwa di sanalah dunianya. Ia senang
membuat minuman cokelat. Ia senang menghiasi kue yang akan mereka pajang di
etalase La Maison des Sorcières.
Namun
semua kesenangan dan keseimbangan itu diguncang oleh kehadiran sosok Philippe
Lyonnais. Magalie merasa bahwa Philippe akan merusak apa yang telah dimiliki La Maison des Sorcières selama ini.
Magalie merasa bahwa kehadiran toko Lyonnais
akan menjadi ancaman bagi kedai teh milik bibinya. Meskipun bibi-bibinya tidak
memedulikan hal itu. Mereka terus menjalankan kedai tersebut sebagaimana adanya
dan enggan mengambil tindakan berarti.
Magalie
akhirnya memilih untuk bertindak. Ia datang dan menemui Philippe. Namun apa
yang terjadi? Pertemuan itu menjadi awal bagi permusuhan panas di antara
keduanya. Magalie yang menolak memakan macaron
yang merupakan master piece Philippe
telah membuat laki-laki itu tersinggung. Untuk pertama kalinya dalam hidup
Philippe ada yang menolak makanan buatannya. Hal ini sangat mengganggu bagi
Philippe.
Sejak
itu, Philippe pun tidak bisa melepaskan pandangannya dari Magalie. Hal yang
sama pun berlaku bagi Magalie. Butuh pengendalian diri yang sangat besar bagi
Magalie agar tidak tergoda mencicipi pastry
buatan Philippe yang tampilannya sangat menggugah itu. Namun Magalie harus
bertahan. Ia harus memastikan Philippe tidak menghancurkan satu-satunya tempat
di mana ia merasa hidup dan dibutuhkan.
Perseteruan
di antara keduanya semakin memanas. Namun ternyata di antara mereka ada percik
asmara yang muncul. Namun mungkinkah? Bagaimana nasib La Maison des Sorcières?

***

“Cinta
bisa menyeberangi dua dunia. Cinta saling melintasi mereka dan terus saja
saling melintasi mereka.” (Hal. 65)

Novel The Chocolate
Kiss ini adalah salah satu dari 4 Chocolate
Series
karya Laura Florand. Dan ini adalah buku pertama Laura Florand yang
saya baca.
Saat
membacanya saya menyadari bahwa kekuatan bercerita Laura Florand adalah pada
deskripsi. Ia sangat piawai mendeskripsikan tempat. Caranya menggambarkan île Saint-Louis sangat menarik dan
membuat saya tertarik. Membuat saya membangun imajinasi yang sangat indah
tentang tempat ini.
Kepiawaian
ini pun terlihat dari bagaimana cara penulis menampilkan sosok Magalie. Bahkan
cara Magalie berjalan dengan stiletto
pun menjadi seperti sebuah statement tersendiri
bagi tokoh Magalie.
Laura
Florand juga berhasil mendeskripsikan proses pembuatan minuman coklat ala
Magalie bak sebuah sihir. Pun dengan cara Philippe membuat kue-kuenya. Setiap
langkah yang dilakukan Lyonnais terdeskripsikan dengan baik tanpa membuat
pembaca merasa bosan.
Kekurangan
buku ini adalah konflik yang kurang kuat. Ya, kurang kuat karena terlalu
berputar di konflik antara kedua tokoh utamanya, Magalie dan Philippe. Awalnya
berputar di “perang” keduanya, kemudian berkembang ke ketertarikan namun sempat
lama berputar di hal tersebut. Bagaimana keduanya menyadari ketertarikan itu
namun berusaha menampiknya. Terutama dari pihak Magalie. Tidak ada konflik lain
yang mengiringi selain konflik pribadi Magalie yang sedang berusaha menemukan
tempat di mana ia dibutuhkan. Tempat ia merasa bahwa di sanalah tempatnya. Hal
yang seumur hidup ia cari karena kondisi pernikahan kedua orangtuanya yang
tidak umum.