Penulis                 : Riawani
Elyta
Penerbit              : Bentang
Cetakan               : Pertama,
Maret 2013
Tebal                     : 224
halaman
Hal pertama yang
membuat saya tertarik pada buku ini adalah sampul bukunya yang unik. Ya, bagi
para penerbit, pastikan sampul anda cukup menarik saat tertangkap mata oleh
para penikmat buku. Selain itu, bagi penggila buku yang juga mengoleksi buku,
keunikan sampul sebuah buku bisa menjadi pertimbangan  yang sangat penting saat mereka ingin
menambah koleksi buku. Tapi tetap saja selera itu sangat subyektif jadi belum
tentu menurut saya menarik, bagi orang lain pun menarik.
Saat pertama
kali membaca bab pertama buku ini saya langsung berfikir, “Wah dia membukanya
langsung dengan sebuah klimaks. Hm..menarik..dan cukup berani”. Bagi yang sudah
sering membaca berbagai jenis novel dari berbagai genre, maka membuka sebuah
novel dengan cerita klimaks sangat butuh kehati-hatian karena jangan sampai
anti-klimaks terjadi di pertengahan hingga akhir cerita. Itu akan membuat
pembaca menjadi enggan untuk melanjutkan bacaannya.
Di bab awal kita
disuguhi kehidupan seorang Dania yang kehilangan suaminya, Andro. Ia dan suaminya
membuka sebuah kedai kopi bersama. Kegilaan Andro pada kopi menular pada Nia –sapaan
akrabnya- dan kegilaan Andro pada kopi membuat Dania selalu menghubungkan aroma
kopi dengan sosok suaminya itu.

Maka sepeninggal
Andro, Nia harus menghadapi kehidupan yang sulit karena terus menerus
berhadapan dengan aroma kopi yang akan selalu menyelimutinya dengan kenangan
bersama Andro. Di saat yang sama Nia harus meneruskan usaha kedai kopi yang
sebelumnya dikelola sendiri oleh Andro. Kedai kopi tersebut sepeninggal Andro
mengalami berbagai masalah mulai dari loyalitas pegawai, pesaing yang semakin
banyak, hingga penurunan omset yang cuku besar saat UMK (upah minimum kerja)
malah naik cukup tinggi.
Di tengah semua
masalah itu, ternyata Nia masih harus menghadapi masalah pribadi dengan
hadirnya sosok pria lain yang mencoba menggantikan posisi Nia. Di saat yang
sama Nia pun masih terus belajar merelakan Andro dan sering kali masih
merindukan sosok suaminya itu. Semua masalah itu berhasil dikemas dalam cerita
dengan alur yang tepat. Tidak lambat, tidak cepat. Sehingga saat membacanya
saya tanpa sadar berhasil menyelesaikan buku tersebut.
Tambahan lagi,
bagi penikmat kopi yang ingin tahu banyak tentang kopi, buku ini pun bisa
menjadi alternatif yang menarik. Sambil membaca ceritanya kita akan memperoleh
beberapa informasi yang menarik. Bagi pengusaha kedai kopi, buku ini juga layak
baca karena bisa merepresentasikan dunia usaha tapi dengan cara yang lebih
ringan.
Kalau harus
memberi nilai dengan skala 1 – 10, maka
buku ini saya beri nilai 8
. (^_^)