Penulis: Kristina
Springer
Penerjemah: I Gusti
Nyoman Ayu Sukerti
Penyunting: Rina
Wulandari
Penyelaras aksara:
Ananta
Penata aksara: Dini
Handayani
Desainer sampul:
iggrafix
Penerbit: Noura Books
Cetakan: I, Januari
2012
Jumlah hal.: 302
halaman
ISBN: 978-602-9225-26-6
Aku
Jane Turner, seorang barista. Sekarang aku lebih dikenal sebagai Espressologist
– orang yang bisa menjodohkan orang lain sesuai dengan kopi favorit mereka.
Semua orang di kota membicarakanku, mereka yang belum punya pasangan datang
padaku, dan tiga host TV ternama mewawancariku. Keren, kan?
Semua
orang yang datang padaku akan segera mendapatkan pasangan. Aku jamin 100%.
Lalu
bagaimana denganku? Apa aku sudah punya pasangan?
Sayangnya,
beum. Tapi, setidaknya sekarang aku sudah menemukan targetku – cowok keren dan
baik hati yang jadi pelanggan nomor satuku. Yah, walaupun kopinya bukan jodoh
kopiku, kurasa aku bisa melakukan sedikit penyesuaian dengan kopi favoritku.
Rencanaku ini pasti berhasil. Dan kuharap keberuntungan biji kopi berpihak
padaku.
***
Menjadi
barista adalah pelarian bagi Jane Turner. Ia bekerja di Wired Jo’s demi
mengumpulkan dana untuk kuliahnya. Selain itu, ia merasa bahwa ia tidak perlu
lagi datang ke sekolah. Itulah kenapa ia melakoni pekerjaan sebagai barista.
Namun ia pun mulai merasa bosan dengan pekerjaannya. Sehingga untuk mengisi
kebosanan, ia membuat catatan tentang menu kopi di tempatnya bekerja dengan
karakter para pelanggannya.

Dan
ia semakin mampu menebak dengan tepat jenis minuman yang akan dipilih seseorang
berdasarkan penampilan dan karakternya. Ia kemudian menyebutnya sebagai
Espressologist.

Suatu
hari, secara iseng ia menjodohkan dua orang pelanggannya. Dan ternyata
berhasil. Ia kemudian melakukan hal yang sama kepada sahabatnya, Emily, dan
kepada teman sekerjanya yang lain. Dan ternyata lagi – lagi mereka match.
Hingga
suatu hari manager mereka mengetahui hal tersebut. Awalnya sempat cemas kaena
menduga bahwa itu akan jadi masalah, namun ternyata ia salah. Kemampuannya
sebagai Espressologist menjadi bermanfaat. Banyak pengunjung yang datang hanya
untuk dijodohkan. Dan mendadak saja ia menjadi terkenal.
Sayangnya,
kemampuannya memang bisa membantu percintaan orang lain tapi tidak dengan
kisahnya sendiri. Ah, lantas bagaimana kehidupan June setelahnya.
Dan
bagaimana nasib pershabatannya dengan Emily saat mendadak laki – laki yang
dijodohkannya dengan Emily (dan akhirnya disukai oleh Emily) malah menciumnya
dan dilihat langsung oleh Emily. 
Apakah
kepopuleran memang penting?
***
Membaca The Espressologist
ini memang menarik. Cara Jane menggambarkan pelanggannya benar – benar menarik.
Lihatlah kalimat pembukanya:
Large
Nonfat Four – Shot Coffee Latte
Kopi
pilihan cowok jablay berotak ngeres dan dangkal. Tingkat kecerdasan jongkok.
Postur tubuh biasa – biasa saja dan sangat perlu berolahraga. Punya penampilan
yang urakan. Matanya jelalatan meloloti cewek seksi yang barusan masuk. Lama –
lama lehernya bakal patah karena diputar untuk meliriknya.
Uh..oh..
tajam ya. Ha..ha.. sayangnya tulisan ini tidak konsisten dengan karakter Jane. Apalagi
saat Jane berhadapan dengan Melissa, karakter blak – blakan in tidak muncul.
Jane tidak berhasil digambarkan sebagai perempuan kuat dan percaya diri secara
konsisten. Lagi pula kalau memang dia percaya diri kenapa dia tidak bisa
menyadari niat Will, cowok yang ditaksirnya itu? *malah sebel sendiri*
Tapi
ide cerita ini dan sangat remaja. Masalah – masalah yang berkutat di kepala
Jane mencerminkan hal yang banyak dialami oleh remaja lain. Bully-ing pun jadi
bagian kecil dari cerita yang ada.
Tapi
rasanya masih kurang greget karena klimaksnya masih kurang. Konflik dan
penyelesaiannya cukup bisa terduga. Namun karena dituturkan dengan menarik,
membacanya pun tetap nikmat dan tidak membosankan.
Pssst..
buku ini kembali dicetak ulang dengan cover baru. Ah, naksir cover barunya
(>_<)
ini cover barunya, Readers. Lebih manis