Judul dalam Bahasa Indonesia: Salahkan Bintang-Bintang
Karya: John Green
Penerjemah: Inggrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit: Qanita
Cetakan: II, April 2013
Jumlah hal.: 424 halaman
ISBN: 978-602-9225-58-7
Siapa bilang
penderita kanker orang yang kuat? Mereka mungkin orang yang terkadang berharap
segera meninggal karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakit akibat kanker
yang mereka derita. Melalui karya John Green ini kita akan berkenalan dengan
seorang tokoh fiktif yang mungkin saja sebenarnya berhasilkan merepresentasikan
kehidupan sejumlah orang yang hidup dengan menerima bahwa sebuah penyakit telah
menjadi bagian dari dirinya.
Melalui sudut
pandang orang pertama yang digunakan oleh penulis, kita akan memandang hidup
melalui pikiran dan perasaan seorang Hazel Grace. Seorang anak perempuan yang
berusia 16 tahun yang menderita kanker sejak usianya 13 tahun yang menjalani
hidup dengan berbagai pikiran tentang itu atau ini adalah efek dari kanker atau
keisitimewaan kanker atau hal lainnya. Menjelaskan tentang Hazel Grace saja
merupakan sebuah kerumitan sendiri. Saya tidak begitu paham tentang istilah
kedokteran atau bahkan bahasa kedokteran sehingga jika ada yang bertanya kanker
apa yang diderita Hazel, maka saya akan menjawab dengan mengutip kalimat Hazel
dalam salah satu perkenalan di Kelompok Pendukung yang ia ikuti

“Namaku Hazel.
Usiaku enam belas. Tiroid dengan metastasis di paru-paru. Aku baik-baik saja”
(ada catatan kaki untuk kata metastasis yakni berarti penyebaran penyakit
kanker ke bagian lain tubuh). Hm..satu yang baru saya ingat yakni nama Hazel
juga adalah nama boneka yang sering membuat saya merinding di kostan ini.
*hm..abaikan keterangan ini*.
Hazel kemudian
berkenalan dengan Augustus Waters di Kelompok Pendukung. Augustus adalah teman
Isaac, teman Hazel di Kelompok Pendukung. Isaac menderita kanker di matanya
yang pada akhirnya membuat ia kehilangan kedua matanya. Augustus sendiri menderita
osteosarkoma yang membuat ia kehilangan sebelah kakinya.
Setelahnya
hubungan Hazel dan Augustus menjadi fokus utama dalam cerita ini. Tentang Hazel
yang berusaha mengabaikan Augustus dan perasaannya terhadap laki-laki itu
seperi ia menghindari semua kedekatan yang ia miliki dengan orang lain. Hazel
merasa dirinya sebagai bom waktu. Sebagai orang yang suatu hari pasti akan
menyakiti orang-orang yang menyayanginya. Sebab ia tahu bahwa suatu hari dia
akan meninggalkan mereka.
Maka menjadi hal
yang wajar jika di dalam beberapa bagian akan ada air mata yang mengalir. Saat
menyadari bahwa selain harus menahan rasa sakit yang tak tertahankan, mereka
juga harus menahan diri dan berkutat dengan pikiran-pikiran yang tidak akan
bisa dimengerti oleh orang yang sehat. Itulah kenapa kita harus mengakui
tentang seberapa kuat mereka.
Pengejaran Hazel
dan Augustus atas kelanjutan cerita dari novel Kemalangan Luar Biasa yang ditulis oleh Peter Van Houten semakin
mendekatkan mereka. Mereka bahkan berhasil menyusul penulisnya ke Amsterdam.
Namun ternyata sesampai di sana mereka harus mengakui bahwa dunia bukanlah pabrik
pewujud keinginan. Van Houten tidak seperti yang mereka ekspektasikan. Namun
kepergian mereka ke Belanda tetap tidak akan mereka sesali sebab di sana mereka
menikmati perasaan mereka satu sama lain.
Namun
sepulangnya mereka dari Belanda, sebuah kenyataan menghantam Hazel. Kanker
kembali menguasai tubuh Augustus dan sepertinya kemenangan sudah jelas milik
siapa. Di moment ini pikiran-pikiran terdalam Hazel kembali bisa kita baca.
Mengingatkan kita kembali pada berbagai realitas dalam kehidupan.
Ya, buku ini
menarik sekaligus mengharukan. Menampilkan pahlawan dalam sebuah perang yang
hanya menjadi milik orang-orang tertentu. Tokohnya tidak sempurna namun cerdas.
Hm..buku ini bisa menjadi salah satu buku favoritku tapi tetap berada dibawah
Harry Potter dan My Sister Keeper karya Jodi Picoult. Ah, hidup drama keluarga.
He..he..
Hm..jika saya
harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai
8,5 (^_^)