Judul
asli: Liebe in Zeiten de Cola
Penulis:
Peter Theisen
Penerjemah:
Amanda Clara
Penyunting:
Ridwana Saleh
Proofreader:
Emi Kusmiati
Penerbit:
Qanita
Cetakan:
I, Oktober 2015
Jumlah
hal.: 400 halaman
ISBN:
978-601-1637-77-7
Rasa Coca-cola di mana-masa sama;
Tapi bagiaman rasanya cinta?
Di Georgia, kulit domba yang
dihamparkan artiya siap menuju pernikahan. Di Indonesia, adat Minangkabau,
orang yang naik dan turun dari tangga yang sama artinya menabuh genderang
perang pada keluarga pengantin. Pada pesta-pesta pernikahan di Zanzibar, kaum
perempuan mabuk buah pala hingga tak sadarkan diri.
… sesungguhnya apa persamaan
cinta dalam berbagai budaya di dunia? Peter Theisen mencari jawabnnya dengan
berkeliling dunia dalam petualangan “Tour d’amour” yang menegangkan sekaligus
lucu.
***
Buku ini adalah sebuah tulisan
non-fiksi yang ditulis dengan gaya bahasa populer. Sehingga meskipun membahas
hal yang cukup berat yakni terkait budaya, namun tetap enak untuk dibaca. Jika
membaca karya ilmiah dengan bahasa ilmiah dengan ketebalan 400 halaman tentu
sudah banyak pembaca yang melambaikan tangan dan menyerah sejak 10 halaman
pertama. Namun gaya berceritanya yang mengalir dan santai serta memasukkan
pengalaman indrawi membuat buku ini enak untuk dinikmati.
Buku ini terbagi menjadi beberapa
bagian yakni:
– Prolog
– Georgia, Negerinya Tabu
– Zanzibar, Dua Pesta Perkawinan
dan Serunya Gelak Tawa
– Sumatra, Seorang Macho di
Sekumpulan Wanita Kuat
-Polinesia, Apakah Bebas Bercinta
– Epilog, Perayaan Kelulusan
Dalam buku ini, penulis membawa
pertanyaan yang sama ke setiap negara yang dikunjunginya. Bagaimana orang
merayakan cinta di negara tersebut? Ia meneliti tentang cinta. Maka ia akan
berusaha mencari tahu tentang pernikahan dan seks di negara tersebut.
Menariknya setiap negara ini
memiliki caranya masing-masing. Tapi semuanya ternyata sudah mulai mendapat
pengaruh dari globalisasi, namun dengan skala yang berbeda. Di Georgia dia
menemukan bahwa keperawanan masih sangat berarti di negara tersebut dan
pengaruh gereja sangat kuat. Membicarakan seks dianggap sebagai hal tabu. Namun
ternyata itu tidak benar-benar mencegah seks sebelum menikah dan malah menjadi
pemicu menjamurnya klinik yang menyediakan jasa mengembalikan keperawanan.
Merasa mengenal fenomena ini?
Di Georgia juga ada yang namanya
tradisi penculikan pengantin. Ini sebenarnya lebih seperti jebakan pernikahan
bagi perempuan. Mereka diculik, kemudian dinodai hingga tidak memiliki pilihan
lain selain menikahi pria tersebut. Syukurlah fenomena ini sudah sangat jarang
terjadi dan sudah dianggap sebagai tindakan kriminal di Georgia. Penjelasan
lebih lengkapnya bisa dibaca di buku ini ya.
Itu baru satu negara. Bagaimana 3
negara lainnya? Dan kira-kira apa yang ditemukan oleh penulis saat mengunjungi
Minangkabau ya? Semuanya disuguhkan dengan menarik.

***
Membaca buku The Geography of Love ini
terasa sama menariknya dengan tulisan feature
yang sering ada di koran. Jangan membayangkan berita yang serius. Buku ini
lebih banyak menggunakan sudut pandang penulis. Lebih tepatnya pengalaman
pribadi penulis.
Melalui deskripsi yang
disampaikan penulis, kita bisa membayangkan dengan lebih jelas pengalaman
penulis saat melakukan penelitiannya tentang cinta. Pembaca akan menemukan
deskripsi yang mengnggambarkan pengindraan penulis. Bagaimana aroma yang dia
hirup, bagaimana angin menyentuk kulitnya, bagaimana terik matahari ia rasakan
mengenai tubuhnya dan pengalaman semacam itu. Deskripsi ini membuat tulisan
Peter Theisen ini menjadi lebih menarik.
Di saat yang sama, penulis pun
memasukkan sejumlah opini yang sudah terbentuk lebih awal sebelum ia melakukan
penelitian tersebut. Yang paling terasa dan sebenarnya cukup mengganggu saya
adalah anggapan dia tentang Islam. Ia telah membangun persepsi bahwa Islam
membatasi kebebasan dan bahkan cenderung membuat sejumlah hal terkait hak asasi
manusia ternodai. Pikiran ini yang membuat ia mempertanyakan banyak hal.
Seperti saat ia berkunjung ke Minangkabau dan men-share berita di Indonesia tentang seorang pria yang dipenjara
karena mengaku sebagai seorang ateis di Facebook. Ini mengganggu pemikiran
penulis, bahwa bagaimana hukum Islam memengaruhi hukum di Indonesia.
Menariknya ia mempertanyakan
“standar ganda” yang dia alami di Minang. Ia menemukan bahwa saat duduk di
sepeda motor, norma terkait bersentuhnya laki-laki dan perempuan terhapus
sementara. Namun steelah turun dari motor, hal ini berubah. Saya cukup dibuat
geleng-gelang kepala oleh sikap sosok Indah yang diceritakan oleh penulis.
Ialah yang membuat pikiran semacam itu muncul di kepala Peter. Tapi ya
begitulah, setiap orang memiliki sikap sendiri dalam memandang satu hal yang
sama.
Buku ini menyuguhkan tentang
tradisi terkait cinta, pernikahan dan seks 4 negara yang berbeda. Sebuah buku
yang informatif. Sarat pengetahuan baru terkait sosial budaya masyarakat di
negara lain. Dan sejujurnya mengetengahkan sejumlah fakta baru yang jarang saya
baca di tempat lain.
Buku semacam ini selalu memberi
kepuasan saat membacanya. Karena salah satu kesenangan yang diperoleh dari membaca
adalah menemukan informasi dan atau pengetahuan baru. Dan di dalam buku ini
saya menemukan banyak informasi baru untuk saya cerna dan olah menjadi
pengetahuan.