“Dunia
fiksi begitu membosankan? Sepanjang hidupku, aku justru mendengar sebaliknya!
Kebanyakan orang membaca novel untuk melarikan diri sejenak dari kenyataan.”
(Hal. 182)


Penulis: Guillaume
Musso
Penerjemah: Yudith
Listiandri
Penyunting: Selsa
Chinty
Proofreader: Titish
A.K.
Design cover: Chyntia
Yanetha
Penerbit: Spring
Cetakan: Pertama,
September 20116
Jumlah hal.: 448
halaman
ISBN: 978-602-74322-4-6
Gadis
itu terjatuh dari dalam buku.
Hanya
beberapa bulan yang lalu, Tom Boyd adalah seorang penulis miliarder yang
tinggal di Los Angeles dan jatuh cinta pada seorang pianis bernama Aurore.
Namun, setelah putusnya hubungan mereka yang terekspos publik, Tom menutup
dirinya, menderita writer’s block parah, dan tenggelam dalam alkohol dan obat
terlarang.
Suatu
malam, seorang gadis asing yang cantik muncul di teras rumah Tom. Dia mengaku
sebagai Billie, karakter dalam novelnya, yang terjatuh ke dunia nyata karena
kesalahan cetak dalam buku terakhir Tom.
Meskipun
cerita itu gila, Tom harus percaya bahwa gadis itu benar-benar Billie. Akhirnya
mereka membuat perjanjian. Jika Tom mau menulis novel agar Billie bisa kembali
ke dunianya, Billie akan membantu Tom untuk mendapatkan Aurore kembali.
Tidak
ada ruginya, kan? Iya, kan?
***

“Biarkan
hidup memberimu hal-hal baik, dan jangan selalu takut kehidupan akan
menyakitimu.” (Hal. 192)

Novel
ini dibuka dengan prolog berupa potongan berita tentang novel karya Tom Boyd,
tokoh utama dalam novel ini, beserta berita tentang hubungan percintaannya
dengan pianis terkenal, Aurore. Dan di akhir prolog ini dimuat berita tentang
bagaimana hidup Tom Boyd berubah setelah berakhirnya hubungannya dengan Aurore.
Pembukaan
kisah ini menggambarkan secara gamblang bahwa tidak ada orang yang kebal dari
sakit hati karena putus dari kekasih. Bahkan seorang penulis terkenal sekali
pun. Dan ada sejumlah orang yang memutuskan untuk menghancurkan hidupnya
sendiri dan berkubang dalam keterpurukan serta terserang depresi karena patah
hati. Tom Boyd salah satunya.
Namun
entah ia mengidap skizofrenia atau memang Billie, karakter fiksi yang ia
ciptakan dalam novelnya, adalah sosok yang benar-benar hadir secara nyata
dengan menyebrangi dunia fiksi dan masuk ke dunia nyata milik Tom. Kehadiran Billie
membawa serta petualangan baru dalam hidup Tom. Saat sahabatnya Milo yang juga
agen dan manager-nya mengabarkan kebangkrutan mereka serta berupaya memasukkan
Tom ke klinik psikiater, Tom pun memilih untuk kabur dan “bertualang” bersama
Billie.
Mereka
membuat perjanjian, Tom harus melanjutkan novel terbarunya agar Billie bisa
pulang kembali ke dunia fiksi, dan sebagai gantinya Billie akan membantuk Tom
mendapatkan kembali Aurore.
Di
sisi lain, tidak hanya Tom yang mengalami petulangan. Buku edisi khusus yang
dicetak terbatas yang merupakan tempat Billie “muncul” dari dalam buku, pun
mengalami perjalanannya sendiri. Buku ini hilang dan kemudian menjejak dan
memasuki banyak kehidupan lain. Namun di sisi lain, buku ini harus ditemukan
agar Billie bisa tetap bertahan hidup di dunia nyata hingga naskah yang ditulis
Tom selesai dikerjakan.  Buku ini sempat
menjelajah ke California, Roma, Korea Selatan dan akhirnya ke Paris. Penjelajahan
buku ini membawa Milo dan Carole, dua sahabat Tom sejak hidupnya masih penuh
kekelaman, menjadi lebih dekat dan satu persatu rahasia mereka terbongkar. Upaya
mereka untuk menarik Tom keluar dari kubangan kesedihan semakin mempersatukan
mereka.
Bagaimana
akhir dari kisah ini? Siapa sebenarnya Billie ini?

“…
‘Billie’ tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita
mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan – kecantikan, pendidikan, kekayaan,
bakat – sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit
anugerah.” (Hal. 74)

***

“Menulis
melemparkanku ke dunia yang aneh: realitas memudar sedikit demi sedikit dan
para tokohku di ruang fiksi menjadi begitu nyata sampai mereka mengikutiku ke
mana-mana.” (Hal. 107)

Buku
ini kaya akan pengalaman sebagai seorang penulis dan juga pembaca fiksi. Saat
membaca buku ini, saya merasa bahwa Guillaume Musso membuka tabir tentang isi
pikiran seorang penulis tentang proses kreatif mereka, tentang arti karya bagi
seorang penulis, hingga arti seorang pembaca bagi seorang penulis. Salah satu
yang paling terasa adalah penjelasan yang disampaikan oleh Tom di halaman 107.
Apakah itu pengalaman Guillaume Musso semata atau mungkinkah itu pengalaman
para penulis lain juga?

Di
sisi lain, ia pun menempatkan diri sebagai pembaca. Ia mampu menampilkan arti
karya fiksi, sebuah cerita, bagi para pembaca. Bagaimana sebuah buku bisa
memengaruhi kehidupan seseorang. Yang paling menarik adalah saat Tom melakukan
penelitian tentang hubungan dunia fiksi dan kenyataan. Penjelasana di halaman
290 menjelaskan dengan bak hubungan antara penulis dan pembaca.
Selama
membaca The Girl on Paper ini saya menyadari bahwa Guillaume Musso melakukan
riset yang cukup serius mengingat ia membuat “buku yang salah cetak” itu
memiliki perjalanannya sendiri. Mengaruhi separuh dunia untuk mendapatkan
“takdir”nya. Sebuah kebetulan yang memberi kebahagiaan bagi pembaca.
Oiya,
saat membaca halaman 191, saya tersenyum. Ada adegan di mana seorang suami
dibangunkan tengah malam demi mencari sebuah buku untuk istrinya. Bagi seorang
pecinta buku seperti saya, maka ini adalah adegan yang manis. Meski saya tahu
suami saya akan menertawakan kesenangan saya atas adegan ini dan berkata,
“Kalau saya tidak akan mau.” Ha..ha..
Bagi
mereka yang senang membaca dan menulis, buku ini akan menjadi pengalaman
membaca yang menyenangkan. Dan sejujurnya pengalaman pertama membaca novel
populer dari Perancis (karena yang lebih umum diketahui di Indonesia adalah
novel klasik) terasa sangat menyenangkan dan membuat saya penasaran dengan
karya-karya Guillaume Musso lainnya, serta karya penulis Perancis lainnya.

“Dan,
semua nilai moral yang kau ajarkan di bukumu: daya tahan dalam menghadapi
kesulitan, kesempatan kedua, menemukan kekuatan dalam diri untuk bangkit
kembali setelah jatuh – semua itu lebih mudah untuk ditulis daripada dilakukan,
kan?” (Hal. 126)

***
Kumpulan Quote dalam The Girl on Paper
“Untuk
membuat karya yang berharga, beberapa pekerja seni harus menciptakan
keputusasaan ketika tak ada cukup penderitaan dalam hidup mereka sendiri.
Pekerja seni yang lain menggunakan kesedihan mereka sendiri atau sanak
kerabatnya sebagai semacam pemicu.” (Hal. 168 – 169)
“….
Tapi, gairah itu seperti obat-obatan. Pengetahuan akan efeknya yang merusak
tidak pernah menghentikan siapa pun dari menghancurkan diri sendiri begitu
mereka terjerat olehnya.” (Hal. 235)
“Kau
membuat ikatan, lalu memutuskannya – itulah hidup. Pada akhirnya, kalian akan
pergi ke arah yang berbeda, tanpe pernah tahu penyebabnya. Aku tidak bisa
memberikan segalanya untuk orang lain sementara aku tahu sesuatu yang buruk
akan terjadi. Aku tidak ingin membangun kehidupanku di atas perasaan, karena
perasaan selalu berubah. Perasaan itu rapuh dan tak pasti.” (Hal. 238)
“Kurasa
itulah makna semua cinta pada akhirnya:  keinginan
untuk mengalami semua hal bersama-sama, belajar dari perbedaan satu sama lain.”
(Hal. 239)
 “Aku tahu kita hanya layak mendapatkan cinta
kalau kita memberikan seluruh jiwa raga kita kepadanya, mengambil risiko
kehilangan segalanya….” (Hal. 240)
“Tapi,
apa enaknya sendiri?Kesepian adalah hal terburuk di dunia.” (Hal. 243)
“Milo,
aku tidak peduli tentang uang. Uang tidak mengisi kekosongan; uang tidak
memecahkan masalah, kau tahu itu.” (Hal. 258)
“Betapa
seringnya kita gagal mengetahui penderitaan orang-orang yang paling kita
sayangi.” (Hal. 261)
“Waktu
berlalu dan kita mengalir bersamanya, lebih sering melakukan apa yang kita bisa
daripada apa yang kita inginkan. Sisanya tergantung pada nasib dan
keberuntungan. Itu saja.”(Hal. 311)
“Aku
mungkin memang penulis buku, tapi aku bukan Tuhan. Fiksi memiliki aturannya
sendiri dan orang brengsek busuk itu tidak bisa tiba-tiba berubah menjadi
menantu yang ideal dari satu buku ke buku berikutnya.” (Hal. 339)
“Beberapa
orang sangat pintar melakukannya: memulai hidup mereka kembali. Yang bisa
kulakukan hanyalah meneruskannya.” (Hal. 437)