“Kau
selalu bersikeras melakukan segalanya sendiri. Tidak ada salahnya membiarkan
orang lain membantumu.” (Hal. 80)
 
Penulis: Sam Madison
Penerjemah: Brigida Ruri
Penyunting: Titis Wardhana
Penyelaras Aksara: Arumdyah Tyasayu
Desain Kover: Marla Putri
Layout Kover: @ryanologi
Penerbit: Haru Media
Cetakan: Pertama, November 2017
ISBN: 978-602-2383-31-0
“Kenapa kau bersama Seth Everett?” tanya Cedric.
“Kau tahu cowok macam apa dia.”
“Oh, jangan khawatir.” Aku menghardik mantan pacarku itu.
“Kau sudah membantunya menghancurkan hatiku lebih dulu.”
Kemarin malam, Seth tiba-tiba menawarkan bantuan kepada Kyla untuk membalas dendam kepada Cedric. Cedric memang tidak menyukai Seth. Mungkin itu ada hubungannya dengan reputasi Seth yang suka gonta-ganti pacar.
Kyla juga tidak menyukai Seth. Namun tawaran itu terus-menerus ada di kepala Kyla.
Jika ia bisa membalas Cedric yang memutuskannya demi sahabatnya… mungkin rasa
sesak di dadanya bisa berkurang.
***
“Nak,
saat kau dewasa nanti, kau akan mengacaukan banyak hal dan kau juga akan
mengalami kegagalan, tapi jangan lupa bahwa hanya dibutuhkan sedikit bumbu
untuk membalikkan keadaan.” (Hal. 78)
Bagaimana rasanya menjadi pihak yang dicampakkan? Apalagi jika itu terjadi mendadak tanpa tanda apapun sebelumnya. Diputuskan saat dirimu bahkan sudah mempersiapkan hadiah ulang tahun yang spesial untuk kekasihmu dan yang kamu dapatkan hanya kata putus tanpa alasan yang jelas. Bagaimana perasaanmu? Bagaimana kamu menghadapinya?

Inilah yang dialami Kyla Evans saat secara mendadak Cedric Walter, orang yang sudah lama menjadi teman, sahabat dan kekasihnnya, mendadak memutuskannya. Ia bahkan tidak merasakan perubahan apapun dari diri Cedric sebelumnya. Membuat Kyla tidak siap sama sekali. Namun ia pun menyadari bahwa ia harus tetap berjuang melanjutkan hidup.
Kyla memutuskan untuk menjadi sosok yang berbeda. Mengubah  penampilannya. Namun tetap saja itu tidak mengakhiri perasaannya. Hingga suatu hari Seth Everett, yang terkenal karena ketampanan dan karismanya duduk di bangku di sebelahnya dan memulai percakapan.
Kyla yang sejak awal menyimpan rasa tidak suka pada Seth karena mengetahui reputasi Seth sebagai ‘heartbreaker’ tidak peduli. Namun di sebuah situasi, Seth malah ‘menyelamatkannya’ dari Cedric dan bahkan kemudian menawarkan sebuah rencana pembalasan dendam.
Saat rencana itu berjalan, banyak hal yang terjadi. Kyla mengenal sosok Seth lain yang berbeda dari yang ditampilkan laki-laki itu di hadapan orang lain. Dan Kyla merasa nyaman karenanya. Mereka jadi saling membuka diri. Namun saat masa lalu datang kembali, Kyla dan Seth menghadapi dilema. Mereka harus berhadapan dengan kisah masa lalu mereka. Kyla bahkan akhirnya mengetahui alasan kenapa Cedric meninggalkannya. Namun alasan itu juga yang membuat Kyla tidak bias meninggalkan laki-laki itu. Kyla ingin tetap membersamai Cedric. Namun di sisi lain ia dibuat bimbang dengan perasaannya pada Seth. Adakah masa depan bagi hubungan mereka berdua? 
“Semua
orang penulis, …. Seluruh hidupmu adalah sebuah kisah. Pilihan yang kau buat
setiap hari menentukan kisah seperti apa yng kau jalani. Beberapa orang,
seperti dirimu, punya kemampuan lebih dalam menggambarkan kata-kata dibandingkan
yang lain.” (Hal. 157)
***
“Melanjutkan
hidup bukan berarti melupakan, Ky,” ….”Melanjutkan hidup adalah mampu
mengingat tanpa terasa terluka.” (Hal. 111)
Novel yang diterjemahkan oleh Penerbit Haru ini berasal dari Filipina. Namun menariknya tulisannya tidak terasa sebagai karya yang berasal dari negara tersebut. Ini disebabkan ceritanya yang mengambil setting di Amerika.
Saat membaca novel ini, kita akan mendapati bahwa novel ini sangat remaja.Konfliknya yang didominasi oleh masalah percintaan namun juga dibalut oleh cerita tentang persahabatan yang retak dan penemuan terhadap teman-teman baru yang menyenangkan; serta konflik dalam keluarga yang menjadi konflik pendukung bagi pembentukan psikologi tokoh-tokohnya; tentu akan menjadi asupan yang bagus dan ringan bagi para remaja. Bahkan mamak-mamak sepertiku sangat menikmatinya. 
Ini karena narasinya sangat apik. Mengalir dengan baik. Percakapan yang terbangun antartokohnya enak dibaca. Deskripsi pas. Menariknya buku ini sendiri tidak terasa “dangkal”. Yang terpikir oleh saya saat membaca lembar terakhir buku ini  bukanlah tentang remaja yang patah hati. Melainkan sebuah pikiran yang mendalam tentang patah hati, kehilangan dan belajar untuk merelakan. Konflik keluarga yang dimiliki Seth dan Kyla juga menampilkan mereka sosok remaja yang berjuang untuk menjadi dewasa. Remaja yang belajar untuk menerima kenyataan hidup dan menghadapinya. Remaja yang tidak lagi hanya berpikir tentang dirinya sendiri.
Dan ini menjadi kekuatan novel ini. Sebab semua tokohnya berkembang Bersama konfliknya. Dan konfliknya saling terhubung dengan baik. Tidak ada konflik yang berdiri sendiri. Meski klimaks konflik tidak begitu tajam, namun terasa menyentuh karena setelah itu diikuti oleh penyelesaian yang mengharukan hati. 
Ah, novel ini menjadi pembuka yang menyenangkan di tahun 2018. Dan kamu perlu mencicipinya, Readers. Terutama bagi remaja dan yang senang membaca novel remaja.
“…
Itu adalah bagian dari sifat manusia dan kau tidak membenci dirimu sendiri
karena menjadi manusia, karena begitulah manusia. Kita melakukan kesalahan dan
kita mengacaukan segalanya, dan tidak ada gunanya kau membenci diri sendiri
karena itu tidak bisa dihindari.” (Hal. 176)
***