“Kadang-kadang
kita memang bisa melakukan hal yang tidak masuk akal untuk orang yang kita
sayangi. Salah satunya mungkin dengan mengorbankan nyawa.” (hal. 83)

Penulis: Ghyna Amanda
Editor: Fanti Gemala
Desainer sampul & ilustrasi: Dyndha Hanjani Putri
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Cetakan: 2014
Jumlah hal.: vi + 202 halaman
ISBN: 978-602-251-490-9
Bosscha Sterrenwacht, Grote Postweg, Beatrix
Boulevard, Lembangweg, Bilitonstraat—adalah segelintir nama yang tersirat dalam
lembaran lukisan milik seorang gadis bernama Julia.

Karena aksi sok heroiknya, Vero, seorang murid pertukaran pelajar dari London,
terpaksa harus membantu Julia memecahkan teka-teki dari lukisan-lukisan yang
menggambarkan berbagai bangunan kuno di Kota Bandung. Vero yang awalnya datang
ke Bandung untuk mempelajari angklung dan arumba, akhirnya harus terlibat dalam
petualangan menyusuri tempat-tempat bersejarah yang ada di dalam lukisan Julia.

Dalam petualangan itu, akhirnya teka-teki lain ikut terbongkar. Alasan mengapa
Julia bersikeras ingin memecahkan teka-teki dari lukisan tersebut, dan alasan
mengapa Vero harus terlibat dalam petualangan ini. Begitu juga dengan simpulan
akhir perasaan keduanya

***
Ini adalah novel
kedua karya Ghyna Amanda yang saya baca dan dalam kurun waktu yang berdekatan.
Dengan mengambil sudut pandang orang pertama, dan lagi-lagi dari tokoh utama
laki-laki, Ghyna mengangkat Bandung sebagai latar tempat yang paling mendominasi
cerita.
Tokoh utama pria
Vermarine Evergreen atau Vero, seorang remaja 17 tahun asal London yang mencari
petualangan dan pengalaman hidup jauh dari orang tuanya, akhirnya terdampar di Bandung
dalam kegiatan pertukaran pelajar selama sebulan. Essainya tentang angklung
membawanya ke Bandung untuk belajar lebih juah tentang instrumen musik dari
bambu tersebut.
Hari pertamanya
di Bandung, ia bertemu dengan Julia. Pertemuan itu berjalan sangat buruk.
Hingga akhirnya pertemuan pertama inilah yang membawa Vero pada upaya menjawab
teka-teki yang berkaitan dengan Ayah Julia yang sudah meninggal. Dalam
pencarian ini Vero dan Julia dibantu oleh Gesang. Ya, nama ini tidak asing  bagi mereka yang sudah membaca review atau
bahkan membaca novel Ghyna Amanda yang satu lagi. Gesang adalah tokoh utama
novel Fuurin yang ditulis oleh Ghyna Amanda.
Membaca novel
ini memberi banyak bahkan sangat berlimpah informasi tentang kota Bandung dan
sejumlah bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda di era awal tahun
1900-an. Bagi saya yang cukup tahu tentang sejarah ini, membaca novel ini
menjadi membosankan. Bahkan sejujurnya saya menangkap beberapa kesan menggurui
dalam novel ini.

Selain itu,
sejujurnya saya merasa penulis terlalu memaksa untuk menggunakan sudut pandang
Vero yang orang asing. Ini membuat cerita ini jadi tidak konsisten dari segi
percakapan. Kenapa? Karena Vero diceritakan tidak bisa berbahasa Indonesia.
Lantas bagaimana mungkin di bisa menangkap pembicaraan begitu saja bahkan tanpa
ada proses penerjemahan. Lagipula, jika ia dari sudut pandang Vero, percakapan
antara Julia dan Gesang yang saya duga berbahasa Indonesia untuk lebih
memudahkan informasi (mengingat di awal-awal cerita Julia terlihat enggan
melibatkan Vero). Akan jauh lebih baik jika penulis mengambil sudut pandang
Julia. 
Saat membaca
novel ini ada beberapa bagian yang saya skip (baca sepintas lalu. Lebih ke scanning agar tidak melewatkan cerita
yang penting) karena membuat saya cukup bosan. Terlalu banyak informasi. Dan
jika mau, bisa memasukkan peta Bandung masa kini untuk memperjelas
tempat-tempat ini, jika memang mau mengangkat informasi ini secara serius.
Sejujurnya untuk genre remaja, cara berceritnya terlalu serius. Apalagi isi cerita terkait sejarah dan budaya juga cukup serius bagi bacaan anak muda. Sebaiknya bahasanya dibuat lebih gaul dan asyik lagi. (^_^)v
Untuk cover dan
layout dalam buku sudah bagus. Covernya remaja banget dengan warna-warna ceria.
Berdasarkan
keseluruhan novel ini, saya memberinya dua bintang. (^_^). Terus berkarya ya
Ghyna.