Film yang diadaptasi dari buku dengan judul yang sama karya
JRR Tolkien ini membuat saya cukup penasaran. Buku pendahulu The Hobbit yakni
The Lord of The Ring (LOTR) sangat membekas di dalam ingatan masa remaja saya.
Saya membaca buku LOTR saat duduk di bangku kelas 2 SMP, dan seingat saya di
masa itu film LOTR pun telah dibuat. Dan saya selalu menyimpan kesan tersendiri
baik pada buku maupun filmnya. Saya selalu dengan yakin berkata bahwa salah
satu film yang mampu mengadaptasi bukunya dengan sangat memuaskan adalah The
Lord of The Rings.
Menonton The Hobbit edisi 3D member saya pengharapan lebih. Saya
berharap dengan dukungan teknologi yang kian berkembang The Hobbit mampu
menyaingi LOTR bahkan mengalahkan LOTR. Dan sore ini saya mengakhiri rasa
penasaran saya dan menemukan jawaban atas pengharapan saya.
The Hobbit mengisahkan tentang seorang Hobbit bernama Bilbo
Baggins yang mencoba mengisahkan kembali petualangan yang dialaminya di masa
muda. Kisah yang dia tulis ini dimaksudkan untuk diwariskan kepada
keponakannya, Frodo Baggins. Film di mulai dengan alur Flashback ke 60 tahun
sebelumnya.
Bilbo “dijebak” oleh seorang penyihir tua bernama Gandalf
untuk ikut dalam petualangan 13 orang kurcaci. Para kurcaci ini dipimpin oleh
Thor, seorang raja kurcaci. Mereka bermaksud merebut kembali tanah dan harta
mereka yang dikuasai oleh Smaug, naga bernafas api yang menyebabkan para
kurcaci terusir dari rumah mereka sendiri. Setelah kehilangan tanah mereka,
para kurcaci kemudian hidup menyebar dan menjalani berbagia pekerjaan. Namun saat
itu memenuhi panggilan takdir mereka, ketiga belas kurcaci tersebut akhirnya
melakukan perjalanan untuk kembali ke tanah mereka.
Bilbo dijadikan “Bugler” atau pencuri atas “rekomendasi
tegas” Gandalf. Akhirnya kelima belas orang tersebut memulai perjalanannya. Di awal
perjalanan mereka berhadapan dengan 3 Troll besar yang nyaris berhasil
memanggang para kurcaci. Dengan bantuan kecerdasan Bilbo dan kekuatan Gandalf
ketiga Troll tersebut berhasil di”batu”kan. Mereka kemudian melanjutkan
perjalanan, namun di tengah jalan mereka dikejar oleh kawanan Orc yang
merupakan musuh bebuyutan Kurcaci. Perbedaan mendasar antara Troll dan Orc ada
pada tingkat kecerdasan dan kelihaian mereka dalam bertarung, namun dalam hal
kejahatan dan kekejaman serta ukuran badan maka mereka tidak jauh berbeda.  Di tengah upaya melarikan diri dari para Orc.
Mereka akhirnya masuk ke negeri para Peri. Di sana mereka sempat beristirahat
sejenak sebelum melanjutkan perjalanan dan berhasil ditangkap dan dibawa ke
sarang para Troll. Mereka akhirnya berhasil lolos namun seperti pepatah “Keluar
dari mulut singa, masuk ke mulut buaya” mereka kemudian kembali terjebak
pertarungan dengan para Orc. Petualangan it uterus berlanjut.
Mengamati film ini, saya harus
berkata bahwa antara The Hobbit dan LOTR ada perbedaan mendasar. The Hobbit
secara visual berupaya menampilkan gambar yang lebih terasa nyata. Di dukung
dengan efek 3D yang kian menguatkan kesan ini. Sedangkan LOTR secara visual
berusaha memuaskan imajinasi penggemar buku karya JRR Tolkien tersebut. LOTR
(seingat saya) memberikan kesan wah dalam hal tampilan tokoh-tokohnya dan
setting tempatnya. Contohnya perbedaan yang saya yakini akan sangat tampak
adalah lembah para peri atau elf, “Revendhill”, dalam The Hobbit menekankan
pada kemegahan setting di antara bebatuan, kekuatan cahaya senja yang melatar
belakangi beberapa adegan di lembah tersebut. Berbeda halnya dengan LOTR
(seingat saya) Revendhill itu memang megah dan dasar konstrukrinya adalah batu
namun selalu ada pendar cahaya yang membuat kesan Elf atau peri semakin kuat.
Selain itu, The Hobbit menurut
saya dibuat sebagai film yang menjelaskan dan menjadi pengantar bagi film LOTR
bukannya sebagai upaya menuangkan novel The Hobbit sendiri sebagai sebuah film.
Hal ini karena ada alur yang tidak ada dalam novel kemudian dimasukkan dalam
film namun terkait dengan kejadian yang digambarkan terjadi dalam LOTR. Bagi yang
membaca bukunya, pasti tahu bagian mana yang merupakan tambahan yang berada di
luar novel. Ya bagian yang menceritakan tentang Penyihir Coklat yang tinggal
dihutan (maaf saya lupa namanya). Tokoh Gollum yang dalam LOTR meraih banyak
penghargaan tampilannya tidak jauh berbeda dengan yang kini dibuat di The
Hobbit. Mungkin yang berbeda hanya kekayaan ekspresi yang ditampilkan oleh
Gollum.
Jika harus membeli nilai pada
film The Hobbit dalam skala 1 – 10, maka nilai 9 layak diberika mengingat
tampilan 3Dnya benar-benar terasa cukup nyata hingga dibeberapa adegan saya
bereaksi seperti orang yang menghindari batu atau menutup mata karena merasa
hampir dikenai oleh sesuatu. Selain itu setting tempat dalam film ini semuanya
bagus, meskipun saya cukup yakin liang Hobbit yang digunakan dalam The Hobbit
sama dengan liang Hobbit yang digunakan dalam LOTR.
Meragukan penilaian saya atau
jadi tertarik menonton filmnya? Silahkan tonton sendiri dan buktikan. J