Penulis                 : Asa
Nonami
Penerjemah         : Julanda Tantani
Penerbit              : Gramedia
Pustaka Utama
Cetakan               : I,
Desember 2012
Jumlah hal.         : 536 halaman
Buku ini membuat
saya tertarik karena sebelumnya saya baru saja menamatkan buku “The Tokyo’s
Zodiak Murderer” (jika saya tidak salah ingat judul, dan saya lupa nama
penulisnya (^_^)v). Apalagi ketika membaca sinopsis saya melihat bahwa novel
ini pun ber-genre detektif. Maka ketika sedang berada di Pesta Buku Bandung,
buku ini pun berhasil saya beli. (Ah, selalu menyenangkan saat bisa membeli
buku yang kita inginkan dengan harga yang lebih murah).
Buku ini dibuka
dengan kronologi dari sisi saksi mata saat sebuah kebakaran terjadi. Kebakaran yang
ketika diinvestigas lebih jauh ternyata bermotif pembunuhan. Akhirnya satuan
Polisi Kriminal pun dikerahkan untuk menyelidiki masalah ini. Termasuk detektif
perempuan bernama Takako Otomachi yang merupakan mantan polisi patroli sepeda
motor.
Dalam proses
penyidikan, sejumlah kasus baru bermunculan dengan ciri-ciri yang aneh. Yakni keberadaan
gigitan hewan dengan taring dan kekuatan yang cukup besar. Dalam kasus yang
pertama memang korban pun memiliki luka gigitan hewan, namun tidak menjadi
penyebab kematiannya. Namun pada kasus berikutnya, kematian korban disebakan
oleh cabikan hewan buas yang dicuriga sebagai anjing namun memiliki ciri yang
berbeda.

Proses penyelidikan
ini pun selain menjadi berat karena kebingungan menemukan otak dan motif dari
kasus tersebut, Takako harus menghadapi tantangan sebagai perempuan yang
bekerja di bidang yang didominasi oleh kaum pria. Ya, adanya kehati-hatian
dalam bersikap baik oleh rekan kerja dalam tim investigasi yang besar maupun
dari dirinya sendiri. Hal ini semakin dipersulit karena dalam investigasi,
Takako dipasangkan dengan Takizawa, seorang detektif senior yang bersikap sinis
karena kenyataan bahwa dirinya adalah perempuan.
Banyak pergulatan
batin baik dari pihak Takako maupun Takizawa yang diceritakan dalam buku ini. Memperjelas
kondisi yang dialami oleh wanita di dunia kerja yang masih dianggap sebagai “wilayah
pria”. Tekanan duni kerja dan persepsi rekan sekerja tentang emosi wanita dan
bagaimana itu akan mempengaruhi pekerjaan mereka.
Dalam hal alur
cerita ada bagian-bagian yang memang sangat seru untuk diikuti. Seperti layaknya
membaca sebuah novel detektif lainnya, tanpa sadar kita pun ikut mengambil
peran menginvestigasi dan membuat asumsi-asumsi berdasarkan yang kita baca
untuk memperkirakan pelaku pembunuhan dan motifnya. Namun buku ini punya
kekuatan yang unik dengan penentuan sosok pembunuhnya. (Ah, saya takut
mengganggu kesenangan pembaca dengan membocorkan informasi)
Jika harus menilai
secara keseluruhan, dari segi sampul buku ini pun menarik meski tidak tergolong
unik. Dari segi Layout tulisan ya biasa saja. Kalau dari segi kekuatan cerita
masih cukup bagus dan berhasil membangun ketertarikan pembaca terhadap kasus
dan sikap personal Takako dalam menghadapi lingkungan kerjanya. (saya sering
bertanya2 akankah Takako akan “meledak” dan mengkonfrontasi rekanannya,
Takizawa).
Jika harus membeli nilai pada buku ini dalam skala 1 – 10, maka saya memberinya nilai 8 (^_^)