“Membenahi
rumah adalah resep ajaib untuk menciptakan kehidupan yang berwarna dan bahagia.”
(Hal. 120)

Penulis: Marie Kondo
Penerjemah: Reni
Indardini
Penyunting: Ika Yuliana
Kurniasih
Perancang Sampul:
Wirastuti
Pemeriksa Aksara:
Fitriana & Pritameani
Penata Aksara:
gabriel_sih & Adrianus Adhistama
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah hal.: xviii +
206 halaman
ISBN: 978-602-291-244-6
“Marie
Kondo telah memosisikan diri sebagai seorang master berbenah, kesatria yang
berperang melawan situasi berantakan.”
-The
London Times
Walaupun
sudah susah payah merapikan rumah, apakah kertas-kertas terus saja bertumpuk
dan pakaian harus terus Anda jejal-jejalkan ke lemari? Kenapa kita tidak bisa
menjaga kerapian rumah?
Marie
Kondo memperkenalkan metode merapikan yang ampuh tiada duanya, KonMari.
Keampuhan metode yang kini semakin marak diterapkan di Jepang dan telah dikemas
dalam program televisi laris, “Tidy Up with KonMari!” ini, telah menular ke
seluruh dunia. Saking ampuhnya, tak seorang pun klien Kondo kembali ke
kebiasaan berantakan (dan calon kliennya harus masuk daftar tunggu selama tiga
bulan).
Beruntunglah,
melalui buku ini Anda berkesempatan:

menjadi klien jarak jauh Kondo, menentukan barang-barang mana saja di rumah
Anda yang “membangkitkan kegembiraan” dan mana yang tidak;

memulai kebiasaan berbenah yang efektif dengan sistem berbenah berdasarkan
kategori;

membabat habis situasi berantakan, hingga menikmati efek ajaib dari rumah yang
rapi – beserta pikiran damai yang mengikutinya.
***
“Namun,
perlu dicamkan bahwa Metode KonMari yang saya paparkan dalam buku ini  bukan sekadar tata cara untuk memilih,
mengorganisasi, dan menata barang melainkan juga panduan untuk memperbaiki pola
pikir supaya kita bisa menciptakan keteraturan dan menjadi pribadi yang rapi.”
(Hal. xvi)
Buku
ini adalah sebuah buku non-fiksi dengan bahasan yang menarik dan tergolong
unik. Ya, seni berbenah. Siapa yang
menduga bahwa persoalan berbenah pun bisa memiliki buku panduan. Apalagi dengan
gaya bahasa yang casual seperti di
buku ini.
Buku
ini tidak seperti buku panduang yang dipenuhi gambar dan step by step dalam
berbenah. Buku ini ditulis secara jelas dan rinci terkait kegiatan berbenar ala
Marie Kondo. Metode KonMari yang telah dipraktikkan oleh banyak orang. Buku ini
lebih seperti sebuah catatan personal Marie Kondo tentang metode KonMari yang
ia kembangkan.
Dengan
bahasa sehari-hari, Marie Kondo mengetengahkan metode berbenah yang ia
ciptakan, pengalamannya dalam menangani klien dan bahkan pengalaman personalnya
yang mendasarinya terjun ke “dunia beres-beres” ini.
Buku
ini terbagi menjadi 5 bagian yakni:
1. Kenapa Kita Tidak
Bisa Menjaga Kerapian Rumah?
2. Membuang Sampai
Tuntas Terlebih Dahulu
3. Berbenah Berdasarkan
Kategori Ajaibnya Bukan Main
4. Mencerahkan Hidup
dengan Menyimpan Secara Apik
5. Keajaiban Berbenah
Mengubah Hidup Anda secara Dramatis
Dalam
buku ini, penulis menekankan bahwa perbedaan seni beres-beres KonMari dari
metode berbenah lainnya adalah cara memulai dan memilah barang. Jika dalam seni
berbenah yang lain, kita disarankan untuk berbenah sedikit demi sedikit, maka
KonMari menegaskan untuk berbenah sekaligus. Kemudian pilih barang bukan karena
fungsinya atau bagus tidaknya melainkan yang paling utama adalah karena barang
tersebut membangkitkan kegembiraan.
“…,
kriteria terbaik untuk memilih barang yang harus disimpan atau dibuang adalah
sebagai berikut: apakah benda itu membuat Anda Bahagia atau tidak,
menggembirakan Anda atau tidak.” (Hal. 34)

Itu
sebabnya dalam metode KonMari, kita akan diminta untuk mengumpulkan seluuruh
benda dalam satu tumpukan berdasarkan jenis benda kemudian menyentuhnya satu
persatu sambil bertanya, “Apakah buku ini 
membangkitkan kegembiraan atau tidak?”. Jika ya, pertahankan. Jika tidak,
maka singkirkan. Buang atau sumbangkan.
Hal
ini ternyata terbukti mampu mengurangi barang-barang klien Marie Kondo hingga
tinggal 1/3 atau ¼ nya. Memang akan memakan waktu lama, namun dengan menyentuh
benda tersebut satu persatu, maka kita akan mampu merasakan sensasi yang
dibutuhkan untuk membuat keputusan.
Hal
menarik lain yang dikemukakan di dalam buku ini adalah bagaimana Marie Kondo
menyarankan pembaca untuk menyapa rumah dan barang. Ini erat kaitannya dengan
budaya Jepang dan keyakinan Shinto mereka. Ia menjelaskan bahwa dengan
mengucapkan terima kasih kepada setiap benda yang akan disingkirkan, maka itu
akan memberi dampak positif. Ini tergambar di halaman 54
“Jika
barang punya perasaan, ia pasti tidak senang disimpan terus oleh sang pemilik
yang melupakannya. Bebaskanlah barang-barang tersebut dari penjaranya. Bantulah
barang-barang itu untuk meninggalkan keterkungkungannya di antah-berantah.
Ikhlaskan benda-benda tersebut dengan penuh terima kasih. Tidak hanya Anda,
barang-barang Anda niscaya juga akan merasa segar dan jernih begitu Anda
rampung berbenah.
Juga
yang kembali penulis jelaskan di halaman 164 “…, menyayangi barang adalah
cara terbaik untuk memperbaiki kinerjanya dalam menyokong kita, si pemilik. Ketika
memperlakukan barang dengan baik, kita niscaya memperoleh kinerja yang baik
dari barang tersebut.”
Penjelasan
Marie Kondo terkait seni berbenah ini sangat mudah dipahami. Tersusun dengan
baik dan dengan sentuhan personal. Marie memulai tulisannya dengan menuliskan
pengalamannya dalam hal berbenah. Hal yang ia geluti bahkan sejak SD. Dan ia
bahkan membagi alasan personal kenapa ia sangat menggemari berbenah. Alasan
yang terkait dengan kondisi keluarganya dan psikologinya.
Di
sisi lain, contoh kasus yang dialami oleh klien-klien Marie Kondo pun membuat
pembahasannya semakin menarik. Membayangkan ada orang yang menyimpan puluhan
sikat gigi cadangan, pilihan rol tissue toilet, dan tumpukan materi seminar
yang diikuti bertahun-tahun pasti menarik. Ini juga membuat pembaca merasa
bahwa tidak ada kebiasaan yang terlalu aneh yang membuat seseorang tidak bisa
berbenah.
Selain
itu, yang paling penting, Marie Kondo menjelaskan korelasi antara kegiatan
berbenah dan dampaknya pada kehidupan. Bahwa ia melihat kliennya menjadi
pribadi yang berbeda setelah selesai mengikuti kursus darinya. Bahwa dengan
berbenah perubahan fisik menjadi lebih ramping, kulit lebih cerah, tubuh lebih
bugar dan  sebagainya pun bisa terjadi
dan itu terbukti di klien-kliennya. Namun yang lebih ia tekankan adala
perubahan-perubahan dalam sisi psikologi. Banyak yang setelah berbenah menemukan
hal baru tentang dirinya dan membantunya fokus untuk melakukan hal yang paling
ingin ia kerjakan. Sebab, “cuma Anda seorang yang tahu lingkungan
seperti apa yang membuat Anda bahagia (Hal. 119)
.”



***
“Buku
pada dasarnya adalah kertas–seberkas kertas yang memuat huruf-huruf cetak dan
dijilid menjadi satu. Kegunaan hakikinya adalah untuk dibaca, untuk
menyampaikan informasi kepada pembaca. Makna buku terletak pada informasi yang
dikandungnya. Buku tidaklah bermakna apabila dibiarkan menganggur di rak. Kita
membaca buku untuk mengecap pengalaman membaca.” (Hal. 81-82)
Kelebihan
buku ini selain dalam hal materi atau isi buku, juga adalah dalam hal
layout-nya. Sejumlah tulisan di-bold
untuk menegaskan apa yang ingin ditegaskan di sub bab dan penjelasan yang
dikemukakan.
Tapi
di sisi lain, saya merasa alangkah lebih baik jika ada beberapa gambar sebagai
ilustrasi yang memudahkan pembaca menangkap penjelasan yang ada. Terutama saat
pembahasan cara melipat pakaian ala KonMari yang ada di halaman 68. Saya masih
kesulitan menangkap cara melipat yang dimaksud. Apalagi selama ini saya selalu
menyimpan baju dengan cara ditumpuk bukan dengan dibuat berdiri tegak.
Hm..
di luar dari sedikit kekurangan di atas, saya mengakui saya menyukai pengalaman
membaca yang saya dapatkan dan tidak sabar untuk mempraktikkannya di tempat
tinggal saya di Mamuju yang masih penuh dengan tumpukan kardus barang-barang
karena pindah domisili dari Bandung ke Mamuju 🙂
“Kalau
ingin memberikan sesuatu, jangan memaksa orang lain untuk menerimanya atau
menekan mereka hingga membuat mereka merasa bersalah apabila menolaknya. Cari
tahu apa yang mereka sukai, kemudian jika dan hanya jika Anda menemukan sesuatu
yang cocok dengan kriteria tersebut, barulah Anda boleh menunjukkan barang
tersebut kepada mereka.” (Hal. 49)
***
Kumpulan Quote dalam buku “The
Life-changing Magic of Tidying up”

“Yang
harus kita hargai baik-baik bukanlah kenangan, melainkan diri kita yang
sekarang. Pelajaran inilah yang mesti kita petik saat menyortir
kenang-kenangan. Tempat yang kita tinggali saat ini adalah untuk diri kita yang
sekarang, bukan diri kita yang ada pada masa lalu.” (Hal. 111)
“Pertanyaan
mengenai apa yang ingin Anda miliki sejatinya adalah pertanyaan mengenai
seperti apa Anda ingin menjalani hidup.” (Hal. 174)
“…
apa pun yang Anda ikhlaskan akan kembali kepada Anda kelak, tetapi jika dan
hanya jika ia ingin kembali kepada Anda.” (Hal. 186)