“Sebuah
peristiwa tidak selamanya disebut tragedi jika setelahnya ada hal baik yang
tercipta.” (Hal. 174)


Penulis: Ida R. Yulia
Editor: Fanti Gemala
Desain kover &
ilustrasi: Dyndha Hanjani Putri
Penata isi: Putri Widia
Novita
Penerbit: Grasindo
Cetakan: pertama, Juni
2015
Jumlah hal.: vi + 177
halaman
ISBN: 978-602-375-057-3
Orang-orang
mengenalku dan saudara kembarku, Vincent, sebagai The Mirror Twins, Kembar
Cermin. Meski wajah kami sangat mirip, ia berusaha menjadi sosok yang berbeda
denganku, sengaja atau tidak. Aku kidal, ia tangan kanan. Aku cerdas dan aktif
di sekolah, ia tak peduli dengan sekolah. Aku gadis remaja baik-baik, ia cowok
nakal dan suka berbuat semaunya sendiri. Dan, ini yang membuatku kesal
sekaligus sedih; aku sangat menyayangi Mom, ia justru cenderung tak betah
berada di dekat Mom.
Sampai
kemudian sebuah tragedi menimpa keluarga kami, Whitney, kakak tertua kami,
membawa lari uang bosnya sebesar 250 ribu dolar. Jumlah yang fantastis, mampu
membuat orang sekaliber Reynold Hendale – sang bandar narkotika – melakukan
tindakan brutal; menjebol rumah kami, membuat Mom menderita, hingga menculik
aku dan Vincent sampai melintasi perbatasan Indianapolis.
Kami
adalah Kembar Cermin. Kisah penculikan kami hampir menyerupai dongeng Hansel
and Gretel. Hanya saja, jika Hansel meninggalkan remah roti sebagai jejak agar
ia dan adiknya bisa menemukan jalan kembali ke rumah, Vincent justru
meninggalkan bercak darah.
Aku
bahkan tak yakin kami bisa kembali pulang.
***
“Tempus
neminem manet. … Waktu tak menunggu siapa pun.” (Hal. 17)
Novel
in bercerita tentang dua orang yang bersaudara. Mereka kembar identik namun
dengan jenis kelamin yang berbeda. Mereka tumbuh menjadi dua karakter yang
saling bertolak belakang meskipun besar di lingkungan dan didikan yang sama.
Ini karena mereka ternyata mengambil pilihan yang berbeda dalam menghadapi badai
dalam keluarga mereka. Mereka adalah Vincent dan Emma.
Badai
di keluarga mereka adalah sebuah kejadian yang tidak pernah mereka duga. Ayah
Vincent dan Emma meninggal karena ditembak oleh polisi saat bertransaksi
kokain. Ya, mereka tidak menduga bahwa ayah mereka yang ceria dan baik hati
yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pipi ternyata adalah seorang pengedar
narkoba. Ini membuat Vincent, Emma, ibu mereka dan kakak mereka terpukul.
Ironisnya, Whitney, kakak perempuan mereka satu-satunya malah mengikuti jejak
sang ayah. Dan akhirnya membawa malapetaka bagi Vincent dan Emma.
Karena
tindakan Whitney yang membawa kabur uang hasil transaksi narkoba senilai 250
ribu dollar, Emma dan Vincent menjadi korbannya. Mereka dijadikan sandera untuk
memaksa Whitney pulang. Sayangnya, kakak mereka seolah sudah mati rasa. Membuat
keduanya harus berjuang meloloskan diri sendiri. Berjuang demi hidup dan mati.
Syukurlah mereka tidak sendiri sebab mereka saling memiliki satu sama lain.
Lantas
berhasilkan Vincent dan Emma membebaskan diri? Ataukah hanya salah satu dari
mereka yang berhasil pulang dengan utuh dan selamat?
“….
Menangis tanpa bersuara, dan itu menyakitkan bagi Emma. Karena ia tahu,
menangis dengan cara seperti itu lebih terasa perih di dalam.” (Hal. 88)

***
“Serendah-rendahnya
seorang anak itu ketika dia sampai hati membuat ibunya menangis!” (Hal. 89)
Novel
ini ditulis terinspirasi oleh dongeng Hänsel und Gertel  yang terkenal itu. Kisah dua saudara kembar
yang dibuang oleh sayang ayah ke hutan atas permintaan ibu tiri yang jahat.
Mereka sempat disekap oleh seorang nenek sihir sebelum akhirnya bisa pulang
dengan selamat. Dongeng ini tentu sudah sangat familiar bagi pembaca.
Penulis
mencoba mengadaptasi kisah ini ke masa kini dengan melakukan beberapa
perubahan. Tidak ada ibu tiri yang jahat, hanya masa lalu yang menghantam
dengan telak dan menghancurkan kedamaian dalam keluarga Emma dan Vincent. Tidak
ada nenek sihir yang jahat, yang ada adalah gerombolan mafia tanpa hati yang
tidak segan menghabisi nyawa Vincent dan Emma demi mendapatkan uang mereka
kembali dan menangkap pengkhianat dalam jaringan mereka.
Selain
keseluruhan cerita yang beberapa kali diisi adegan menegangkan saat Vincent dan
Emma berusaha melarikan diri; hal yang menarik untuk diikuti dari novel ini
adalah hubungan antara Vincent dan Emma. Bagaimana Vincent menutup diri dari
keluarganya dan menjadi anak nakal yang merokok, minum minuman keras serta
menato dan menindik tubuhnya. Sedangkan Emma, ia yang tanpa lelah berusaha
menjadi perekat bagi keluarganya yang pecah akibat kematian sang ayah.
Bagaimana ia selalu berusaha menjaga ibunya, sekaligus tetap mengawasi dan
memperhatikan Vincent.
Ini
adalah novel ringan yang enak dibaca. Terasa seperti novel terjemahan karena
mengambil setting kehidupan di negara bagian Indiana, Amerika Serikat.