Cover The Namesake dan puisi saya

Judul Terjemahan: Makna Sebuah Nama

Penulis: Jhumpa Lahiri
Alih Bahasa: Gita Yuliani K
Ilustrasi sampul:©Phillippe
Lardy
Desain Sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2006
Jumlah hal.: 366 halaman
ISBN: 979-22-2308-8
Ashoke
Ganguli datang ke Amerika membawa segudang harapan. Tragedi yang ia alami
bertahun-tahun sebelumnya membuatnya ingin memulai kehidupan yang benar-benar
baru, berjuang melupakan trauma. Sementara Ashima isterinya datang ke negara
itu dengan selaksa kesedihan karena harus meninggalkan kampung halaman yang ia
cintai.
Di
tengah berbagai perasaan yang berkecamuk itulah putra pertama mereka lahir. Mereka
memberinya nama Gogol. Nama yang kelak sangat dibenci anak itu. Bagi Gogol
namanya aneh, absurd, sama sekali bukan nama Amerika apalagi India. Ia berharap
namanya lebih sederhana, lebih bermakna, dan bukannya sekedar nama penulis
favorit ayahnya.
Tapi sebenarnya
apakah makna di balik nama?
***
Novel The
Namesake karya Jhumpa Lahiri bercerita tentang makna sebuah nama. Yang kemudian
berujung pada sebuah pemaknaan menarik bahwa hidup itu “bagaikan sebuah rangkaian kebetulan, tidak terduga, tidak disengaja,
satu peristiwa bergulir ke satu peristiwa
.”(hal. 323)
Fokus cerita
sebenarnya ada di sosok Gogol. Lebih tepat lagi pada nama Gogol yang melekat pada tokoh tersebut. Namun dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, Jhumpa
Lahiri bebas mengambil berbagai sudut pandang untuk membuat seluruh kisah ini
jadi utuh.
Cerita di
mulai dengan kondisi Ashima, ibu Gogol, yang tengah hamil. Di tengah proses
kontarksi yang dialami Ashima, narasi cerita dapat dibuat melebar ke tradisi
orang-orang India; tentang jarangnya seorang istri memanggil nama suaminya.
Mereka lebih sering menggunakan kata ganti. Setelah itu, Jhumpa Lahiri
benar-benar mengisi cerita dengan narasi panjang. Alur cerita campuran
dimanfaatkan Jhumpa Lahiri untuk mempertahankan minat pembaca.

Kisah kecelakaan
Ashoke, ayah Gogol, diceritakan sedari awal. Sebab kecelakaan ini punya peran
penting hingga nama penulis Nikolai Gogol menjadi sangat berarti bagi Ashoke
bahkan mendorongnya untuk memberikan nama Gogol pada anak pertamanya. Setelah
itu, kisah berkutat pada kehidupan Ashoke dan Ashima di negeri orang. Negeri yang
asing. Negeri yang jauh dari sanak-keluarga. Negeri yang membuat Ashima merasa sendirian dan tercerabut dari akarnya.
Setelah Gogol
lahir dan dewasa, cerita berpindah ke kehidupan Gogol. Jika sebelumnya Jhumpa
Lahiri memusatkan cerita pada kehidupan orang tua Gogol, maka berikutnya narasi
diambil sangat dekat dengan kehidupan Gogol. Tentang masa remajanya saat ia
semakin menyadari betapa aneh namanya dan menyalahkan nama tersebut atas
keanehan dirinya. Juga moment saat nama Nikolai Gogol menjadi salah satu materi
pelajaran di high school. Hingga pada bulatnya keputusan Gogol memilih mengganti namanya menjadi “Nikhil”.
Setelah itu
cerita terus mengalir hingga akhirnya di satu moment, di akhir kisah, muncul
sebuah penerimaan dalam diri Gogol bahwa ia pun akan merindukan nama itu ketika
tidak ada lagi yang memanggilnya dengan nama itu. Di waktu yang sama dia pun
menyadari bahwa nama Gogol akan selalu punya tempatnya sendiri di kehidupan
Gogol. Tidak akan terhapus. Hanya tenggelam.
***
Sejujurnya, saya
harus mengakui dengan sangat malu bahwa buku ini sudah bertahun-tahun saya
miliki. Sekitar 2009 atau 2010, saya lupa persisnya, saya membeli buku ini di
obral buku. Harganya? Seingat saya, hanya 10 ribu atau 15 ribu. Pada saat itu
saya bahkan belum tahu siapa Jhumpa Lahiri ini. Dan anehnya, buku ini ikut
terbawa dengan barang-barang yang saja ajak merantau ke kota Bandung.
Kini, membaca
buku ini dan kemudian menamatkannya membuat saya semakin menyadari betapa jauh
genre bacaan saya berubah. Dahulu, saya tidak akan sanggup menyelesaikan sebuah
buku yang 90% isinya adalah sebuah narasi. Buku The Namesake ini 95% persen
berisi narasi. Hanya sedikit dialog yang dituangkan oleh Jhumpa Lahiri. Namun ternyata
karyanya tetap menarik diikuti.
Yang membuat
saya tertarik adalah tentang Nikolai Gogol yang kisah hidupanya sempat
disebutkan di buku ini. Nama penulis ini cukup asing. Saya pun mencoba
memasukkan nama tersebut di mesin pencari google daaaann.. voila.. tetap saja
asing bagi saya (-_-“). Tapi ini menjadi pengetahuan yang menarik. Mungkin jika
tidak membaca buku ini, saya tidak akan berkenalan dengan nama Nikolai Gogol.
Selain tentang
Nikolai Gogol, saya juga mendapatkan beberapa informasi tentang budaya India. Seperti
budaya pemberian nama di India. Orang-orang India memberi nama panggilan untuk
anak mereka saat masih bayi hingga kanak-kanak. Namun nantinya mereka akan
diberi nama bagus atau bhalonam, yang
menjadi nama resmi mereka. Bhalonam ini
yang akan dicantumkan di kartu identitas, di ijazah, buku telpon, dan semua
tempat umum lainnya.
Bagi yang tidak
begitu menyukai deskripsi panjang, maka buku ini akan menjadi cobaan yang
berat. Namun layak untuk dicicipi. Cara Jhumpa Lahiri bercerita dengan
memanfaatkan alur maju-mundur serta menampilkan keseharian kehidupan seorang
imigran. Tentang perasaan keterasingan serta tentang usaha untuk tetap
mempertahankan budaya. Kisah-kisah ini membuat penuturan Jhumpa Lahiri jadi
luas dan beragam.
Selain itu,
dalam hal penokohan Jhumpa Lahiri benar-benar menggambarkan perkembangan
tokohnya dengan baik. Terutama pada tokoh Ashima, perempuan yang lahir dan
besar di India yang tidak punya obsesi besar namun akhirnya tinggal di Amerika
karena mengikuti suaminya. Pada awalnya ia menanggung sendiri rasa kesepian dan
sedihnya. Banyak hal-hal yang membuatnya merasa tidak nyaman. Namun di akhir
cerita Ashima digambarkan mampu menikmati dan menerima kehidupannya. Ia bahkan
menjadi lebih mandiri. Ia bisa menyetir. Namun tetap menggunakan sari. Ia masih
orang India namun menggunakan paspor Amerika. Perubahan-perubahan ini tidak
terjadi begitu saja melainkan berproses bersama konfilk di dalam buku ini.
Sejujurnya ini
di luar ekspektasi saya. Saya pikir, saya tidak akan mampu menikmati karya ini
karena full dengan narasi. Namun ternyata saat buku ini berakhir, saya malah
berharap bisa mendapat cerita kehidupan Ashima selanjutnya. 
Trus kekurangan buku
ini apa?? Hm..ceritanya full narasi sehingga beberapa deskripsi kadang membuat
bosan. Namun itu masih bisa diterima karena gaya berceritanya yang mengalir.
(^_^)
***

Tentang penulisnya sendiri ada informasi menarik nih.
Karya pertama Jhumpa Lahiri yang dipublikasikan adalah kumpulan cerita yang berjudul “Interpreter of Maladies. Naskah ini sempat ditolak banyak penerbit. Namun setelah diterbitkan ternyata berhasil memenangi beberapa award seperti O Henry Award tahun 1999, Hemingway Award tahun 1999, dan Pulitzer Award  tahun 2000.

Karya terbaru Jhumpa Lahiri adalah The Lowland. Karya ini masuk dalam nominasi  Man Book Prize. Dan terakhir menurut berita dari portal berita online antaranews.com (http://www.antaranews.com/berita/466651/jhumpa-lahiri-masuk-nominasi-penghargaan-sastra-asia-selatan) diinformasikan bahwa Jhumpa Lahiri masuk ke dalam nominasi penghargaan Sastra Asia Selatan.

Wuih..keren ya (^_^)