“Ketika
kau menyingkirkan hal-hal yang mustahil, apa pun yang tersisa, betapa pun
mustahil, pasti merupakan kebenarannya” (hal. 339)

Penulis:
Graham Moore

Penerjemah:
Airin Kusumawardani
Penyunting:
Yulliya Febria
Proofreader:
Widyawati Oktavia & Elly Afriani
Penata
Letak: Erina Puspitasari
Desainer
sampul: Gita Mariana
Penerbit:
Bukune
Cetakan:
I, November 2013
Jumlah
hal.: xii+ 544 halaman
ISBN:
602-220-119-5
Arthur Conan Doyle mengerutkan alisnya dalam-dalam dan
hanya memikirkan pembunuhan. “Aku akan membunuhnya.” Dia bergumam.

Pada 1901,delapan tahun setelah warga London dikejutkan dengan
“pembunuhan” Sherlock Holmes oleh Conan Doyle, penulis legendaris itu
tiba-tiba menghidupkan Holmes kembali. Namun, sang Penulis tidak memberi
penjelasan apa pun. Setelah kematian Conan Doyle, sebuah buku harian yang
menjadi pintu masuk ke pikiran penulis misteri paling hebat di dunia itu
menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi.

Namun, benarkah demikian?

Januari 2010.Setelah dilantik menjadi anggota Laskar Baker Street—klub elite
peneliti Sherlock—Harold White tak pernah membayangkan akan memburu buku harian
Conan Doyle. Kematian Alex Cale, pakar terkemuka yang bertahun-tahun telah
mencari buku harian itu, mengubah segalanya. Tiba-tiba saja, Harold harus
mengambil alih pemburuan buku paling dicari ratusan peneliti selama satu abad
itu.Juga memburu sang pembunuh.



Bersiaplah
memecahkan dua misteri paralel dari dua masa dan tempat yang berbeda dalam
sebuah kisah yang begitu menegangkan!
****
“Autentik…,
cerdik, dan gesit…, sebuah perjalanan dari kekonyolan menuju keagungan.”
—Janet Maslin,New York Times

“Menghibur… cerdas… Moore memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai
Holmes.”
—Los Angeles Times

***

“Ketika
ada keinginan untuk sebuah konsistensi, kita harus mencurigai adanya penipuan”
(hal. 336)

Novel ini
bercerita menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan 2 tokoh utama yang
hidup di dua zaman yang berbeda. Mereka terhubung oleh satu hal yakni “buku
harian yang hilang”. Harold White yang akhirnya diakui sebagai seorang Laskar
Baker Street termuda seperti halnya Sherlockian lain memiliki ketertarikan dan
rasa penasaran yang cukup besar pada buku harian Arthur Conan Doyle yang
hilang. Conan Doyle memiliki kebiasan untuk menulis buku harian secara rutin.
Namun ada satu seri buku hariannya yang hilang yakni pada rentang waktu 11
Oktober hingga 23 Desember 1900. Kisah Harold White bersetting waktu Januari
2010. 

Di lain
bagian, kita akan disuguhi kehidupan Arthur Conan Doyle di rentang waktu yang
sama dari Diari yang Hilang tersebut. Di bagian ini, Arthur-lah tokoh utamanya.
Sikap Arthur tentang Sherlock Holmes, tokoh yang ia ciptakan juga ditampakkan
dengan jelas. Di zamannya (dan mungkin hingga saat ini), sosok detektif Holmes
sering kali dianggap nyata oleh pembacanya. Ternyata ini memberi tekanan
tersendiri dalam kehidupan Arthur. Itulah mengapa Arthur memilih “membunuh”
Holmes. Namun suatu hari, Arthur “menghidupkan” kembali Sherlock Holmes. Namun
Holmes yang ia hidupkan berbeda dengan sebelumnya. Karakternya menjadi lebih
sinis, praktis, dan seolah antipati pada kepolisian dan hukum. Penjelasan tentang
hal ini lambat laun terbuka dalam cerita yang disuguhkan dalam bagian cerita di
masa Arthur.
Harold
White, berusaha semakin keras untuk mengejar buku harian yang hilang tersebut
karena kematian Alex Cale, salah seorang anggota Laskar Baker Street, setelah
mengumumkan bahwa ia telah menemukan buku harian yang hilang tersebut. Sebelum
kematiannya, Alex sempat menyampaikan tentang perasaannya yang merasa selalu
diikuti. Di hari yang seharusnya menjadi hari dimana Alex memperlihatkan buku
harian tersebut, Alex ditemukan meninggal di kamar hotelnya dengan kondisi
kamar yang berantakan dan sebuah pesar bertuliskan “Sederhana” sebagai sebuah
pesan kematian.
Dari
kejadian ini, Harold pun berusaha melacak pembunuh Alex sekaligus menemukan
buku harian tersebut. Di sisi lain, kita disuguhi mengenai kehidupan Arthur
Conan Doyle yang juga sedang berusaha memecahkan sebuah kasus pembunuhan. Ini
seolah menjadi sebuah pembuktian sendiri oleh Arthur bahwa Sherlock adalah
sebuah sosok fiktif dan ia lebih nyata dan lebih cerdas daripada sosok yang ia
ciptakan tersebut.
Secara
bergantian, kita disuguhi dengan kasus-kasus ini. Tentang Harold yang ditemani
oleh Sarah Lindsey, seorang wartawan yang menemaninya dalam upaya memecahkan
kasus Alex dan menemukan buku harian tersebut. Tentang perasaan Harold pada Sarah
dan kucurigaan yang juga selalu menghampirinya tentang siapa sebenarnya Sarah
dan mengapa pembawaannya selalu berhasil membantu Harold melewati moment-moment
penuh krisis.
Berhasilkah
Harold menemukan pelaku pembunuhan Alex Cale dan buku harian Conan Doyle? Apa yang
terjadi di kehidupan Arthur Conan Doyle hingga membuat Arthur memilih
menghidupkan kembali tokoh Sherlock Holmes yang ia benci?
***

“Apa artinya, Watson?…. Benda apa yang
digunakan dalam lingkaran kepedihan dan kekerasan dan ketakutan ini? Semua
pasti merujuk pada sebuah akhir.
Jika tidak, jagat raya kita diatur oleh kemungkinan, dan itu adalah suatu hal
yang tidak terbayangkan” – Sir Arthur Conan Doyle dalam “The Adventure of the
Cardboard Box” (hal. 345)

Buku ini
dibuka dengan sederet pujian yang membuat saya berharap banyak pada buku ini.
Syukurlah ekspektasi ini terbayar dengan manis. Keseruan membaca buku The
Sherlockian ini sukses membuat saya susah tidur. Saya tanpa henti bertanya  tentang “Apa? Siapa? Kenapa? Bagaimana?”
dalam kedua part cerita.
Cerita
yang dituturkan bergantian antara kehidupan masa kini yang digambarkan dalam
masa Harold dan kehidupan masa lalu yang menggambarkan kehidupan Arthur Conan
Doyle juga berhasil menggoda saya untuk terus membuka halamannya. 
Cara
penulis menuturkan cerita membuat saya bertanya-tanya apa ini diambil dari
kisah nyata? Ini karena dimensi kehidupan Arthur Conan Doyle benar-benar terasa
hidup. Cerita persahabatannya dengan Bram Stoker juga membuat saya tertarik
untuk mencaritahu lebih banyak tentang kehidupan mereka berdua. 
Dan
ternyata di akhir cerita kita akan diberi tahu bahwa novel ini mengadaptasi
kehidupan nyata. Dan saya harus mengakui cara Graham Moore menuliskannya memang
memikat. Ah, saya jadi ingin membeli buku karyanya lagi (>_<) *memaksa
diri puasa belanja buku!!!!*
Ah,
rasanya saya ingin memberi 5 bintang pada buku ini. Sayangnya sampulnya masih
kurang menarik  bagi saya. Jadi, izinkan
saya memberinya 4,5 bintang. (^_^)v
saya lebih suka cover edisi ini (^_^)
Ah, saya
jadi semakin addict pada novel-novel
detektif. 
“Kebenaran apa pun lebih baik daripada
keraguan tiada akhir” (hal. 441)
***
Quote
“Pengobatan adalah ilmu yang sangat tidak pasti.
Bidang tersebut lebih pantas disebut seni daripada fiksi.” (hal. 158)
“Cinta berubah menjadi penurut seiring
bertambahnya usia, seperti seekor anjing pemburu yang setia. Cinta menjadi
sesuatu yang mulia dan berharga, dijauhkan dari dunia dan dikunci dalam kotak
perhiasan. Cinta tumbuh menjadi sesuatu yang dapat diandalkan – cinta adalah
telur, cinta adalah ham, cinta adalah surat kabar pada pagi hari.” (hal. 159)
“Kurasa aku menyukai pemikiran bahwa masalah
selalu memiliki solusi. Kurasa, itulah daya tarik cerita-cerita misteri, entah
itu cerita Holmes atau yang lainnya. Dalam cerita-cerita semacam itu, kita
hidup di dunia yang bisa dimengerti. Kita hidup di sebuah tempat yang setiap
masalah memiliki sebuah solusi, dan jika kita cukup pintar, kita bisa mencari
tahu solusi tersebut.” (hal. 397)
“Keadilan itu tidak mutlak, tapi jawabannya,
setidaknya, wajib ada.” (hal. 399)
“Harold sadar pada saat itu bahwa masalah
tanpa solusi bukanlah sesuatu yang menjengkelkan, melainkan sensasi yang paling
gila dan paling mengerikan di seluruh dunia.” (hal. 426)
“Tipuan yang ditulis dengan baik selalu
memangsa anggapan pembacanya. Sesuatu yang ditulis dengan mudah dianggap
sebagai suatu kebenaran oleh pembaca –karena, bagaimana mungkin tidak?-
ternyata salah. Sesuatu yang tidak dipertanyakan akhir dipertanyakan. Sesuatu yang
rasanya tidak butuh diamati akhirnya diamati, dan sebuah jawaban berhasil
ditemukan di tempat yang paling tidak terduga.” (hal. 467)
***
Tentang
Penulis
Graham
Moore
, lulusan Universitas Kolombia. Ia dibesarkan di Chicago, yang
sangat dingin. Kemudian, ia pindah ke New York, yang tidak terlalu dingin
meskipun -anehnya- orang-orang yang tinggal di sana menganggap sebaliknya.
Sekarang, dia tinggal di tempat yang sama-sekali-tidak-dingin, yaitu Los
Angels, meski ia pernah berfikir tak akan pernah tinggal di kota itu. Hidup itu
memang lucu.
“Arthur
memperhatikan kondisi hubungan internasional di sana: heroin dari Jerman, morfin
dari Inggris, opium dari Cina, dan semuanya digunakan dengan bebas hingga semua
orang tidak
sadarkan
diri dalam dunia khayalan mereka masing-masing” – The Sherlockian
Tidakkah
ini seperti menggambarkan dunia interkoneksi saat ini yang kita sebut dengan
globalisasi
 ***

Review ini saya ikutkan dalam RC berikut: