“Manusia
membunuh demi keuntungan dan pertahanan diri, mendapati dalam diri mereka
kemampuan untuk pertumpahan darah ketika tak satu pun alternatif tersedia;
tetapi ada pula orang-orang yang di bawah tekanan paling intens pun tak mampu
mendesak, menyambar peluang, membongkar tabu paling besar dan final” (hal. 329)
 http://photos-h.ak.instagram.com/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/10932385_757713174305887_1034206637_n.jpg
Penulis: Robert Galbraith
Alih bahasa: Siska Yuanita
Alih bahasa kutipan: M. Aan Mansyur
Sampul dikerjakan oleh: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: pertama, 2014
Jumlah hal.: 536 halaman
ISBN: 978-602-03-0981-1
Seorang
novelis bernama Owen Quine menghilang. Sang istri mengira suaminya hanya pergi
tanpa pamit selama beberapa hari—seperti yang sering dia lakukan sebelumnya—
lalu meminta Cormoran Strike untuk menemukan dan membawanya pulang.

Namun, ketika Strike memulai penyelidikan, dia mendapati bahwa perihal
menghilangnya Quine tidak sesederhana yang disangka istrinya. Novelis itu baru
saja menyelesaikan naskah yang menghujat orang banyak—yang berarti ada banyak
orang yang ingin Quine dilenyapkan.

Kemudian mayat Quine ditemukan dalam kondisi ganjil dengan bukti-bukti telah
dibunuh secara brutal. Kali ini Strike berhadapan dengan pembunuh keji, yang
mendedikasikan waktu dan pikiran untuk merancang pembunuhan yang biadab tak
terkira.

***

“Kita
tidak saling mencintai; kita mencintai gagasan yang kita miliki tentang yang
lain. Hanya sedikit manusia yang memahaminya atau sanggup merenungkannya.
Mereka buta terhadap kemampuan imajinasi mereka sendiri. Semua bentuk cinta,
pada akhirnya adalah cinta kepada diri sendiri.” (Hal. 348)

The Silkworm  menceritakan tentang kasus yang ditangani oleh
Cormoran Strike, detektif partikelir, yang kehidupannya punya cukup banyak
sensasi. Ia adalah anak haram dari seorang artis rock yang terkenal. Ia memilih untuk hidup jauh dari bantuan
ayahnya. Memilih menjadi tentara namun terpaksa meninggalkan pekerjaan yang
disukainya karena kecelakaan yang dialaminya saat bertugas. Cormoron Strike
cacat. Kaki kanannya harus diamputasi hingga lutut. Setelah itu publisitas yang
diterimanya karena berhasil mengungkap kematian Lula Landry (kasus yang
dipecahkannya dalam buku The Cuckoo’s Calling) menambah daftar hal sensasional
dalam kehidupan Strike.
Dalam buku ini,
Strike menangani kasus hilangnya Owen Quina. Leonara, istri  Owen, merasa cemas karena suaminya sudah
menghilang selama sepuluh hari. Leonara bercerita bahwa Owen pergi dengan
perasaan marah pada Elizabeth Tassel, agennya.
Ternyata kasus
ini akhirnya berbuntut panjang. Butuh beberapa hari bagi Strike untuk menemukan
Owen. Sayangnya saat berhasil menemukannya, Owen sudah tidak bernyawa.
Menariknya kondisi Owen saat ditemukan benar-benar ganjil. Di dekatnya ada 7
buah piring persembahan. Pria itu dibedah dan ususnya hilang. Usus tersebut tidak
ditemukan di TKP. Benar-benar ganjil dan brutal.

Kematian Owen
kemudian dihubungkan dengan naskah terkahir yang ditulisnya yang berjudul Bombyx Mori yang isi di dalam naskahnya
menyinggung kehidupan sejumlah orang yang belakangan menjadi tersangka. Mereka
adalah: 1) Elizabeth Tassel. Agen Owen. Diketahui sebagai orang terakhir yang
berbicara dengannya di depan umum. Wanita ini sudah mengenal Owen cukup lama
dan sudah bertahun-tahun membiayai kehidupan Owen. 2.) Leonara Quine. Istri Owen
dengan motif bahwa ia sudah tidak tahan menjalani kehidupan pernikahan dengan
orang sejahat Owen. 3) Daniel Chard, CEO Roper Chard, yang digambarkan dengan
cukup buruk oleh Owen dalam naskahnya. 4.) Jerry Waldegrave, editor Owen di
Roper Chard. Laki-laki ini pun diolok-olok oleh Owen dalam buku terakhirnya. 5)
Michael Fancourt. Penulis yang sempat menjadi teman baik Owen namun karena
sebuah tragedi, mereka berdua pun jadi bermusuhan.

Kasus ini
semakin dibuat rumit oleh karakter Owen sendiri yang memang senang bertindak
seenaknya. Maka tidak heran jika setiap orang dalam daftar tersebut memiliki
motif untuk melakukannya. Semakin banyak data terungkap, semakin sedikit
simpati yang dilayangkan kepada Owen sebagai korban. Kisahi ini jadi
benar-benar terfokus untuk menemukan pembunuh Owen tanpa sedikit pun bersimpati
pada sosok Owen Quine ini.
Pengejaran
Strike atas pembunuh Owen Quine semakin dipersulit karena sikap bermusuhan yang
diperlihatkan oleh pihak kepolisian. Ini karena mereka menganggap bahwa dalam
kasus Lula Landry, Strike telah mempermalukan pihak kepolisian. Ini membuat mereka
berusaha menjauhkan Strike dari kasus tersebut.
Pada akhirnya,
Strike memang berhasil mengalahkan kepolisian (lagi) (^_^)v

“…,
wanita sering kali berharap kaum pria mengerti bahwa upaya sekuat tenaga untuk
mengubah pria merupakan ukuran besarnya cinta mereka.” (Hal. 57)

***

“Tiap
kelahiran, bila dipikirkan dengan saksama, hanyalah suatu kebetulan. Dengan
ratusan juta sperma yang berenang dengan buta dalam kegelapan, sungguh amat
kecil probabilitas seseorang bisa menjadi apa adanya kini. Dari semua yang
berjejalan di kereta ini, berapa banyak yang memang direncanakan?” (hal.16)

Saat membaca The
Silkworm ini, saya bahkan belum membaca The Cuckoo’s Calling. Namun jadinya,
saya bisa memberi kesaksian bahwa buku ini meskipun tidak membaca buku
pertama,pembaca tetap bisa mengikuti cerita. Dan meskipun membaca The Silkworm,
saya tetap saja tidak mendapatkan bocoran buku The Cuckoo’s Calling selain yang
membuat pembaca semakin penasaran untuk baca buku The Cuckoo’s Calling.
Ha..ha.. sekalian promosi ya?? (^_^)v
Buku ini memang
genrenya misteri atau lebih tepatnya lagi buku detektif. Namun jangan samakan
pengalaman membaca buku ini dengan membaca buku Sherlock Holmes atau Poirot. Di
dalam buku ini Cormoran Strike memang detektif namun gaya penceritaan Robert
Galbraith berbeda dengan penulis kisah dua detektif terkenal tersebut.
Ini karena novel
The Silkworm bukan mengajak pembaca menjadi detektif dengan ikut menebak-nebak
siapa pembunuhnya, melainkan menyajikan kehidupan Strike dengan dibumbui oleh
misteri yang dipadu dengan apik. Ini karena berbagai hal personal seperti
hubungan Strike dengan mantan tunangannya, Charlotte disuguhkan dengan cukup
banyak emosi. Selain itu kehidupan Robin, asisten Strike pun disuguhkan cukup
lengkap meskipun tidak memiliki relevansi yang kuat dengan isi cerita.
Perbedaan paling
terasa adalah karena Strike lebih suka menyimpan sendiri pemikiran-pemikiran
paling penting dan bukti-bukti dari pembaca. Berbeda dengan Agatha Christie
atau Conan Doyle yang menyuguhkan keseluruhan bukti namun menjadi sebuah puzzle
acak sehingga pembaca bisa ikut memutar otak dan menghubungkan keseluruhan
bukti tersebut.
Itu kenapa saya
lebih suka menyebut karya ini sebagai novel yang mengetengahkan kehidupan
seorang detektif. Bukan novel misteri atau detektif yang pure. (^_^)
Oiya, tentang
sosok Owen Quine, penulis yang menjadi pusaran utama misteri ini, saya hanya
bisa dibuat geleng-geleng kepala saat membaca tentang karakternya dan karyanya.
Apa iya, ada penulis segila itu pada ketenaran? Itulah yang membuatnya mudah
diperdaya oleh pelaku hingga memudahkan pelaku mensetting panggung kematian
Owen. *Ups.. bukan spoiler kok (^_^)*

“Ingatan
adalah hal yang pelik, …” (hal. 245)

“Intuisi,
kata orang, tapi Strike tahu itu adalah hasil dari membaca tanda-tanda yang
halus, alam bawah sadar yang menghubungkan titik-titik.” (Hal. 477)