“Rasanya
sangat sakit, ketika setiap detak jantung kita masih mendenyutkan namanya.
Ketika semua telah berubah kecuali kenangan yang kita punya, ketika satu –
satunya yang kita miliki hanyalah kenangan.” (Hal. 81)

Penulis: Irin Sintriana
Penyunting: Fatimah
Azzahrah
Desain sampul: Destyan
Penata Letak: Puput
Novitasari
Pemeriksa Aksara: Tika
Yuitaningrum
Penerbit: Media
Pressindo
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: 216
halaman
ISBN: 978-979-911-497-6
“Mengapa
kamu ada di sini?”
ulang Kay ketika Bella tak juga menjawab. Kay melihat Bella tersenyum, sesaat
sebelum akhirnya ia mendengar gadis itu menjawab, “Karena aku tahu bagaimana
rasanya kehilangan…”
***
Dia
tidak mencintaimu. Itulah satu – satunya alasan sampai kamu bisa merasa
kehilangan. Bukankah kamu sendiri yang bilang, selalu ada alasan di balik
setiap kehilangan? Lalu kamu menertawakan kepahitanmu, seolah – olah yang kamu
rasakan sulit terlipur.
Pernahkah
membayangkan, orang yang mengaku mencintaimu, memintamu untuk jatuh cinta lagi?
Asal kamu tahu, itu adalah hal tersulit, bahkan untuk sekedar dibayangkan.
Padahal, aku tidak ingin jatuh cinta lagi dan aku tidak ingin kehilangan lagi.
Kehilangan, kemudian kembali menemukan. Kita berdua boleh
menyebutnya perjalanan….
***
“Semanis
apa pun masa lalu, dia nggak punya tempat untukmu tinggal. Satu – satunya cara
untuk bertahan adalah dengan terus melangkah maju. …” (Hal. 82)
Pertemuan
Bella dan Kay terjadi tanpa sengaja, saat Kay yang baru saja bekerja sebagai
fotografer majalah Life and Art,
salah satu majalah terkemuka di Sydney. Kay datang meliput pementasan balet dan
Bella adalah pemeran utama pementasan tersebut.
Mereka
sama – sama berasal dari Indonesia dan bahkan tinggal di apartemen yang sama
akhirnya menjadi dekat. Apalagi saat Kay harus berpisah dengan tunangannya,
sedangkan Bella harus belajar hidup tanpa Faldian. Faldian meninggal dalam
sebuah kecelakaan. Dan ini membuat Bella merasakan kekosongan dalam hidupnya.
Kay
dan Bella akhirnya jadi sahabat. Kehilangan yang  mereka alami membuat mereka merasa senasib.
Hingga tanpa sadar hubungan mereka tidak lagi seperti hubungan persahabatan.
Namun benarkah Bella sudah melupakan Faldian? Apakah Kay memang mencintai
Bella? Apakah  mereka memang ditakdirkan
untuk bersama sedang mereka belum dapat melupakan kehilangan mereka.

“Mengapa kamu begitu mencintai
langit? … “Karena langit selalu menjagamu untukku.” (Hal. 63)
***
Novel
romance. Ya, sejak awal ini adalah cerita pure
romance
. Namun yang menarik adalah profesi mereka. Kay seorang fotografer
dan Bella adalah seorang balerina. Sayangnya, profesi mereka kurang
dieksplorasi. Memang beberapa istilah terkait dunia balet sempat disebutkan,
dan pun istilah dalam fotografi. Namun keseharian mereka berdasarkan kurang
terwarnai oleh profesi ini terutama profesi Kay sebagai fotografer. Padahal
pekerjaan seperti milik Kay itu cukup menyita banyak waktu. Biar bagaimanapun
profesi sebagai jurnalis itu adalah profesi yang sering mendapat tugas
mendadak.
Namun
untuk konfliknya? Dieksekusi dengan cukup baik. Terutama dari sisi Bella.
Bagaimana Bella harus menghadapi rasa kehilangannya dan ketakutannya untuk
melupakan Faldian. Ia takut bahagia karena ia merasa seperti telah mengkhianati
Faldian. Mengkhianati kenangan mereka.
Ide
tersebut memang sudah banyak diangkat. Tapi bukankah memang tidak ada ide yang
benar – benar original? Cara mengeksekusi ide inilah yang harus berbeda yang
membuatnya layak untuk dipilih.
Bagaimana
dengan setting tempat? Bagus banget. Setting ini berhasil menjadi bagian yang
melebur dengan cerita. Tidak terasa sebagai tempelan.
Cerita
cinta yang dituturkan dengan POV 3 dan alur maju ini enak untuk dibaca. Dan
covernya? Bikin orang tertarik meliriknya. Sangat manis. Suka deh.
Ini
memang novel pertama mbak Irin Sintriana yang saya cicipi.
Sukses
terus ya, mbak. Semoga nanti bisa mencicipi karya lainnya 🙂
“Foto
adalah pengabadi kenangan. Dan dengan melihatnya lagi, kita akan menyadari
betapa pentingnya kenangan itu saat ini.” (Hal. 183)