“Sahabat
adalah orag yang bisa menerima kamu dalam keadaan apa pun,….” (Hal. 122)
“Sahabat
itu ibarat keluarga kedua.” (Hal. 123)

Penulis: Endang SSN
Editor: Diaz
Desainer cover:
Aan_Retiree
Layouter: Fitri Raharjo
Pracetak: Endang
Penerbit: de Teens
Cetakan: Pertama,
Agustus 2014
Jumlah hal.: 244
halaman
ISBN: 978-602-296-006-5
“Bira!
Pada cinta yang tulus, jarak hanya cara Tuhan untuk membuatmu mengerti
bagaimana rindu itu akan menemukan jalan pulang.”
Toraja
menjadi pilihan dua sahabat, Tomi dan Sandy, untuk traveling sekaligus sebagai
pelarian Sandy dari patah hati dan status pengangguran. Di tempat yang eksotis
itu, Sandy berhasil move on dan menemukan seorang gadis Toraja. Tapi, masalah
tak selesai di situ. Cinta mereka tak direstui orang tua si gadis karena tidak
boleh menikah dengan orang dari luar Toraja.
Ah,
cinta…, selalu butuh perjuangan, meski hati keduanya telah bertaut sekalipun.
***

“Cinta
tak pernah salah untuk datang,…” (Hal. 11)

Novel
ini bercerita tentang kehidupan Sandy, mahasiswa psikologi yang lulus dengan
predikat cum laude dan selesai tepat
waktu. Sayangnya prestasi akademik tersebut tidak membuatnya segera mendapatkan
pekerjaan dan kemudian siap untuk hidup mapan.
Di
sisi lain, Sandy juga sedang berusaha membunuh rasa cinta yang sesekali masih
membuatnya merindukan Olly, gadis yang sempat mengisi waktu dan harinya saat
masih kuliah. Olly adalah pacar pertamanya. Sayangnya hubungan mereka berakhir
dengan buruk. Sandy mengetahui bahwa Olly berbagi kasih dengan laki-laki lain
di belakangnya.
Novel
ini kemudian menceritakan petualangan Sandy ke Toraja bersama Tomi. Banyak hal
yang mereka lewati. Sandy menemukan banyak hal baru. Termasuk cinta baru
bernama Bira. Sayangnya hubungan mereka tidak mudah. Bira yang asli berasal
dari Toraja dan Sandy yang berasal dari Jakarta terbentur oleh adat.
Sanggupkah
Sandy memperjuangkan cintanya kali ini?

“Sering
kali, duka dan perih membuat seseorang tampil sebagai Superman. Energi negatif
yang bisa bertransformasi positif sedikit banyak memberi kekuatan untuk sebuah
pencapaian.” (Hal 15)

***

 “Jangan terperdaya oleh cinta semu! Belajarlah
untuk menilai hati dengan lebih baik!” (Hal. 18)

Novel
ini termasuk dalam salah satu #TRAVELOVE series yang diterbitkan oleh deTeens,
imprint penerbit Divapress. Mengusung tema traveling, series ini adalah
novel-novel yang lolos dalam penjaringan lomba yang diadakan penerbit tersebut.
Tempat
yang dipilih memang tidak umum. Sayangnya eksplorasinya kurang. Termasuk
risetnya. Di halaman 57 menyebutkan tentang pete-pete
yang merupakan angkot yang serupa dengan mikrolet. Namun penulis malah
menjelaskan tentang bentor, becak
motor. Ini jelas adalah kesalahan yang fatal. Seolah tanpa riset.
Selain
itu di novel ini interaksi antartokohnya terasa menggelikan. Beberapa kali
disebutkan Tomi yang memeluk Sandy dan begitupun sebaliknya. Dalam logika
maskulin atau laki-laki, mengungkapkan perasaan bukanlah hal yang mudah.
Apalagi mengungkapkan perasaan melalui pelukan?! Selainitu gaya berbicara dan
pilihan kata yang digunakan tokohnya tidak terkesan maskulin sama sekali. Hal
ini tidak bisa dimaklumi dengan alasan bahwa penulisnya perempuan. Sebab jika
tidak mampu memerhatikan hal ini, bukankah lebih baik jika menggunakan
perempuan sebagai tokoh utama.
Selain
itu, dalam hal deskripsi, novel ini terlalu banyak telling. Main diksi di deskripsi, namun tidak menggambarkan detail
apapun yang bisa menolong pembaca membangun emosinya. Padahal sebagai orang
yang pernah menjejak di Toraja, saya merasa banyak hal yang menarik jika emosi
tokoh menyatu dengan baik dengan setting
cerita.
Dalam
hal plot cerita pun masih sangat flat. Olly hanya jadi alasan yang seolah
penting padahal tidak. Tidak disebutkan sudah berapa lama Sandy mengenal Olly,
berapa lama ia mengejar Olly, dan berapa lama mereka pacaran. Ini bisa untuk
mempertegas kenapa Sandy sulit melupakan Olly. Lagipula, kalau memang susah move on kenapa tidak segera menghubungi
Olly saat dia datang lagi? Kalau memang susah move on kenapa begitu mudahnya jatuh cinta pada Bira dan bahkan
mendatangi keluarganya demi mendapat restu padahal baru mengenal selama
beberapa hari?!
Novel
ini sebenarnya mengusung banyak hal sekaligus dalam naskahnya. Ada cinta, traveling, dan persahabatan. Sayangnya
penulisannya masih kurang matang. Masih perlu banyak perbaikan.
Untuk
penulisnya, Endang SSN, good luck yaaa. Jangan berhenti menulis dan terus
belajar untuk menemukan gaya menulismu dan mematangkannya.
🙂

 “Egois lebih baik daripada pengecut. Pulang
sebagai pecundang itu sangat memalukan, …” (Hal. 73)

***
Kumpulan Quote dari novel Toraja
“…
ada hal-hal tertentu yang mungkin lebih nyaman untuk disimpan sendiri. Sesuatu
yang nggak harus orang lain tahu, even ia adalah sahabatmu. (Hal. 99)

“Kita
akan bisa sampai di puncak kalau kita mau mulai mendaki. Kalo cuma diem aja,
ya, tetap aja di bawah.” (Hal. 124) 
“Foto
yang baik itu yang bisa bicara.” (Hal. 151)