“Orin,
Tuhan Maha Tahu, dan pasti tahu keinginan hamba-Nya. Namun seorang Orin perlu
menjadi hamba yang smart untuk berdoa. Harusnya dalam berdoa dan meminta kamu
harus lebih spesifik. Misalkan minta jodoh lelaki yang gagah, ganteng, sukses,
setia juga saleh. Minta saja semua, nggak usah malu-malu. Nggak ada gunanya
malu sama Tuhan karena di hadapan Tuhan, yang namanya privacy itu sudah tidak
ada. Lagi pula sudah menjadi kewajiban seorang hamba untuk meminta melalui
doa.” (Hal. 40)

 Penulis: Ollyjayze

Editor: Afrianty P.
Pardede
Penerbit: Elex Media
Komputindo
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.:269
ISBN: 978-602-02-7722-6
Setelah
cowok ‘inceran’-nya jadian dengan cewek lain, Orin rasanya ingin beristirahat
dulu dari status patah hatinya. Sang Bos yang biasa dipanggil Pak Berlyn,
menghadirkan Sunu yang diyakini bisa menyembuhkan rasa patah hatinya.
Terkutuklah Berlyn dan ketidakberadaannya di kantor yang seolah-olah telah
membuat seorang Orin merasa kehilangan dirinya.
Harusnya
ikatan antara Orin dan Berlyn tidak boleh seperti ini. Selain karena Berlyn
adalah bosnya, playboy cemen itu sudah memiliki istri cantik lengkap dengan
seorang putri lucu. Ditambah dengan kehadiran Sunu yang terang-terangan ingin
memulai hubungan serius dengan Orin membuat Orin tersiksa. Tidak pada tempatnya
Berlyn bermain-main dan tebar pesona palsu pada Orin sebagai pencitraan bahwa
dirinya tak mengalami penurunan pesona di usia menjelang pertengahan tiga
puluh!
***
“It’s
Ok if everything turned out to be wrong and everything went messy. Life must go
on. You have to put everything behind you. The only thing you have to do is
smile and tell everyone that everything is OK.” (Hal. 31)
Novel
ini bercerita tentang kehidupan Orin, seorang perempuan muda yang bahkan belum
menginjak usia seperempat abad namun memilih untuk bekerja di sebuah proyek
lapangan di sebuah wilayah terpencil di Sulawesi. Alasannya? Sebenarnya bikin
geleng-geleng kepala. Demi seorang “Puji”. Ya, Orin tertarik pada atasannya
sehingga memilih untuk mengikuti pria tersebut saat dipindah tugaskan ke
lapangan. Sayangnya, lebih tepatnya malangnyaa, Puji malah jadi dekat dengan
Sandra, perempuan muda yang juga kerja di lokasi yang sama dan bahkan tinggal
di asrama yang sama dengan Orin.
Orin
merasa sedih dan kecewa. Namun tidak sempat lama bermuram durja karena
kehadiran bosnya yang tampan namun juga raja gombal, Pak Berlyn. Laki-laki ini
membuat hidup Orin jadi heboh karena sikapnya dan kejahilannya pada Orin. Sering
Orin merasa kesal pada bosnya itu, namun saat Pak Berlyn tidak ada, ada sepi
yang menyelusup di hari-hari Orin. Tapi Orin juga tahu bahwa Pak Berlyn sudah
menikah dan punya istri yang cantik dan seorang anak yang lucu.
Selain
itu, Pak Berlyn yang mendadak mendualat diri sendiri sebagai “pakcomblang” bagi
Orin, mendatangkan Sunu. Sunu adalah laki-laki muda dan menarik. Akhirnya kedekatan
itu pun terjadi. Orin dan Sunu saling merasa nyaman satu sama lain. 
Tapi
kenapa Orin masih seolah enggan untuk membuat hubungannya dengan Sunu semakin
berkembang? Belum lagi, Puji yang kembali datang mendekatinya. Ah, kira-kira
akan seperti apa hidup Orin jadinya ya?

“Tapi
untungnya saya nggak suka orang ganteng. Bikin pusing. Ribet jagainnya.” (Hal.
32)
***
“Mungkin
aku terlalu lelah untuk jatuh cinta,…” (Hal. 92)
Cerita
dibuka oleh kisah dari sudut pandang Orin. Meski menggunakan sudut pandang
orang ketiga, namun narasinya membuat kesan seolah yang bercerita adalah Orin
sendiri. Cara penulis menarasikan perasaan Orin dengan santai dan pakai bahasa
kekinian ; keceriaan yang melakat di narasi yang melibatkan Orin; semuanya
semakin menguatkan kesan tersebut.
Pilihan
sudut pandang orang ketiga memang tepat karena membuat pembaca bisa melihat
seluruh masalah dengan lebih luas. Baik dari sisi Orin, Berlyn, maupun Sunu.
Namun kesan narasinya sangat melekat pada cara bercerita perempuan. Sehingga saat
bercerita dari sisi Berlyn, kesan Orin masih melekat.
Salah
satu hal yang menyenangkan dari novel Tough Love ini adalah ada cerita tentang
dunia crafting. Kesenangan Orin pada
benang, jarum, dan membuat berbagi benda unik dari kain mewarnai novel ini.
Memberi kesan bahwa dunia itu sangat menyenangkan. Seperti sebuah sihir. Cara
penulis menceritakan proses kreatif Orin pun detail.
Sayangnya
ada beberapa bagian di dalam novel ini yang agak membosankan. Narasi penuh
tentang perasaan Orin yang beberapa kali terjadi karena masalah yang kurang
lebih sama, terasa sedikit menjemukan. Tapi hal ini tidak sering terjadi dan
bisa segera diperbaiki oleh narasi yang lucu terutama saat Orin berinteraksi
dengan Pak Berlyn.
Kekurangan
lain dari novel ini adalah deskripsi. Penulis mendeskripsikan tokoh terlalu
terburu-buru. Merangkumnya dalam satu paragraf utuh, ini membuat kesan atas
tokoh jadi berkurang. Selain itu, penggambaran deskripsi tempat pun masih
kurang halus. Deskripsi tentang danau tempat Orin pergi kurang kuat, pun
deskripsi tentang kantor dan situasi kantor kurang memikat.
Dalam
hal karakter, hanya Orin, Berlyn dan Sunu yang karakternya paling matang.
Paling banyak digambarkan. Untuk sosok Irma yang sebenarnya memegang peranan
cukup penting terasa kurang konsisten. Penggambaran sebelum Orin dan Irma
bertemu dengan setelah bertemu jadi terasa tidak sesuai. Bahkan di akhir cerita
karakter ini masih terasa kabur untuk digambarkan. Jahat? Tidak juga. Baik?
tidak juga. Sehingga sulit membuat pembaca bersimpati pada tokoh ini. Padahal
seru kali ya kalau ada tim pendukung Irma juga dari kalangan pembaca. Biar
bagaimana dia juga korban.
Di
luar semua kekurang itu, novel Tough Love ini menyenangkan untuk dibaca. Ceria
dan narasa yang kadang lucu bikin pembaca tidak bosan meneruskan hingga akhir
cerita. Jadi ingin mencicipi karya Ollyjayzee lagi 😀
“Kok
aku nggak percaya ya orang bisa berubah drastis hanya karena suatu peristiwa
penting dalam hidupnya seperti sebuah pernikaha. Maksudku, kalau memang hobi,
buat apa sih harus berubah karena status? Hobi kan, bagian dari sesuatu yang
membentuk karakter?” (Hal. 140)
***
“Orin,
sadar nggak sih, kamu kalau jatuh cinta itu nggak perlu pakai setting perasaan
segala? Jatuh cinta itu terjadi secara alami dan spontan. Jadi saat jatuh cinta
itu waktunya emosi yang maju dan logika mundur dulu buat istirahat.” (Hal. 142)
Nah, sekarang waktunya
Giveaway. Sudah ada 1 novel Tough Love yang disediakan Mbak Ollyjayzee untuk
kamu, Readers. Mau jadi yang beruntung? Caranya mudah kok.
1.
Jawab pertanyaan ini di kolom komentar
“Dari review di
atas, menurutmu “Ada Apa dengan novel Tough Love?”
Jangan
lupa sertakan data diri berupa nama, akun twitter atau akun instagram, dan
email kamu.
2.
Share giveaway ini dengan ketentuan berikut:
Via Twitter:
follow akun twitter @ollyjayzee, @elexmedia dan @atriasartika. Kemudian share
link Giveway ini dengan hashtag #novelToughLove dan mention ketiga akun tadi.
Via Instagram:
follow akun instgram @ollyjayzee, @elexmedia, dan @atriasartika. Repost banner
atau e-poster Giveaway #NovelToughLove yang ada di akun @atriasartika. Sertakan
link blogpost ini dalam caption. Tag saya dan @Ollyjayzee ya 🙂
Ini banner yang ada di Instagram
3.
Giveaway ini hanya berlangsung dari tanggal 22 – 26 Januari 2016
4.
Giveaway ini hanya untuk yang berdomisili di Indonesia
5.
Pengumuman pemenang akan saya posting di twitter dan akan saya update di
postingan ini paling lambat 1 minggu setelah giveaway ditutup.
“Aku
bicara tentang rasa suka. Bukan jatuh cinta. Rasa suka bisa menggiring pada
cinta. Itu proses alami, kan? Kan nggak semua orang juga bisa langsung jatuh
cinta.” (Hal. 412)
***
“….
Hanya tambah dewasa kan, orang berkembang dan nggak melulu ngikutin emosi.”
(Hal. 143)
“Tanpa
diucapkan pun rasanya sudah capek banget dengan semua gerutuan itu. Apalagi
diucapin.” (Hal. 160)
“Jatuh
cinta tetep pakai logika. Nggak buta. Kalau nggak bisa jatuh cinta secara
spontan, logika harus berperan. Dengan logika kita bisa mengatur bagaimana cara
mengondisikan diri menerima seseorang yang belum menyentuh hati kita. Kita juga
harus menggunakan akal sehat dalam menilai seseorang, bukan semata dorongan
emosi sesaat. Pernah nggak kamu mengagumi seseorang secara perlahan?” (Hal.
163)
“Bagi
orang tertentu, jatuh cinta itu memerluka kecerdasan untuk memadukan antara
suasana hati dan keadaan. Kamu tahu kan, orang yang cerdas adalah orang yang
bisa menikmati hidup?” (Hal. 164)
“Karena
jatuh cinta itu adalah sebuah keputusan. Ketika kita memutuskan untuk dengan
siapa akan bersama, pasti akan diikuti dengan serangkaian tindakan untuk
membuat diri kita bisa menerima, memahami, dan selanjutnya akan nyaman untuk
hidup bersama.” (Hal. 164)
“Bila
kita ingin dipahami orang lain, kita harus belajar memahami orang lain. Kita
tidak akan pernah mengubah orang menuruti apa mau kita kecuali orang itu mampu
mengubah diri sendiri. Sejauh yang bisa kita lakukan adalah kompromi.” (Hal.
164)
“Aku
tak mau hanya sebagai alternatif bagimu. Karena aku ini egois. Kalau kamu mau
membina hubungan dengan aku, aku mau all out, tanpa ada sisa masa lalu yang
mengganggu.” (Hal. 199)