Penulis                 : Mitch
Albom
Penerjemah         : Alex Tri
Kartjono Widodo
Penerbit              : Gramedia
Pustaka Utama
Terbitan               :
Kedelapan, Juli 2011
Jumlah hal.         : 209 halaman
Seperti biasa,
saat membaca karya Mitch Albom saya sering kali tertatih-tatih. Bukan karena
bahasanya yang berat, tapi karena tulisannya sangat berisi. Ada yang membaca
benar-benar untuk mendapatkan  hiburan,
jadi hanya sekedar membaca dan menikmati kesenangan membaca itu sendiri. Tapi
ada juga tipe pembaca yang berusaha mengambil pelajaran dari apa yang dibaca.
Nah tipe seperti ini akan cukup tertatih saat membaca karena fokusnya agak
terbagi antara mengikuti alur cerita dan memaknai isi bacaannya.
Buku Mitch Albom
tidaklah setebal buku-buku lain yang saya resensi sebelumnya seperti Libri diLuca atau The Hunter, tapi membutuhkan waktu yang sama lamanya dalam
menyelesaikan buku ini seperti saat menyelesaikan dua buku tersebut.
Tidak banyak
yang bisa saya jabarkan tentang karya Mitch Albom selain berkata bahwa, “Seperti
biasa, buku Mitch Albom selalu berisi pesan untuk lebih menghargai waktu yang
kita miliki”
. Karya Mitch Albom yang lain seperti The Timekeeper pun mengangkat
hal yang sama. Tapi dengan cara penuturan yang berbeda dan masalah yang
berbeda. Keduanya pun memiliki daya tarik yang berbeda.

Tuesdays with
Morrie ditulis Mitch Albom berdasarkan kisah nyatanya bersama seorang Professor
yang disenangi dan dikaguminya di kampus. Ia baru bertemu kembali sang
Professor enam belas tahun kemudian saat dia mengetahui bahwa sang Professor
tengah menghitung waktu menuju akhir hidupnya. Ya, Professor itu bernama Morrie
Schwartz.
Maka Mitch
kemudian memberanikan diri mengunjungi beliau kembali setelah melanggar janji
selama enam belas tahun untuk keep
contact
dengan Morrie yang disapanya dengan panggilan “Coach” –pelatih-. Saat
itulah ia mulai menerima kuliah terakhir dari Morrie. Kembali merenungi
kehidupannya tentang apa yang sudah diraihnya, tentang apa yang ia lewatkan dan
berbagai hal lain tentang hidup yang dia (dan kita) abaikan karena merasa masih memiliki
banyak waktu.
Salah satu
bagian yang paling saya sukai adalah “Selasa Kelima: Kami Bicara Tentang
Keluarga”. Hati ini rasanya ikut menghangat saat membacanya. Mengakui kebenaran yang jauh di
dalam diri kita tersimpan rapat. Hal-hal yang kita akui tanpa sadar. Jauh di
dalam hati kita meyakini bahwa keluarga-lah yang akan menerima kita apa adanya.
Saat semua orang meninggalkan kita, mereka selalu ada di sana siap dengan
serentang pelukan untuk hati yang letih dan terluka.
Ah, tidak pernah
mudah menjabarkan isi buku semacam ini. Saya hanya mengajak pembaca mencoba
menilai isi buku ini dari kutipan-kutipan yang akan saya tuliskan di akhir
tulisan ini. Dan seperti biasa, jika harus memberi nilai pada buku ini dalam
skala 1-10,  maka buku ini layak mendapatkan nilai 9 (^_^)v
Quotes :

“Menanti
datangnya ajal,” tiba-tiba Morrie berkata,”hanya salah satu di antara yang
patut disedihkan, Mitch. Tapi hidup tanpa kebahagiaan lebih menyedihkan. Banyak
di antara orang yang mengunjungiku adalah orang yang tidak bahagia.”
“ Hidup ini
merupakan rangkaian peristiwa yang menarik dan mengulur. Suatu saat kita ingin
mengerjakan satu hal, padahal kita perlu mengerjakan sesuatu yang lain. Ada
sesuatu yang membuat kita sakit, namun kita tahu bahwa seharusnya tidak
demikian. Kita menerima hal-hal tertentu secara begitu saja, bahkan meskipun
kita tahu bahwa seharusnya kita tidak pernah menikmati sesuatu secara
cuma-cuma.”
“Begitu banyak
orang menjalani hidup mereka tanpa makna sama sekali. Mereka seperti separuh
terlelap, bahkan meskipun mereka sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang menurut
mereka penting. Ini karena mereka memburu sasaran yang salah. Satu-satunya cara
agar hidup menjadi bermakna adalah mengabdikan diri untuk menyayangi orang
lain,  mengabdikan diri bagi masyarakat
di sekitar kita, dan mengabdikan diri untuk menciptakan sesuatu yang memberi
kita tujuan serta makna.”
“Yang penting
dalam hidup adalah belajar cara memberikan cinta kita dan membiarkan cinta itu
datang”.
“Setiap orang
tahu mereka akan mati,” katanya sekali lagi, “tapi tak seorang pun percaya itu
akan terjadi pada mereka sendiri. Kalau saja kita percaya, kita akan
mengerjakan segala sesuatu secara berbeda.”
“begitu kita
ingin tahu bagaimana kita akan mati, itu sama dengan belajar tentang bagaimana
kita harus hidup.”
“Apabila kita
belajar tentang cara menghadapi maut, berarti kita belajar cara menghadapi
hidup.”

“Banyak orang merasa hidup ini tidak memuaskan, ada
keinginan yang tidak terpenuhi. Hidup terasa tidak bermakna. Karena kalau kita
telah menemukan makna hidup, kita tidak ingin kembali. Kita ingin lanjut ke
depan. Kita ingin tahu lebih banyak lagi, berbuat lebih banyak lagi. Dan kita
tidak sabar menunggu sampai usia kita enam puluh lima tahu.”