“Bagaimana
mungkin kamu misahin dua orang yang sejak awal emang nggak pernah bersama?”
(Hal. 181)

Penulis: Nathalia
Theodora
Penyunting: Eunike
Theodora
Desain dan ilustrasi:
Amygo Febri
Penerbit: Bhuana Sastra
(imprint dari Bhuana Ilmu Populer)
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 206
halaman
ISBN :
978-602-394-237-4
Si
kembar Cheryl dan Cindy menjalani hari-hari MOS mereka dengan sederet masalah,
yang terutama berhubungan dengan sang ketua panitia MOS – Kevin. Berbeda dengan
Cindy, hal itu seakan membawa kesialan untuk Cheryl, karena sifat Kevin yang
bak diktator selalu berhasil membuat mereka bertengkar.
Sebuah
peristiwa lalu mempertemukan Cheryl dan Cindy dengan saudara kembar Kevin –
Alvin. Sifat Alvin yang bertolak belakang dengan Kevin membuat Cheryl justru
akhirnya dekat dengan cowok itu.
Namun,
ketika ada cinta di antara mereka, mereka diharuskan untuk memilih. Cinta atau
hubungan persaudaraan?
***
Memiliki
saudara kembar tentu bukanlah hal yang umum di dunia ini. Karenanya, mereka
sering kali menjadi pusat perhatian. Selalu ada rasa penasaran yang terselip di
benak yang melihatnya. Orang-orang yang kembar bukan berarti aneh, mereka hanya
berbeda.
Inilah
yang dialami oleh Cheryl dan Cindy di hari pertama mereka masuk SMA. Menjalani MOS
sebagai siswa baru di SMA Mutiara Indah. Meskipun mereka kembar, keduanya
memiliki karakter yang berbeda. Cheryl adalah gadis yang cenderung tomboy dan
emosional. Ia selalu merasa bahwa ia harus menjaga Cindy. Sedangkan Cindy
cenderung lebih pemalu dan feminim. Saat merasa cemas atau takut ia akan
bersikap seperti komputer yang ngadat. Mendadak tidak memiliki program apapun
sehingga Cheryl harus selalu menuntunnya.
Hari
pertama mereka di SMA Mutiara Indah menjadi malapetaka saat Cindy tanpa sengaja
membuat Kevin, ketua panitia MOS mereka, tercebur di kolam. Kejadian itu
berujung dengan bertengkarnya Cheryl dengan Kevin. Sejak itu hubungan di antara
mereka tidak pernah baik. Mereka seperti dua api besar yang siap saling
menghanguskan.
Hingga
suatu hari, Cheryl dan Cindy mengetahui bahwa Kevin ternyata memiliki saudara
kembar. Sama seperti mereka. Saudara kembar Kevin bernama Alvin. Berbeda dengan
Kevin yang populer, mudah bergaul, dan berambut jabrik; Alan lebih pendiam,
seorang kutu buku yang kalem, dan berambut lurus. Karakter mereka berdua yang
bertolak belakang ini tentu mirip dengan kondisi Cheryl dan Cindy.
Akhirnya
Cheryl menjadi dekat dengan Alvin. Ia merasa nyaman ngobrol dengan Alvin.
Apalagi Alvin punya setumpuk novel yang bisa dipinjam Cheryl. Sedangkan Cindy
yang sejak hari pertama terpesona oleh ketampanan Kevin mulai berani mengambil
langkah. Namun di sisi lain, Kevin selalu lebih mudah berinteraksi dengan
Cheryl meskipun mereka selalu saja bertengkar.
Dan
akhirnya terbentuklah hubungan cinta yang rumit. Yang membuat mereka berempat
harus memilih. Manakah yang lebih penting, persaudaraan atau cinta? Dan apa itu
pengorbanan? Apakah ia bisa memastikan kebahagiaan semua orang?

***
Saya
selalu tertarik membaca buku tentang orang-orang yang bersaudara kembar. Mungkin
karena saya menyimpan rasa penasaran tentang bagaimana perasaan seseorang yang
memiliki saudara kembar. Apakah benar mereka terhubung dengan cara yang unik?
Saat salah seorang sakit, yang lainnya ikut merasakan. Seperti yang sempat
digambarkan di halaman 95 saat Kevin mendadak merasakan sakit dan ternyata itu
ada hubungannya dengan Alvin yang sempat mengalami kecelakaan kecil.
Ya,
hal-hal seperti itu adalah salah satu yang membuat orang tertarik pada mereka
yang memiliki saudara kembar. Hal lain yang juga tidak kalah menarik dan
mungkin sering ditanyakan oleh orang-orang yang baru saja akrab dengan mereka
adalah “Pernah nggak sih kalian suka orang yang sama?”
Ini
karena secara umum orang-orang mengira bahwa mereka yang bersaudara kembar
cenderung akan menyukai hal yang sama. “Mereka kan hidup bersama, sering
mengalami hal yang sama maka bisa jadi mereka cenderung menyukai hal yang sama.”
Pikiran seperti ini bisa jadi adalah dasarnya. Nah, pertanyaan inilah yang coba
ditampilkan oleh Mbak Nathalia Theodora melalui karyanya Twins in Love ini.
Melalui cerita dari sudut pandang Cheryl sebagai orang pertama di dalam novel
ini.
Karena
sudut pandang orang pertama ini, cerita menjadi lebih personal meskipun ini
membuat pembaca tidak tahu perasaan dan pikiran Cindy. Namun tidak berarti
masalah yang ditampilkan menjadi timpang. Yang ada jadi semakin menarik. Karena
pembaca bisa mengintip masalah yang terjadi dari sudut pandang si kembar
sendiri.
Dua
pasang saudara kembar yang saling menyayangi kemudian menyadari bahwa mereka
menyukai orang yang sama. Dilema yang terjadi adalah mana yang lebih penting,
cinta atau persaudaraan. Di sisi lain, penulis juga mengangkat tentang perasaan
insecure yang terjadi dalam
persaudaraan. Tidak hanya antara saudara kembar namun juga dalam persaudaraan
pada umumnya. Tapi memang dalam hubungan saudara kembar perasaan ini lebih
terasa karena mereka equal untuk
dibandingkan.
Tadi
kita bicara tentang konflik dalam novel ini. Lantas bagaimana dengan penokohannya?
Tokoh-tokoh selain Cheryl, Cindy, Kevin dan Alan di dalam cerita ini
ditampilkan menarik. Mereka mewarnai cerita dengan cara yang unik. Ada Jessica,
sahabat Cheryl dan Cindy yang ternyata adalah adik dari Kevin dan Alvin; ada
Mita yang terlihat lebih tomboy dari Cheryl; dan ada Lily yang selalu menyukai
cowok-cowok ganteng. Oiya, novel ini tidak “menyembunyikan” kehadiran kedua
orang tua Cheryl dan Cindy. Ia menjadi bagian cerita yang ikut menjadi solusi.
Ini menjadi poin plus sendiri bagi saya pribadi.
Yang
terasa kurang pas hanyalah karakter Tony. Tindakannnya sepertinya terasa kurang
masuk akal ataupun tanpa perhitungan. Berupaya melecehkan Cheryl padahal
berteman dekat dengan Kevin. Dan juga itu dia lakukan saat mereka sedang
beramai-ramai liburan. Tanpa upaya pendekatan sama sekali sebelumnya hingga
bisa menurunkan kewaspadaan Cheryl. Ini terkesan terlalu mendadak. Bagian ini
malah terasa janggal.
Tapi
di luar itu, cerita ini sudah menarik. Menampilkan keriuhan khas remaja.
Meskipun sebenarnya sisi psikologi dari saudara kembar yang berhasil tergali
masih kurang dalam. Tapi secara keseluruhan novel ini menarik untuk dibaca. Saya
berhasil menamatkannya dalam sehari saja. Ringan dan ceria.
***
 Ada Giveaway berhadiah Twins in Love yang berlangsung di Instagramku lho, Readers 😉