Review Novel Mengadang Pusaran

Novel  Mengadang Pusaran

Mengadang Pusaran
Penulis: Lian Gouw
Penerjemah: Widjati Hartiningtyas
Perancang Sampul: Marius Santo
Penyunting: Flora Maharani
Penerbit: PT Kanisius
Jumlah hal.: xii + 440 halaman
ISBN: 978-979-22-6233-9

Novel Mengadang Pusaran adalah sebuah novel terjemahan yang bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga dengan segala hiruk-pikuk serta perkembangannya di Hindia Belanda. Tersebutlah keluarga Ong yang terdiri atas seorang ibu, dengan 2 orang putra dan seorang putri. Sang Ibu yang disapa Nanna melihat bagaimana anak-anaknya, Chip, Ting dan Caroline, mengakrabi cara hidup kebarat-baratan dan bergaul dengan kalangan Belanda. Dia menyimpan sebuah kekhawatiran yang mendalam atas keadaan tersebut.

Keluarga ini adalah keluarga peranakan Tionghoa yang memiliki tempat yang istimewa di tengah pemerintahan Belanda di Bandung karena jasa mendiang kepala keluarga mereka. Kematian sang suami membuat Nanna dan ketiga anaknya mendapatkan kenyamanan dan keamanan dari pemerintah Belanda. Derajat mereka di masyarakat terangkat hingga mereka mendapatkan pekerjaan dan pendidikan yang baik dan bercampur dengan kalangan Belanda yang tinggal di Bandung.

Namun prahara kemudian datang menerobos pintu rumah mereka saat Jepang datang ke Hindia Belanda dan mengusir keluar Belanda yang disusul dengan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Sebelum perang, menjalin hubungan dengan orang Belanda membawa kebanggaan, tetapi sekarang malah menjadi beban. Orang Belanda tidak lagi memberikan perlindungan; alih-alih mereka malah mengandung bahaya.”

Kalimat ini secara lugas menggambarkan keadaan keluarga Ong di tengah prahara tersebut.

Seluruh putaran kehidupan keluarga ini tergambarkan dengan sangat perinci melalui sudut pandang tiga tokoh perempuan dari tiga masa yang berbeda yakni dari sisi Nanna yang hidup di masa pemerintahan Belanda dengan pola pikir sebagai seorang keturunan Tionghoa yang mengenal dengan baik adat istiadat leluhurnya; dari sisi Carolien yang hidup di tengah kuatnya pengaruh Belanda hingga ke dalam pola hayat masyarakat khususnya di Bandung;  dari sisi Jenny yang hidup di masa peralihan yang penuh gejolak.

Gaya bercerita penulis yang menggunakan sudut pandang orang ketiga yang serba tahu membawa pembaca melihat setiap kejadian dari ‘kacamata’ serta pola pikir masing-masing tokoh. Nanna yang memandang kehidupan dengan waspada seperti yang diajarkan oleh kehidupan padanya; Carolien yang menghadapi keadaan dengan berani dengan keyakinan bahwa kehidupan bisa diubah dengan segala kemampuan dan kecerdikan; Jenny yang bertumbuh dari pemikiran anak-anak yang polos hingga menjadi remaja lebih tajam dalam melihat dan menilai keadaan.

Cerita di dalam novel Mengadang Pusaran ini mengambil masa sekitar 1930an hingga 1950an dengan alur maju yang sangat rapi. Tidak sulit memahami cerita meski pun sudut pandang cerita berpindah-pindah dari sisi Nanna, Carolien dan Jenny. Selain itu penggambaran tempat dan suasana yang menggambarkan  keadaan di tahun-tahun tersebut sehingga menghidupkan cerita ini.

***

Pernahkah teman-teman merasa yakin bisa jatuh cinta pada sesuatu hanya dengar mendengar sedikit tentangnya? Dan bagaimana rasanya ketika apa yang kita bayangkan ternyata berbuah nyata? Bahagia dan bersemangat pastinya. Dan untuk seseorang dengan kesenangan untuk berbagi tentang hal yang saya sukai dan nikmati maka saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk berbagi hal tersebut.

Saat pertama kali mendengar tentang buku ini, sebuah pemikiran langsung melintas di benak saya. “Akan menyentil banyak hal yang cukup peka untuk dibicarakan nih.” Dan benar saja, sejak membaca bab-bab awal novel karya Lian Gouw ini saya menemukan sebuah pesan menarik tentang patriarki yang juga kadang menghinggapi kepala dan hati ini. Dan sejujurnya ada satu kalimat yang sejak awal membuat saya langsung merasa terikat dengan buku ini. Pada halaman 6 pernyataan salah satu tokohnya secara telak mampu menggambarkan apa yang saya rasakan,

Kebahagiaan adalah kedamaian. Kamu tidak akan menemukan kedamaian kecuali kamu merasa aman. Kamu tidak akan menemukan rasa aman dalam keadaan yang serba tidak pasti.”

Sebagai seorang penyintas gempa Majene-Mamuju pada 15 Januari 2021 lalu, saya menyadari kebenaran pernyataan ini.

Ini membuat kepercayaan saya kepada penulis (dan penerjemahnya) menjadi sangat kuat. Saya yakin cerita dan bagaimana ceritanya disampaikan akan sangat sesuai dengan kepribadian dan selera saya. Bukankah jika kita menemukan bahwa seorang penulis mampu menyampaikan sesuatu yang selama ini tergambar di benak kita, maka kita merasa bahwa kita dan penulis ini saling kenal dan terikat?

Sejak awal saya berharap banyak pada buku ini, mengingat saat tinggal di Bandung dan belajar bersama Komunitas Aleut tentang sejarah Bandung saya jadi sangat menyukai sejarah terkait sebelum dan semasa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dan cerita ini berlatarkan masa tersebut dan terjadi di Bandung pula! Semua kedekatan secara kejiwaan ini jelas bisa menjadi senjata makan tuan sebab harapan yang tinggi juga berpeluang menyebabkan kekecewaan. Namun ternyata novel yang diterjemahkan dari Only a Girl yang diterbitkan oleh Dalang Publishing bisa menjawab harapan saya, bahkan melebihinya!

Sebagai sebuah novel yang menggambarkan Bandung di tahun 1930-an hingga 1950-an, saya menemukan sejumlah hal yang sudah saya ketahui dari bacaan-bacaan non-fiksi seperti cerita tentang pemisahan Bandung Utara dan Bandung Selatan, tentang perkampungan Tionghoa, dan beberapa penggambaran lain. Namun yang masih terus saya gali dari ingatan dan pengetahuan adalah tentang Taman Ratu Wilhelmina yang seingat saya hanya ada di Jakarta. Ah, ini membuat saya semakin rindu pada Bandung. Ingin kembali menyusuri taman-taman di sana.

Salah satu kekuatan novel ini adalah penggambaran tiga tokoh utama perempuan yang berbeda masa ini sangat jelas. Penceritaan dari sudut pandang mereka sangat jelas menggambarkan perbedaan sifat dan kepribadian mereka. Kita tidak akan bingung untuk menangkap siapa yang sedang berkisah sebab cara Nanna, Carolien dan Jenny dalam menggambarkan keadaan dan kejadian sangat berbeda. Nanna akan menatap kejadian yang melibatkan orang-orang Belanda dengan sangat hati-hati dan tersemat kecemasan; Carolien akan menggambarkannya dengan penuh semangat dan harap; Jenny malah lebih berjarak tetapi juga membela meski tetap terus bertanya-tanya. Namun ketiga tokoh ini tampil dengan kekuatan mereka yang memikat. Bagaimana Nanna seolah menjadi benteng yang kokoh bagi keluarganya; Carolien yang berkembang dan tumbuh dewasa dalam berpikir dan bertindak meski terus menyimpan banyak impian; serta Jenny yang berkembang dengan sangat pesat dengan kemelut yang bersarang di kepala dan perasaannya akibat hubungan orangtuanya, lingkungannya hingga kenyataan yang berkali-kali memantik kesadarannya tentang banyak hal yang selama ini diyakininya.

Selama membaca buku ini, banyak perasaan yang ditimbulkannya. Tidak hanya rasa penasaran, namun juga pada rasa sayang, gemas, kesal bahkan marah pada tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Lian Gouw. Dan bagi saya, Carolien adalah tokoh yang membuat saya menemukan banyak sisi diri saya di dalamnya yang membuat saya menilik kembali pilihan-pilihan yang saya buat dalam hidup.

Sungguh pengalaman membaca buku yang sangat menghidupkan!