Penulis                 :
Winna Efendi
Penerbit              :
Gagas Media
Cetakan               :
Pertama, 2012
Jumlah hal.         :
173 halaman
Dengan setting
sebuah Kedai Wine bernama “Muse”, dua tokoh dengan jenis kelamin, sifat dan
pembawaan yang berbeda dipertemukan. Dengan menjadikan nama-nama wine sebagai
judul tiap babnya, novel ini memberikan pengetahuan singkat tentang wine. Sejujurnya
pengetahuan tentang wine adalah salah satu hal yang tidak banyak saya ketahui. Dan
tidak membuat saya tertarik. Mungkin nilai yang saya anut sebagai muslim
membuat saya memfilter banyak hal termasuk tentang pengetahuan yang perlu dan
tidak perlu saya ketahui.
Novel ini
bercerita dengan gaya bernarasi. Agak sulit membedakan antara dialog dan
deskripsi yang digunakan pencerita. Sudut pandang novel ini mengambil sudut
pandang orang ketiga. Orang yang memandang kejadian di luar kejadia tersebut. Dialog
yang sedikit digabung dengan narasi yang padat.

Sejujurnya saya
adalah pembaca yang menghindari cerita yang dituliskan denga bernarasi oleh
penulisnya. Saya adalah pembaca yang mudah bosan. Deskripsi dan narasi membuat
rasa bosan itu semakin memuncak dan menjadi rasa kantuk yang membuat mata
enggan membuka dan meneruskan bacaan.
Secara ide, buku
ini cukup menarik yakni tentang tokoh wanita yang pendiam dan lebih suka
menjadi invisible person. Sang tokoh
pria adalah sosok yang tengah bosan pada kehidupannya. Minum wine  di kedai Muse menjadi sebuah pelarian dari
hiruk pikuk hidupnya. Mereka memandang berbagai hal dengan cara yang berbeda. Tentang
cinta, tentang kenangan, tentang masa lalu.
Hingga akhirnya
cinta muncul di antara keduanya. Namun bukankah tidak semua akhir sempurna dari
cinta adalah duduk berdampingan di atas pelaminan? Bahkan saling melepaskan pun
bisa menjadi penutup cerita yang paling benar? Hm.. who knows
Kalau dari
sampul sih tergolong menarik, sinopsis cerita yang juga menggugah khas terbitan
Gagas Media juga menambah nilai lebih untuk buku ini. Namun sayang cara
berceritanya membuat saya mengantuk dan menjadi tidak begitu tertarik untuk menamatkannya.
Akhirnya novel ini selesai dengan tertatih-tatih dan tanpa
kenikmatan-kenikmatan dari membaca sebuah buku yang menggugah hati. Tapi
persoalan cara bercerita ini menjadi hak masing-masing pembaca. Saya mungkin
tidak bisa menikmatinya, tapi ada pembacanya yang mungkin malah mencintai
cerita yang naratif itu. (^_^)
Jadi, jika harus
memberi nilai dalam skala 1-10, maka saya
memberinya nilai 7
(^_^)
Quote   :
“Terkadang,
orang dewasa seperti seonggok badan tak berjiwa. Semakin dewasa seseorang,
semakin pudar jiwanya, menjadi robot yang berkutat dengan rutinitas”
“Lelaki itu
berbicara mengenai pulang. Pulang, baginya adalah untuk meninggalkan bekas
kemenangan pada peta di kamarnya. Rumah adalah tempat yang didatang, untuk
kembali ditinggalkan.”
“Seseorang
pernah berkata…, kita tidak akan pernah benar-benar berhenti mencintai
seseorang. Kita hanya belajar untuk hidup tanpa mereka.”
“…mereka
adalah dua orang yang tepat, yang bertemu pada waktu yang salah”