Sesuai
janjiku padamu. Hari ini aku menulis sebuah surat untukmu.
Bukan karena hari ini orang-orang sibuk
dengan perayaan hari kasih sayang yang bahkan tidak dikenal dalam tradisi
bangsa ini ataupun tradisi suku kita. Ini karena secara kebetulan keluarga
besar kita memilih tanggal ini untuk acara lamaran kita.
Bagi sebagian orang kondisi kita sekarang
cukup aneh. Bagaimana mungkin aku tetap di Bekasi sedangkan di seberang lautan
sana keluargamu datang menyampaikan niatan untuk meminangku untukmu. Tapi
bagiku ini adalah bagian dari kisah kita. Tentang aku yang melanjutkan upaya
menyelesaikan studi dan kamu yang bersiaga di sana menungguku pulang.
Cinta, bukan bagian dari kita, tapi
in-syaAllah kelak akan menyata di dalamnya. Lebih wajar menyebut ini
ketertarikan yang disikapi dengan serius.
Bagiku, kehadiranmu dalam hidupku yang tidak terduga
mungkin sudah ditakdirkanNya. Aku dan kamu tidak pernah menyangka bahwa sejak
pertemuan pertama itu, lima bulan kemudian kita akan mulai menjalani satu demi satu tahapan untuk bisa bersatu dalam ikatan pernikahan. Memulainya dengan sebuah tradisi lamaran. Ah, salah.
Langkah itu bahkan sudah dimulai saat Desember lalu keluargamu datang ke rumah
salah seorang pamanku sebagai bagian dari tradisi messisi’ dalam anat Mandar. Siapa yang menduga bahwa kita akan
menjalaninya secepat itu? Jelas bukan aku orangnya. 
Keyakinan untuk menerima hadirmu adalah hal
yang menyelusup datang begitu saja. Menyambut uluran pertemanan di media sosial
pun kulakukan tanpa praduga. Meski tidak lama kemudian kamu dengan nada
bercanda melamarku via inbox sosial media itu. Tidak berapa lama aku pun
menyadari bahwa semua ajakan menikah itu bukanlah canda semata. Engkau pun
tanpa ragu datang bertemu orang tuaku. Dan tidak lama kemudian melibatkan orang
tuamu dalam hubungan ini.
 
Hatiku sejujurnya melambung dengan sikap gentle
yang kau tampilkan. Kedewasaan yang mewujud dari kemampuanmu memahami pola
pikirku yang berantakan. Penerimaanmu untuk setiap hal dalam diriku yang sering
kali tidak mampu dimengerti orang lain. Sikap diammu saat kekesalanmu atas
sikapku tengah memuncak dan kemudian kau akan datang kembali seraya berkata,”Jika dipikir
suatu hal tidak baik dan memang tidak baik, maka mari bicarakan baik-baik biar
hasilnya jadi baik.” Setelah itu, kita pun memahami betapa banyak hal di dalam
diri kita yang cukup berbeda. Kompromi pun datang darimu dan sesekali dariku.
 

Lihatlah seberapa berbedanya kita. Kamu adalah laki-laki yang mudah sekali
tertawa, sedangkan aku adalah perempuan yang bahkan ekspresi diamnya saja membuat orang tak berani menyapa. Kamu adalah seseorang yang selalu mampu menemukan sisi
lucu dari sebuah peristiwa, sedangkan aku lebih banyak menangkap wajah sendu.
Kamu adalah laki-laki yang sering kali bersikap tidak peduli, sedangkan aku
sangat suka menjadi pemerhati.
Namun kesabaran dan upaya memahamimu menjadi
penengah bagi semua perbedaan itu. Semoga semua perbedaan ini terus bisa kita
jembatani.
Dalam dirimu kutemukan ketangguhan yang kucari. Kekokohan yang kuharapkan mampu mendukungku. Serta kehadiran mimpi-mimpi – yang butuh waktu lama untuk kubuat kau mengakuinya- yang membuatku ingin mendukungmu. Semua hal itu menjadi salah satu alasanku bersedia menerima niatan baikmu.
Di sisi lain, ada satu hal yang sampai sekarang
dipertanyakan oleh keluarga besar kita. “Bagaimana bisa dengan hanya sekali
bertemu kalian berani memutuskan untuk menikah?” Iya, itu bukan hal yang umum
di masa kini. *tapi di masa lalu aku percaya ini adalah hal yang lumrah
terjadi* Bahkan hingga kini, hingga surat ini kutuliskan, kita belum pernah
lagi bertemu untuk kedua kalinya. Namun aku tetap saja memiliki keyakinan bahwa
insyaAllah ini adalah yang terbaik. Dan semoga memang begitu adanya.
Surat ini kutuliskan sebagai salah satu
caraku mengenang fragmen cerita kita. Menjadikannya bagian dari kepingan
orang-orang yang membacanya. Kelak saat kisah ini menemukan akhir yang bahagia,
cerita kita bisa menjadi saksi atas “Rencana yang hanya menjadi rahasiaNya”.
Bahwa sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia.
Kebetulan aku masih di Majene dan terlibat
dalam Bedah Buku. Kebetulan kamu datang dalam rangka meliput Bedah Buku
tersebut. Kebetulan bahwa hari itu kita berada dalam satu forum rapat informal
yang sama. Dan semua kebetulan itu mengalir menjadi sebuah rencana besar. Masih
bisakah kita menyebutnya kebetulan?
Ah, sudahlah. Ceritaku akan semakin melantur
kemana-mana.
Biarkan aku menutup surat ini dengan sebuah
harap bahwa jika memang namaku yang dicatatkanNya sebagai takdirmu, maka semoga semua rencana baik kita dilancarkan. Jika tidak? Semoga Dia
memberi kita yang terbaik (^_^)
Selamat datang di duniaku. Dunia yang sering
kusebut sebagai “jendela yang terbuka”. Semoga tak ada keberatan di hatimu saat
aku membagi sepotong kisah kita ke dalam sel abu-abu orang lain melalui tulisan ini. Sebab aku tahu
betapa kamu lebih memilih menyimpan banyak hal untuk dirimu sendiri. Kalaupun ada keberatan, ingatlah, aku menulis
surat ini pun atas permintaanmu 😛 *cari alasan..he..he..*
Semoga setelah ini semua persiapan pernikahan kita dilancarkan.
Salam teriring do’a
Ika (bukankah ini namaku yang paling kau
sukai?)