Penulis:
Indonesia Berkebun
Penyunting:
Nofiandi Opi & Tinton DP
Penyelaras
akhir: Purwadaksi Rahmat
Desain:
Teguh Widyanto
Foto:
Dok. Penulis
Penerbit:
PT AgroMedia Pustaka
Cetakan:
Pertama, 2015
Jumlah
hal.: x + 94 halaman
ISBN:
979-006-536-1
Komunitas
Indonesia Berkebun adalah komunitas yang sudah cukup dikenal dalam skala
nasional. Kejelian dalam melihat fenomena di kehidupan perkotaan menjadi nilai
lebih bagi komunitas ini. Selain itu peran Indonesia Berkebun dalam
menghijaukan ruang-ruang yang tidak terpakai juga menambah simpati masyarakat pada komunitas ini. Ditambah lagi dengan semakin booming-nya metode hidroponik yang banyak
digunakan oleh komunitas ini semakin memperbesar ketertarikan masyarakat pada
Indonesia Berkebun dan kegiatan-kegiatannya.
Ridwan
Kamil sebagai inisiator komunitas ini pun menyampaikan bahwa peran yang diambil
oleh Indonesia Berkebun menjadi jalan untuk membuktikan bahwa manusia perkotaan
bisa menjadi produsen, tidak hanya konsumen. Masyarakat perkotaan dengan urban farming bisa menghasilkan sendiri
kebutuhan mereka atas sayuran dan buah-buahan. Ini jelas menjadi hal yang baik
sebab memberi keuntungan secara ekologi dan ekonomi.
Saat
mendapat buku ini, saya bertanya-tanya apa yang akan disuguhkan oleh buku yang
ditulis oleh sebuah komunitas. Apakah hanya sekedar informasi tentang komunitas
itu sendiri? Seperti siapa saja pengurusnya, penggiatnya dan kegiatannya.
Tapi
ternyata buku ini bukanlah ajang narsis. Setiap part cerita kental dengan
pembahasan urban farming. Berbagai
tips dan motivasi untuk melakukan urban
farming
bertebaran di manapun.

***
Di
usianya yang hampir menginjak 5 tahun, Komunitas Indonesia Berkebun telah
berkembang di 33 kota dan 9 kampus di Indonesia. Kegiatannya pun beragam dan
fun. *Melirik foto-foto di dalam buku*
Setiap komunitas melakukan berbagi kegiatan dan inovasi untuk membuat masyarakat di
kota mereka tertarik untuk melakukan urban farming. Mulai dengan membuat
akademi berkebun; membuat kebun kota dengan memanfaatkan lahan tidur atau lahan
yang tidak terpakai; membuat Sunday Market
yang menjual benih serta membuat pelatihan mini; dan masih banyak lagi.
Di
dalam buku ini juga banyak cerita dari para penggiat Indonesia Berkebun di
berbagai kota. Mulai dari kisah pertama kalinya Indonesia Berkebun cabang kota
mereka dibentuk, perasaan senang mereka saat berkegiatan bersama sampai cerita
tentang pasangan Kangkung IDBerkebun. Ha..ha.. ini jadi bagian favorit saya
karena diceritakan tentang penggiat Indonesia Berkebun yang berhasil menemukan
jodohnya di komunitas ini. (^_^)v
Di
buku ini juga banyak tips menarik yang membuat berkebun itu tidak lagi jadi
sesuatu yang sulit atau ribet. Ada tips menanam kangkung, menanam bayam,
menanam pot, bawang merah bawang daun, seledri, dan lain-lain. Errr..itu semua
kan sering sekali kita temukan di dapur sendiri. Kalau bisa kita hasilkan
sendiri pasti banyak keuntungannya. Selain keuntungan secara ekonomi (baca:
hemat) juga keuntungan dari segi kesehatan karena kita bisa memastikan sendiri
bahwa sayur yang kita tanam memang tidak memakai pestisida yang berbahaya untuk
kesehatan.
Ternyata
buku ini menyenangkan untuk dibaca. Sayangnya, sedikit masukan untuk layout
buku. Tulisannya masih terlalu rapat. Selain itu di beberapa bagian tulisannya
terlalu kecil seperti di halaman 23 dan 25. Tulisan di dalam box menyulitkan
orang yang berkacamata seperti saya (>_<).
Tapi
secara keseluruhan isi bukunya menarik dan bermanfaat. Selain itu kertasnya yang
lux membuat buku ini tidak cepat rusak atau robek (^_^)v