tidak kah itu
menyakitkan?”tanyanya pelan,”benci dan cinta bercampur menjadi satu.” (hal.
182)
 
Penulis: Sienta Sasika Novel
Editor: Anin Patrajuangga
Desain Kover & Ilustrasi: Lisa Fajar Riana
Penata Isi: Lisa Fajar Riana
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: viii + 204 halaman
ISBN: 978-602-251-435-0
Setiap
cinta akan menggoreskan warna sendiri, tidak ada yang tahu apa yang akan
terjadi saat kita memilih satu di antara dua hati. Mereka memiliki ruangnya
sendiri, memiliki waktunya sendiri, dan memiliki lintasannya sendiri.
Kita
pun tidak akan mampu memilih cinta mana yang akan mengembuskan rona-rona
kebahagiaan atau justru luka-luka yang akan tergores. Ya, cinta terkadang
seperti kembang gula terasa manis, tapi cinta juga terkadang terasa getir.
Dan
saat dihadapkan dengan luka, akankah cinta tetap bertahan di tempatnya? Atau
berlari menyusuri masa lalu dan kembali pada hati yang dulu tak ia pilih?
Namun,
cinta bukan melulu tentang perasaan yang meluap-luap, cinta juga bicara tentang
keyakinan akan benang merah yang telah mengikat.
***
Tavita adalah
perempuan yang cukup beruntung. Di saat perempuan lain galau karena jodoh, ia
malah didekati oleh dua orang pria menarik. Keduanya punya niatan serius
dengannya. Lando, seorang laki-laki yang secara fisik menarik, musisi yang
tengah merintis kariernya, penyabar dan penyayang. Razka, laki-laki yang secara
ekonomi sangat berkecukupan bahkan berkelebihan, selalu bisa memanjakan Tavita,
dan bisa membuat Tavita dan keluarganya bahagia. Namun ternyata terjebak di
antara dua pilihan ini malah menyulitkan Tavita mengambil keputusan. Ia takut
membuat pilihan yang salah. Pilihan yang akan ia sesali.
Dalam novel
Warna Hati karya Sienta Sasika Novel ini, pembaca disuguhi dua kehidupan,
masing dalam Chapter Jingga dan Chapter Biru. Dengan menggunakan sudut pandang
orang ketiga, penulis menampilkan kehidupan yang dijalani oleh Tavita bersama
pilihan yang telah ia buat.

Dalam chapter Jingga, diceritakan kehidupan
Tavita sebagai istri Lando. Lando adalah suami yang penyayang  dan penyabar. Ia berusaha dan bekerja keras
untuk membahagiakan Tavita. Namun meski secara batin Tavita merasa aman, namun
kemelut rumah tangga muncul dari faktor ekonomi. Penghasilan Lando sangat tidak
menentu. Bahkan lebih sering terasa kurang.
Awalnya Tavita
tidak mempermasalahkan hal ini. Kebahagiaan yang dia rasakan bersama Lando yang
sangat menyayanginya dirasa cukup. Namun saat kehamilan melemahkan fisik dan
mental Tavita, sekelilingnya membuatnya menyesali pilihannya. Ibu Tavita tiada
henti menekan Tavita untuk bercerai dari Lando yang dianggap tidak mampu
menafkahi Tavita. Sepupu Tavita yang sibuk memamerkan kemapanan ekonomi
suaminya dan juga merendahkannya semakin melukai hati Tavita. Puncaknya, ia
goyah saat bertemu kembali dengan Razka. Serta menyadari bahwa jika bersama
Razka, semua keperluan Tavita dan keluarga bisa tercukupi. Dan Tavita tidak
perlu bekerja keras serta direndahkan oleh orang lain. Jadi, pantaskah Tavita
menyesali keputusannya? Jalan apa yang akan ia piliha? Bisakah ia memperbaiki
keadaan?
Kemudian di chapter Biru, Tavita diceritakan menjadi
istri Razka. Bagian ini dibuka dengan setting rumah sakit. Razka mengalami
kecelakaan mobil. Dalam kecelakaan itu Razka diketahui tengah bepergian berdua
dengan seorang perempuan yang ternyata adalah istri Lando. Kemudian, akhirnya
ia menemukan sebuah bukti ketidaksetiaan Razka.
Lantas apa yang
harus dilakukan Tavita? Apakah ia akan membalas pengkhianatan Razka saat
suaminya itu tersadar dari kondisi koma? Mampukah ia memaafkan? Lantas apakah
semua kenyamanan dan kemapanan materi ini sebanding dengan sakit hati Tavita
akibat dikhianati? 
Dua versi cerita
ini ditampilkan dengan cukup menarik oleh Sienta Sasika Novel.
***
Membaca dua
suguhan cerita di Warna Hati ini, pembaca seolah diingatkan bahwa tidak ada
yang namanya pilihan sempurna. Tidak ada pilihan yang aman. Setiap kisah punya
bahagia dan dukanya sendiri. Melalui kisah Tavita kita akan bertanya-tanya.
Apakah hidup sederhana dan seadanya namun mendapatkan kesetiaan pasangan jauh
lebih baik daripada kehidupan sejahtera namun sang suami asyik bercumbu dengan
perempuan lain? Ini jelas suguhan yang menarik.
Plot cerita di
Warna Hati ini memang menarik. Dekat dengan realitas. Tapi ada perbedaan
signifikan dalam karakter Tavita di Jingga dan Biru. Di Jingga, karakter Tavita
tidak berkembang, bahkan cenderung mengalami penurunan. Konflik cerita tidak
membuat karakter Tavita menguat. Sebaliknya ia melemah. Bahkan akhir cerita
Jingga terkesan terjadi perubahan keputusan drastis tanpa alasan yang
benar-benar jelas.
Berbeda halnya
dengan karakter Tavita di Biru. Tavita terkesan agak datar. Hanya berkutat di
kebingungannya sendiri. Hanya diperasaan sedih. Saya malah berharap muncul
perasaan jijik dari dalam diri Tavita karena melihat video perselingkuhan
suaminya. Sayangnya Tavita terlalu sibuk dengan luka hati saja. Itu pun tentang
pilihan menerima dan memaafkan. Rasanya proses pemaafan ini juga kurang smooth.
Tapi untuk hal
lain di luar karakter ini sudah ok. Saya suka dengan pesan yang coba
disampaikan oleh penulis. Tentang pilihan. Tentang semua ada resikonya. Tentang
bagaimana seharusnya kita menghadapi konsekuensi pilihan itu, bukannya sibuk
menyesalinya.

puisi saya yang terinspirasi buku Warna Hati
 “Mungkin keikhlasan adalah jalan
terbaik dibandingkan kehilangan.” (hal. 194)