“Dilupakan
tidak pernah menjadi sesuatu yang menyenangkan.” (Hal. 39)


Penulis: Andry Setiawan
Penyunting: Yooki
Proofreader: Yuli Yono
Ilustrasi Isi: @teguhra
Design cover: Bambang
‘Bambi’ Gunawan
Penerbit: Haru
Cetakan: Pertama, Oktober
2015
Jumlah hal.: 204
halaman
ISBN: 978-602-7742-58-1
Tahu
tidak, bintang itu cahaya masa lalu?
Bintang itu, adalah orang yang mati
meninggalkan sesorang yang ia cintai di bumi.
Lynn,
boleh kan aku mengingatkanmu sekali lagi tentang kita?
Tentang bagaimana kita bertemu.
Juga tentang bagaimana kita bertengkar dan berbaikan.
Lalu tentang ciuman pertama kita,
dan juga tentang perjalanan kita selama ini.
Aku
hanya berharap,
besok kau tidak melupakannya lagi.
Karena itu, aku tulis semuanya di buku ini.
Agar saat kau lupa,
kau bisa membukanya lagi dan membacanya.
Tentang kita
Sampai
salah satu dari kita menjadi bintang.
Sampai bintuang itu jatuh dan menjemput salah satunya.
Bintang
terjatuh karena ia mengejar orang yang dicintainya,
 yang sudah menyusul dirinya.
***

“Katamu,bintang
itu sangat keren karena bisa bersinar dan membuat langit malam yang gelap jadi
cantik.” (Hal. 9)

Novel
When the Star Falls adalah novel bergenre young
adult
namun cukup riang untuk dibaca oleh remaja. Dengan menjadikan
hubungan Sammy dan Lynn sebagai pusat cerita, kisah di dalam novel ini
dituturkan dengan menarik.
Lynn
melupakan Sammy karena operasi yang dilakukan untuk membuang sel tumor yang
bersarang di otaknya. Hilangnya ingatan Lynn sudah diprediksi oleh dokter dan
bahkan oleh Sam. Itu sebabnya Sam akhirnya membuat sebuah buku catatan untuk
membantu Lynn mengingat kembali tentang dirinya.
Sebenarnya
ini membuat Sam sedih karena dari semua hal yang ada diingatan Lynn, kenapa
harus Sam yang ia lupakan? Kenapa semua hal tentang mereka yang menghilang dari
ingatan Lynn. Namun dengan sabar, Sam berusaha membuat Lynn menyukainya lagi.
Sampai
suatu hari Leon datang dan mengatakan betapa Sam sudah bersikap egois dengan
memaksa Lynn mengingat tentang dirinya. Bukankah dengan berusaha mengingat Sam,
Lynn akan merasa kelelahan? Kesulitan? Ini membuat Sam merasa bersalah dan
memilih mundur. Apalagi saat ia mulai merasa bahwa Billy, sahabat Leon,
tertarik pada Lynn.
Benarkah
keputusan Sam? Apakah memang ia sebaiknya membiarkan Lynn melupakannya? Relakah
Sam melepas semua kenangan manis yang dimilikinya bersama Lynn?

“Tahukah
kau bahwa apa yang anak-anak katakan adalah cerminan kata-kata orangtua
mereka?” (Hal. 15)

***

“Lynn,
ingat tidak jawabanku ketika kau bertanya apa yang akan terjadi kalau kau
meninggal? Waktu itu aku menjawab bahwa kau akan mendiami sebuah rumah yang
megah di salah satu bintang. Kau tertawa waktu itu, mengatakan bahwa kau akan
mengucapkan terima kasih pada arsitek yang membangunkanmu rumah itu.”

Itu
adalah paragraf pembuka di dalam novel. Kalimat ini menjadi sebuah kekuatan
tersendiri bagi novel When the Star Falls ini. Kalimat ini tidak terkesan klise
ataupun terlalu mainstream dan dipakai di berbagai novel. Cara penulis membuka
novel ini menarik, karena mengetengahkan hal yang sejak awal hingga akhir akan
konsisten disebutkan di dalam novel. Paragraf pembuka ini pun membuat pembaca
penasaran, siapa yang sedang menulis? Dan bagaimana sosok Lynn? Tampaknya Lynn
adalah perempuan yang humoris jika dilihat cara ia menanggapi jawaban “aku”.
Selain
itu, kelebihan novel When the Star Falls ini adalah semua tokohnya punya
kekurangan. Sangat manusiawi. Lynn digambarkan sebagai perempuan kuat namun
menderita tumor otak. Karena perawatan yang dialaminya, Lynn melupakan beberapa
hal, terutama tentang Sammy. Sosok Sammy sendiri pun digambarkan sebagai
laki-laki pemendam dan pendendam. Hm.. kombinasi yang buruk kan? Tambahkan lagi
sifat pengecut dan gampang mengambil kesimpulan sendiri. Semakin buruk? Yup,
tapi sebenarnya Sammy tidak seburuk itu. Belum lagi ada karakter Leon yang
rasanya pengin saya tabok saking nyebelinnya. Apa mentang-mentang ia terbiasa
hidup nyaman sampai dengan santainya ia bersikap tidak peduli pada perasaan
orang lain? Dan Billy, dia laki-laki baik dengan masa kecil yang membuatnya
terkesan bandel. He..he.. Billy adalah karakter favoritku, meski jika
membayangkan Billy ada di dunia nyata aku pasti akan sulit dekat dengannya
karena aku tidak begitu nyaman dengan laki-laki bertubuh besar.
Penggunaan
POV 1 di dalam novel ini membuat buku ini terkesan personal. Buku ini
ditampilkan sebagai sebuah catatan yang ditulis Sammy untuk Lynn. Sayangnya
narasi Sammy terasa kaku dan serius. Membuatnya terkesan monoton.
Syukurlah
permaianan alur yang dipilih penulis menyelamatkan hal ini. Dengan penambahan flachback di beberapa bagian cerita
membuat pembaca tidak bosan. Selain itu, flashback
ini membantu pembaca memahami perasaan Sammy dan Lynn. Membuat pembaca punya
alasan untuk bersimpati pada kisah mereka.
Dalam
hal deskripsi, penggambaran tempat di dalam novel ini sudah pas. Kecuali
penempatan setting tempat yang disebut berada di sebuah perumahan kecil di Jawa
Timur. Ini rasanya kurang sesuai dengan semua detail itu. Taman kota yang
bagus, universitas yang punya jurusan seni pahat. Ini teralu hebat untuk
lingkungan “sebuah peruamahan kecil di Jawa Timur”.
Tapi
di luar semua kekurangan itu, novel ini masih tetap memikat dan enak dibaca.
Saya bahkan menyelesaikannya dalam 1 malam 😀
Hm..
Ini novel kedua karya Andry Setiawan yang saya baca. Dan novel ini pun sama
menariknya dengan novel Sayap-Sayap Kecil yang juga ditulis oleh Andry
Setiawan.

“Melindungi
yang lemah itu adalah tugas mereka yang punya kekuatan. Karena kata Papa,
kekuatan itu datang dengan tanggung jawab.” (Hal. 18)

***

“Jangan
salah. Hati wanita memang merepotkan. Mungkin kami suka direpotkan.” (Hal. 19)

Psssst.. akan ada Blogtour When the Star Falls di blog saya.
Kali ini Blogtournya spesial karena postingannya khusus dari seorang tamu spesial. Yup, akan ada guest  star writer *halah istilahmu, Tria*
He..he. intinya nantikan Blogtour When the Star Falls ya 🙂

“Tidak
ada luka yang lebih besar daripada luka hati karena dikhianati oleh orang yang
kita cintai.” (Hal. 63)
***
“Bintang
itu … adalah orang mati yang meninggalkan seseorang yang dia cintai di bumi.
Katanya, bintang itu melindungi orang yang dia kasihi itu, mengawasi, dan
menjaganya dari atas.” (Hal. 114)

“Tahu
tidak, bintang jatuh karena dia mengejar kekasihnya yang menyusul dirinya.
Meninggal maksudku, untuk hidup bahagia selamanya sebagai bintang.” (Hal. 115)
“Kau
tahu, Lynn, kenapa para pria berlutut saat melamar gadis mereka? Karena lutut
mereka gemetaran dan mereka tidak bisa berdiri.” (Hal. 119)
“Orang
bilang kalau cewek jatuh cinta, mereka semakin cantik. Tapi kalau cowok jatuh
cinta, mereka semakin tidak keruan.” (Hal. 133)
“…,
akhir-akhir ini aku berpikir, apakah keluarga memang seperti itu? Tempat kita
pulang. Tempat kita bisa kembali meskipun kita melakukan ratusan kesalahan,
bahkan ribuan. Kapan pun, kita bisa pulang.” (Hal. 145)
“Semua
orang, tanpa kecuali, memiliki perasaan dan pikiran mereka sendiri saat
mengambil sebuah keputusan. Katakutan mereka, rasa cemas, bahkan rasa sayang
bisa menjadi alasan itu. Apa hakku untuk mengabaikan perasaan itu dan menyuruh
mereka mengambil keputusan yang bertolak belakang dengan perasaan mereka?”
(Hal. 159)
“…,
konon laki-laki lebih lemah daripada perempuan. Toh laki-laki hanya terbuat
dari debu dan perempuan terbuat dari tulang rusuk. Jelas sudah kenapa kalian
perempuan lebih tegar dan kuat.” (Hal. 194)