Terjemahan: Di Ujung Pelangi
Penulis: Cecilia Ahern
Alih Bahasa: Monica Dwi Chresnayani
Desain dan Ilustrasi sampul: emte
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Ketiga, Juli 2013
Jumlah hal.: 623 halaman
ISBN: 978-979-22-9789-8
Mulai dari anak-anak nakal sampai menjelma
remaja pemberontak, Rosie dan Alex selalu bersama. Sayangnya, di tengah-tengah
serunya masa remaja, mereka harus berpisah. Alex dan keluarganya pindah ke
Amerika.
Rosie benar-benar tersesat tanpa Alex.
Namun, pada malam sebelum dia berangkat untuk kembali bersama Alex, Rosie
mendapat kabar yang akan mengubah hidupnya selamanya, dan menahannya di tanah
kelahirannya, Irlandia.
Meski demikian, ikatan batin mereka terbukti
sanggup melewati suka-duka kehidupan masing-masing. Tetapi, keduanya tidak siap
menghadapi perubahan lain yang terjadi di antara mereka: Cinta.
***
Dikisahkan dua
sahabat yang berteman sejak mereka masih kecil. Mereka adalah Rosie dan Alex.
Persahabatan tersebut terus mereka jaga melalui surat-surat dan email-email
mereka. Terutama setelah mereka dipisahkan oleh jarak. Saat Alex harus pindah
ke Amerika mengikuti orang tuanya, hubungan keduanya sempat merenggang.
Terlebih saat sebuah musibah menimpa Rosie. “Kecelakaan” yang membuat Rosie
akhirnya harus melepaskan kesempatannya melanjutkan studi karena harus
melahirkan Katie. Pembatalan Alex untuk menemani Rosie di prom night ternyata berbuntut panjang.
Setelah Katie
lahir, Rosie harus menghadapi banyak hal. Mulai dari menjaga bayinya sendiri
hingga memikirkan cara mencari uang agar tidak terus membebani orang tuanya. Di
lain pihak Alex kian disibukkan oleh kuliah kedokterannya serta kekasihnya,
Sally, yang akhirnya ia nikahi. Sayangnya tidak semua hal berjalan mulus.

Satu persatu
masalah datang bersama sebuah kesadaran di benak keduanya yakni bahwa hubungan
persahabatan itu sudah menjelma menjadi cinta. Sayangnya takdir seolah tidak
mengizinkan mereka bersama. Saat Alex menyadari perasaannya pada Rosie, Rosie
malah akan menikah dengan Greg. Saat Rosie ingin menyampaikan perasaannya, Alex
malah menemukan perempuan lain yang ingin ia kencani. Semua selalu dengan
alasan “waktu yang tidak tepat”. Dalam rentang waktu itu hubungan persahabatan
antara Rosie dan Alex terus berlanjut hingga via email, chat dan sesekali
saling mengunjungi.
Lantas, sejauh
apa keduanya mampu  mempertahankan
persahabatan mereka? Serta sejauh apa keduanya mampu terus menutupi perasaan
cinta di hati mereka masing-masing?
***
Sekali lagi sebuah kisah pertemanan
masa kecil yang berujung cinta. Namun kali ini membaca buku ini memunculkan
cukup banyak pertanyaan dibenak ini.

Kapan sih sebenarnya waktu yang
tepat itu?
Lantas apa itu takdir?
Kenapa Rosie dan Alex tidak bisa
bersatu seberapapun mereka saling mencintai? Bisakah mereka di akhir cerita
bersatu? Setelah liku panjang yang mereka alami dalam hidup mereka
masing-masing?

Sekali lagi saya
dibuat menikmati cerita yang disuguhkan oleh Cecilia Ahern. Konflik dalam novel
ini cukup berwarna. Ada kisah persahabatan, keluarga, rumah dan tentang membuat
pilihan dalam hidup.
Bicara tentang
pilihan, berkali-kali Rosie dan Alex ini berkesempatan untuk membuat pilihan
dalam hidupnya. Ia bisa saja memilih untuk menggugurkan putrinya, Katie. Rosie
bisa saja membuat pilihan untuk memperjuangkan Alex. Begitupun sebaliknya. Alex
pun memiliki pilihan untuk bersikap berani dan menyampaikan perasaannya pada
Rosie. Alex bisa bersikap berani dengan merebut Rosie dan menyelamatkannya dari
pernikahan yang mengecewakannya.
Dalam novel ini,
ada satu bagian yang berhasil mengalirkan air mata saya. Yaitu saat membaca
surat yang ditulis oleh Ayah Rosie sebelum meninggal. Di surat itu, sang Ayah
menyatakan kebanggaannya pada keberanian Rosie menghadapi dunia. Keberaniannya
menentukan pilihan dan menerima konsekuensi pilihannya itu. Rasa haru ini
mungkin terasa membuncah karena kedekatan yang saya miliki dengan papa saya
sendiri. Merasakan perasaan Rosie yang membaca surat ayahnya yang telah tiada
dan berisi pengakuan kebanggaannya pada Rosie jelas sebuah dukungan moril yang
sangat besar.
Dalam novel When Rainbows End ini, penokohan setiap
karakternya sangat kuat. Rosie dan Alex dibuat berkembang mengingat mereka
diceritakan tumbuh bersama sejak kecil hingga akhirnya menua. Mereka dibuat
berkembang bersama pengalaman hidup mereka. Banyaknya tokoh yang hadir dalam
cerita ini pun tidak membuat setiap karakter menjadi seragam. Bahkan nama-nama
tokoh yang muncul di chattingan para
duda/janda cerai bahagia
yang diikuti Rosie pun mempunyai kekhasannya
masing-masing.
Satu lagi, gaya
penceritaan yang digunakan Cecilia Ahern pun unik. Kisah di dalam novel ini
hanya berisi email, surat dan percakapan chatingan Rosie dan Alex dengan
teman-temannya. Tidak ada narasi dan dialog yang umumnya ditemukan dalam novel
lainnya. Cara yang unik dan saya tetap bisa menikmati ceritanya (^_^)
***
Oiya, saya mau
mengucapkan terima kasih untuk Ika Kurniasi. Sahabat terbaik yang sudah
menghadiahi buku ini untuk saya. Kamu ingat kalimat ini??
“Buku adalah
teman terbaik. Dan sahabat baik adalah ia yang menghadiahimu buku”
 
Ha..ha.. selalu
merindukan tradisi ulang tahun kita setiap tahun. Kamu adalah salah satu hal
yang membuatku kadang tidak betah di Bandung ini dan berharap bisa segera
terbang ke Sulawesi (>_<)