“Nak. Ketika kau lahi, kau menangis sementara dunia
berbahagia. Jalani hidupmu dengan sedemikian rupa sehingga ketika kau mati,
dunia menangis sementara engkau berbahagia.” (Hal. 13)


Judul terjemahan: Jiwai Hidupmu
sehingga saat kau mati, dunia menangis sementara kau bahagia
Penulis:
Robin Sharma
Penerjemah:
Airin Nisa
Penyunting
naskah: Rini Nurul Badariah dan Indradya SP
Proofreader:
Kamus Tamar
Desain
sampul: Sarah Sofia Putri
Penerbit:
Kaifa (PT Mizan Pustaka)
Cetakan:
I, Oktober 2014
Jumlah
hal.: 220 halaman
ISBN:
978-602-7870-62-8
Zaman sekarang, kita lupa apa sesungguhnya hidup
ini. Kita bisa mengutus seseorang ke bulan dengan mudah, tapi kita sulit
melangkah ke seberang jalan untuk bertemu dengan tetangga baru. Kita mampu
menembakkan rudal ke seberang dunia dengan akurasi luar biasa, tapi bermasalah
menepati janji dengan anak-anak untuk pergi ke perpustakaan. Kita punya e-mail,
mesin faksimili, dan telepon digital sehingga bisa selalu terhubung, tetapi di
masa ini manusia sangat tidak acuh. 
Kita kehilangan sentuhan terhadap rasa kemanusiaan.
Kita telah kehilangan sentuhan terhadap tujuan hidup kita. Kita tidak lagi
dapat mengerti prioritas. Jadi, saat kau mulai membaca buku ini, dengan hormat
aku bertanya: Siapa yang akan menangis saat kau mati?
Robin Sharma, penulis buku laris The Monk Who Sold
His Ferrari, lewat buku ini menawarkan 101 solusi gamblang  dan sederhana untuk menghadapi
tantangan-tantangan dalam kehidupan. Buku ini penuh limpahan kebijaksanaan yang
akan memperkaya kualitas kehidupan profesional, pribadi dan spiritual Anda.
Membaca Who Will Cry When You Die? Berarti Anda memutuskan untuk menjalani
kehidupan berdasarkan keputusan-keputusan dan bukan kebetulan, dengan
merancangnya ketimbang sekadar menjalaninya tanpa makna.
***

“Berapa banyak kehidupan yang kau akan sentuh saat
kau memiliki hak untuk menghabiskan waktu di planet ini? Dampak apa yang akan
diberikan oleh hidupmu pada generasi setelahmu? Dan warisan apa yang kau
tinggalkan setelah menghembuskan napas terakhirmu?” (Hal. 13)

Membaca buku ini, kita akan disuguhi 101 tindakan
yang disarankan. Semuanya dibagi menjadi 101 Bab. Heh? 101 Bab. Iya. Tiap Bab
hanya sepanjang dua halaman saja. Dan isinya sangat singkat, padat, jelas, dan
menginspirasi.
Ada baiknya, saat membaca buku ini, mulailah
bertekad untuk memperaktikkan satu demi satu tips di dalamnya seumur hidup.
Sebab saat membaca setiap membaca satu bahasan, otak akan bertualang mencari
cara agar melakukan beberapa hal yang disarankan. Akan ada ide kegiatan yang
dirasa bisa dilakukan untuk melaksanakan saran tersebut sambil membuktikan
betapa “hidup” kehidupan saat melakukannya.
Nah, dari 101 Bab yang ada di dalam buku ini, saya
sangat menyukai beberapa di antaranya, tapi sebenarnya saya suka semuanya, sih.
He..he.. Nah, Bab-Bab tersebut adalah:
Bab Lima:
Buatlah Jurnal Harian.
Dalam bab ini
kita diajak untuk mulai menulis jurnal harian. Ia membedakan jurnal dengan buku
harian. “Buku Harian adalah tempat kau mencatat peristiwa-peristiwa, sedangkan jurnal
adalah tempat kau menganalisis dan mengevaluasinya.” (Hal. 23) Ini memperjelas
maksud penulis jurnal yang disarankannya.

“Ingat, jika hidupmu cukup berharga untuk
direnungkan, berarti hidupmu juga pantas untuk dituliskan.” (Hal. 22)

Bab Dua Puluh Empat:
Belajar dari Film yang Bagus.

Untuk yang gemar menonton, saran ini adalah saran yang paling menyenangkan
untuk diaplikasikan. Saran ini muncul karena film pun dapat menginspirasi.
Menurutnya, “film yang bagus dapat mengembalikan sudut pandangmu, menghubungkanmu
kembali dengan hal-hal yang paling kau hargai, dan membuatmu tetap antusias
dengan semua hal dalam hidupmu” (Hal. 63).
Bab Dua Puluh
Delapan: Selalu Bawa Buku
. Jelas ini
adalah saran favorit saya. Saran yang akan 
saya lakukan dengan senang hati. Dan sudah sejak lama selalu saya
laksanakan. Ia menegaskan tentang jumlah waktu yang akan terbuang saat
menunggu. Kemudian menyarankan untuk mengisi kegiatan menunggu itu dengan
membaca sehingga saat orang lain menunggu dengan mengeluh, kita akan mendapat
asupan pemikiran yang bagus dan gagasan-gagasan yang bagus dari buku yang
dibaca.

“…, tahu cara membaca tapi mengabaikannya akan
menempatkanmu dalam posisi yang sama dengan orang tuna aksara tapi ingin dapat
membaca.” (Hal. 73)

Bab Tiga Puluh
Satu: Tulis Semua Masalahmu.
Dengan
menuliskan masalah-masalah yang dialami bisa mengurangi beban pikiran. Di saat
yang sama juga akan membantu kita melihat dengan sudut pandang baru dan bisa
menyusun rencana untuk menyelesaikannya dengan teratur satu demi satu.

“… pikiran dapat menjadi sahabat baik kita,
pikiran juga dapat menjadi musuh terburuk kita.” (Hal. 78)

Bab Tiga Puluh
Enam: Bacalah Tuesday with Morrie.
Ya,
saya sudah membaca buku ini. saya setuju dengan penulis yang menyarankan membaca
buku ini. Ini karena Tuesday with Morrie
ditulis berdasarkan kisah nyata dan menyentil kehidupan kita tentang skala
prioritas dan bagaimana itu mengisi kehidupan. Review Tuesday With Morrie bisa kamu baca di blog ini juga, Readers.

“Begitu belajar caara untuk mati, kau akan belajar
cara untuk hidup.” (Hal. 89)

Bab Empat Puluh
Tiga: Bangun Perpustakaan Buku-Buku Inspiratif.
Penulis mengemukakan bahwa sejumlah buku telah
menjadi inspirasi bagi kehidupannya. Ini membuat ia menyarankan pembacanya
untuk membaca buku-buku inspiratif mulai dari biografi, buku-buku motivasi,
puisi, hingga novel-novel yang mengandung kebijaksanaan. Saran yang ini pun
tengah saya rintis. Sebab saya ingin menjadikannya sebagai salah satu warisan
berharga bagi anak-anak saya kelak.
Bab Tujuh Puluh Delapan: Jangan Selesaikan Setiap
Buku yang Kau Baca
. Bagi seorang
pecinta buku seperti saya, saran ini jelas mengganggu. Saya tidak akan bisa
mereview buku jika buku tersebut tidak saya baca hingga selesai. Namun saat
membaca penjelasannya, saya pun setuju. Bahwa dengan melakukan ini, bisa
mencegah diri dari membuang-buang waktu yang bisa dipakai untuk membaca buku
lain yang lebih bagus.
Bab Sembilan Puluh Dua: Tanam Sebatang Pohon. Penulis menyarankan hal ini sebab dengan menanamnya
bisa menjadi sebuah penanda bagi siklus kehidupan kelak. Ia bahkan menyarankan
untuk menanam satu pohon untuk satu anak. Kelak pohon itu akan menjadi
pengingat bagi diri sendiri dan anak-anak tersebut.
Bab Sembilan
Puluh Delapan: Kumpulkan Kutipan yang Menginspirasimu.
Sering kali kutipan ini tanpa sengaja menyentuh
masalah-masalah yang sedang dihadapi. Sehingga tidak ada salahnya jika
mengumpulkan kutipan-kutipan yang memiliki sebuah nilai yang bagus, bijaksana,
dan memberi inspirasi. Oiya, sejujurnya ini adalah salah satu saran yang baru
mulai saya terapkan setelah membaca buku ini. Kini, ada sebuah buku yang saya
manfaatkan untuk menulis kalimat-kalimat inspiratif yang saya temukan dari
buku-buku yang saya baca. Dan tentu saja keberadaan quote yang saya tulis di dalam blog ini untuk setiap review buku
yang tulis pun menjadi “bank data” untuk menemukan quote-quote yang menarik.
Nah, itu dia tadi sejumlah bab dari buku ini yang
menarik bagi saya pribadi. Masih banyak bab lain yang tidak kalah menarik
(Ingat, ada 101 bab, lho).
Dan satu nilai plus lain dari buku ini adalah
banyaknya quote dari tokoh-tokoh
besar yang ditulis untuk mendukung penjelasan penulis. Ini akan menjadi
inspirasi yang menarik bagi pembacanya.

“Mulailah melihat masalahmu sebagai anugerah,
buatlah keputusan teguh untuk mengubah kegagalanmu menjadi langkah maju, dan
bersumpahlah untuk mengubah lukamu menjadi kebijaksanaan.” (Hal. 52)

***
“Semua orang yang memasuki hidupmu memiliki sebuah
pelajaran untuk disampaikan dan sebuah kisah untuk diceritakan.” (Hal. 16)
“Setiap detik keberadaanmu di masa lalu kau curi
dari masa depanmu. Setiap menit yang kau habiskan dengan memfokuskan diri pada
masalahmu kau mengambilnya dari menit-menit untuk menemukan solusinya.”(Hal.
26)
 “Robin,
berada di dahan pohon memang berbahaya. Tapi di sanalah semua buahnya berada.”
(Hal. 59)
“Pemimpin-pemimpin tercakap dalam ekonomi baru ini akan
dijabat oleh para pemikir terhebat.” (Hal. 72)
“Nilai moral sesungguhnya dari menetapkan dan
mencapai sasaran bukan terdapat pada imbalan yang kau terima, tapi pada
perubahan dirimu sebagai hasil pencapaian sasaran-sasaranmu.” (Hal. 84)
“Waktu adalah kesetaraan yang hebat dalam hidup.
Kita semua memiliki jatah 24 jam yang sama dalam sehari. Yang membedakan
orang-orang yang menciptakan kehidupan hebat dari pada pecundang adalah
bagaimana mereka menggunakan jam-jam tersebut.” (Hal. 90)
“Kata-kata menyakitkan yang terlontar dalam satu
menit penuh amarah telah merusak banyak persahabatan. Kata-kata itu seperti
anak panah: begitu dilepas, mustahil untuk ditarik kembali. Jadi, pilihlah
kata-katamu dengan hati-hati.” (Hal. 92)
“Menurut pemikiran kuno di Timur, agar dapat
menjalani hidup memuaskan, kau harus melakukan tiga hal: memiliki seorang
putra, menulis buku, dan menanam sebatang pohon.” (Hal. 198)